Sebuah analisis The New York Times mengungkapkan bahwa Israel terus melakukan penghancuran bangunan di Jalur Gaza tanpa jeda berarti, bahkan setelah perjanjian gencatan senjata ditandatangani. Berdasarkan citra satelit terbaru dari perusahaan Planet Labs, tercatat lebih dari 2.500 bangunan dihancurkan sejak kesepakatan itu berlaku.
Dalam laporan yang ditulis Samuel Granados, Adam Rasgon, Iyad Abuheweila, dan Sangana Varghese, New York Times menyebut Israel mengklaim penghancuran tersebut sebagai bagian dari operasi untuk memusnahkan jaringan terowongan dan rumah-rumah yang disebut telah dipasangi bahan peledak.
Kesepakatan gencatan senjata itu sendiri ditandatangani setelah perang yang berlangsung selama dua tahun dan meninggalkan kehancuran masif di Gaza. Bagi warga Palestina, perjanjian tersebut sempat memunculkan harapan akan masa jeda kekerasan dan peluang untuk memulihkan diri, setelah serangan udara intensif merusak sebagian besar kawasan permukiman.
Namun, realitas di lapangan menunjukkan arah berbeda.
Kementerian Kesehatan Gaza, Senin (12/1/2026), melaporkan jumlah warga Palestina yang syahid akibat genosida Israel sejak Oktober 2023 telah mencapai 71.419 orang, sementara korban luka menembus 171.318 orang.
Penghancuran Berlanjut
Sesuai kesepakatan, pasukan Israel ditarik ke belakang sebuah garis pemisah di dalam wilayah Gaza yang dikenal sebagai “garis kuning”. Penarikan ini tetap membuat Israel menguasai sekitar setengah dari total wilayah Gaza.
Data yang dianalisis New York Times menunjukkan sebagian besar penghancuran bangunan terjadi di area-area tersebut. Namun, citra satelit juga mengungkap puluhan bangunan dihancurkan di luar garis itu, termasuk di wilayah yang seharusnya berada di bawah kendali Hamas, tempat Israel sebelumnya berjanji menghentikan operasi militernya.
Kawasan Shujaiya, di timur Kota Gaza, menjadi contoh paling mencolok. Citra satelit setelah penandatanganan kesepakatan masih memperlihatkan sisa-sisa bangunan yang berdiri. Beberapa bulan kemudian, gambar lanjutan menunjukkan wilayah itu berubah menjadi hamparan hampir kosong, dengan bangunan-bangunan rata tanah hingga ratusan meter di luar garis pemisah.
New York Times mencatat, dalam sejumlah kasus, penghancuran bahkan menjangkau hingga sekitar 900 kaki di luar area kendali Israel yang diumumkan secara resmi.
Menurut para pengamat Palestina, penghancuran ini bukan sekadar dampak operasi militer terbatas. Lingkungan permukiman dihancurkan secara menyeluruh, tanpa mempertimbangkan nasib warga maupun hak atas properti mereka, terutama karena sebagian besar penduduk sudah lebih dulu mengungsi akibat perintah evakuasi dan pertempuran.
Pejabat Israel, tulis New York Times, membela kebijakan tersebut sebagai bagian dari rencana “pelucutan senjata Gaza”. Mereka mengklaim telah menghancurkan jaringan terowongan luas yang digunakan Hamas untuk menyimpan senjata, menahan tawanan, dan melancarkan serangan.
Namun, pandangan ini dipertanyakan. Sejumlah warga Palestina dan analis menilai skala penghancuran yang terjadi jauh melampaui alasan keamanan.
Data Perserikatan Bangsa-Bangsa menunjukkan bahwa hingga 11 Oktober, lebih dari 80 persen bangunan di Gaza telah rusak atau hancur. Bagi warga yang terusir dari kampung halamannya, kehilangan itu bukan hanya soal rumah, tetapi juga tentang lenyapnya jejak memori kolektif yang mereka miliki.
Tuduhan Pelanggaran Kesepakatan
Di sisi lain, Hamas menuduh Israel melakukan pelanggaran terang-terangan terhadap perjanjian gencatan senjata. Penghancuran rumah dan properti sipil, menurut Hamas, merupakan tindakan permusuhan yang tidak dapat dibenarkan dalam situasi gencatan senjata.
Militer Israel menanggapi tuduhan tersebut dengan menyatakan bahwa penghancuran tidak dilakukan secara acak. Sebagian bangunan, klaim mereka, runtuh akibat peledakan terowongan yang melintasi garis penarikan pasukan.
Namun, New York Times menegaskan bahwa pembelaan tersebut belum meredakan kontroversi. Sejumlah pihak memperingatkan, keberlanjutan penghancuran di Gaza berpotensi menggagalkan peluang stabilitas jangka panjang dan semakin memperumit fase pascaperang di wilayah yang sudah porak-poranda itu.
Sumber: New York Times










