Perang yang berkepanjangan di Jalur Gaza tak hanya menghantam warga sipil, tetapi juga warisan sejarah yang telah bertahan lebih dari 17 abad. Liputan Al Jazeera Mubasher di situs arkeologi Tel Umm Amer, yang terletak di jantung Gaza bagian tengah, dekat pesisir barat Kamp Nuseirat, memperlihatkan kondisi memprihatinkan salah satu peninggalan sejarah terpenting di Palestina.

Berdiri di antara sisa-sisa dinding batu kuno, koresponden Al Jazeera melaporkan bahwa Tel Umm Amer merupakan salah satu dari sedikit situs arkeologi yang masih bertahan di Gaza, meski puluhan situs lain rusak atau hancur akibat serangan Israel.

Namun, situs ini bukan hanya saksi masa lalu. Selama hampir dua tahun perang, kawasan di sekitar Tel Umm Amer ditetapkan sebagai zona berbahaya, membuat tim arkeolog dan perawatan tidak dapat mengakses lokasi tersebut. Akibatnya, situs bersejarah ini dibiarkan tanpa pengawasan dan pemeliharaan.

Direktur situs, Mohammad Shaheen, menjelaskan bahwa Tel Umm Amer juga dikenal sebagai Situs Santo Hilarion, yang berdiri sejak tahun 329 Masehi atau lebih dari 1.750 tahun lalu. Situs seluas sekitar 14 dunum ini termasuk salah satu peninggalan arkeologi paling penting di Palestina.

Di dalamnya terdapat berbagai struktur utama, mulai dari area selatan yang dulunya digunakan sebagai tempat tinggal pendeta dan biarawan, kawasan diemas yang diyakini sebagai lokasi makam Santo Hilarion, hingga kompleks pemandian kuno, kolam baptis, serta area penginapan dan penerimaan tamu. Keseluruhan struktur ini mencerminkan nilai religius dan historis tinggi yang melekat pada situs tersebut.

Dari Destinasi Budaya ke Kondisi Terbengkalai

Shaheen mengungkapkan bahwa sejak 2017, Tel Umm Amer menjadi fokus program pelestarian Kementerian Pariwisata dan Purbakala Palestina, bekerja sama dengan sejumlah lembaga internasional, termasuk International Aid Organization. Proyek ini melibatkan ahli arkeologi asal Prancis serta pelatihan puluhan lulusan lokal di bidang sejarah, arkeologi, dan arsitektur untuk konservasi mosaik dan struktur batu kuno.

Upaya tersebut berhasil mengubah Tel Umm Amer menjadi destinasi budaya dan wisata, dengan jumlah pengunjung meningkat dari sekitar 3.000–4.000 orang per tahun menjadi lebih dari 12.000 pengunjung sebelum perang pecah.

Namun, perang kembali menghapus seluruh capaian itu. Dengan terhentinya aktivitas dan ditariknya tenaga ahli, sejumlah bagian situs mengalami kerusakan serius, terutama di area pemandian kuno. Getaran ledakan di sekitar lokasi, ditambah erosi, rembesan air hujan, serta pertumbuhan vegetasi liar, menyebabkan kerusakan pada dinding dan lantai mosaik.

“Dibiarkannya situs ini tanpa perawatan adalah bencana nyata,” kata Shaheen, seraya menekankan bahwa peninggalan arkeologi membutuhkan pemeliharaan berkelanjutan agar tidak rusak permanen.

Kekhawatiran Penghapusan Jejak Sejarah

Pengelola situs menegaskan bahwa kerusakan Tel Umm Amer tidak bisa dipisahkan dari pola sistematis penghancuran situs-situs bersejarah di Gaza. Mereka menyebut sejumlah lokasi lain yang mengalami nasib serupa, seperti Qasr al-Basha, Kota Tua Gaza, dan gereja Bizantium, yang ikut rusak dalam perang.

Mereka menyerukan dukungan mendesak dari lembaga internasional dan lokal untuk menyelamatkan Tel Umm Amer dan memastikan kelangsungan warisan sejarah yang tidak hanya milik Palestina, tetapi juga bagian dari memori peradaban manusia.

Sumber: Al Jazeera Mubasher

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here