Hingga awal Januari 2026, lebih dari 9.350 tahanan dan narapidana Palestina berada di penjara Israel, menurut laporan lembaga tahanan Palestina. Data ini menunjukkan penahanan tanpa tuduhan dan kondisi yang digambarkan sebagai tidak manusiawi.

Laporan yang dirilis Senin (19/1/2026). Mengacu pada data Palestinian Prisoners Club, Al-Dameer, dan Badan Urusan Tahanan dan Mantan Tahanan PLO, serta pengumuman resmi penjara Israel, menyebutkan bahwa dari jumlah tersebut terdapat 53 tahanan wanita, termasuk dua anak perempuan, dan 350 anak-anak yang ditahan di penjara Megiddo dan Ofer.

Penahanan Tanpa Tuduhan

Sekitar 50% tahanan Palestina ditahan tanpa tuduhan resmi, baik melalui penahanan administratif atau dikategorikan sebagai “pejuang ilegal”.

Laporan mencatat 3.385 tahanan administratif, yang berarti 36% dari total tahanan, dipenjara tanpa pengadilan. Israel menggunakan sistem penahanan administratif (hukum warisan era Inggris) yang memungkinkan warga Palestina ditahan 3–6 bulan, dapat diperpanjang tanpa batas, berdasarkan dokumen rahasia aparat keamanan.

Selain itu, 1.237 tahanan diklasifikasikan sebagai “pejuang ilegal”, termasuk warga Palestina dari Gaza, serta tahanan Arab dari Lebanon dan Suriah.

“Berlanjutnya penahanan administratif dan penahanan tanpa pengadilan menunjukkan kebijakan Israel yang disengaja dan bertentangan dengan hukum internasional mengenai hak tahanan,” kata laporan itu.

“Kejahatan yang Sempurna”

Hamas menilai kondisi tahanan Palestina sebagai tidak manusiawi dan menyebutnya “kejahatan yang sempurna”, sementara komunitas internasional tetap diam.

Organisasi ini menyoroti bahwa Israel terus menyembunyikan jumlah tahanan Gaza dan menutup informasi tentang nasib mereka, bahkan di tengah perang yang dimulai Oktober 2023.

Lembaga hak asasi menambahkan, sejak konflik itu, penyiksaan, kelaparan, dan kelalaian medis meningkat, terutama bagi tahanan Gaza. Mantan tahanan yang diwawancara melaporkan penindasan fisik, kelaparan, dan trauma psikologis akibat pengalaman penahanan yang berat.

“Banyak tahanan mengalami kekerasan dan kekurangan makanan, dengan bekas penyiksaan terlihat jelas di tubuh mereka, dan beberapa mengalami gangguan mental akibat perlakuan yang diterima selama penahanan,” kata laporan itu.

Sumber: Al Jazeera & Anadolu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here