Jumlah anak yang meninggal akibat kedinginan di Gaza sejak awal musim dingin kini mencapai 10 anak, termasuk bayi Yusuf Abu Hamad yang lahir setelah menunggu 17 tahun. Yusuf meninggal pada usia 6 bulan, meninggalkan keluarga yang kehilangan kebahagiaan yang lama dinantikan.
Puluhan ribu pengungsi hidup dalam kondisi manusiawi yang mengerikan, dengan tenda rapuh, minim perlindungan, dan kekurangan air, makanan, serta obat-obatan. Penutupan perbatasan oleh Israel dan minimnya bantuan internasional membuat krisis ini semakin memburuk.
“Anak ini adalah anugerah dari Allah setelah 17 tahun menunggu. Tapi ia pergi karena dingin yang menusuk dan dehidrasi akibat air limbah,” kata Omar Abu Hamad, ayah bayi Yusuf, yang tinggal dekat saluran pembuangan air di Khan Younis.
Bahkan nenek Yusuf menceritakan: “Tubuhnya membiru karena dingin, lalu ia dibawa ke rumah sakit tapi tak tertolong.” Dokter memastikan penyebab utama kematian adalah cuaca dingin ekstrem dan kontaminasi air limbah.
Sejak Desember, beberapa badai musim dingin telah melanda Gaza. Tenda-tenda pengungsi, satu-satunya tempat tinggal mereka, terbang, bocor, atau tergenang air, sementara rumah mereka sebelumnya hancur akibat agresi Israel selama dua tahun terakhir.
Situasi diperparah karena 90% infrastruktur sipil termasuk lebih dari 700 ribu meter jaringan air dan limbah hancur, menciptakan bencana lingkungan yang mengancam kesehatan publik. Warga sering terkena penyakit kulit dan pencernaan akibat air limbah yang merembes ke tenda dan reruntuhan rumah.
“Krisis ini diperparah karena kekurangan bahan bakar untuk mengoperasikan pompa air dan saluran limbah yang tersisa. Kesehatan masyarakat terancam,” kata pejabat setempat.
Selain itu, Israel belum memenuhi kewajiban perbaikan jaringan air dan sanitasi seperti yang dijanjikan dalam gencatan senjata 10 Oktober 2025, meski agresi yang berlangsung sejak Oktober 2023 telah menewaskan lebih dari 71.000 warga Palestina dan melukai 171.000 lainnya.
Bayi Yusuf menjadi simbol kepedihan musim dingin di tengah krisis kemanusiaan yang terus membayangi Gaza. Dengan musim dingin baru yang diprediksi akan datang, ancaman bagi pengungsi tetap serius, sementara dunia diingatkan untuk meningkatkan bantuan kemanusiaan dan perlindungan dasar bagi warga sipil yang rentan.










