Di Khan Yunis, selatan Gaza, Sami Abu Sa’adeh tinggal bersama ibunya yang sakit dalam sebuah gerbong pengungsian reyot, yang hampir tak mampu melindungi mereka dari panas, dingin, dan hujan. Ibunya menderita penyakit jantung, tekanan darah tinggi, diabetes, gangguan saraf, dan asma.
Untuk mengunjungi Rumah Sakit Nasser yang hanya beberapa menit dari tempat tinggalnya, mereka membutuhkan biaya 60 shekel, jumlah yang jauh melampaui kemampuan mereka di tengah kemiskinan dan blokade.
Alat Uap Buatan Tangan
Sami menceritakan dengan nada cemas, “Setiap hari saya melihat ibu menderita, merasa tak berdaya menghadapi penyakit yang merenggut tubuhnya. Saya memutuskan membuat alat uap manual untuknya. Selama sembilan bulan terakhir, kami menggunakannya dua hingga tiga kali sehari. Uap ini membantu membuka saluran pernapasan dan mengurangi sesak, meski hanya sementara. Semua ini demi agar ia bisa bernapas dan melanjutkan hidupnya di tangan saya.”
Ibunya menambahkan dengan suara pelan tapi penuh kesedihan, “Setiap hari dada dan kaki saya terasa sakit, jantung berdebar kencang. Kadang bernapas begitu sulit, dan saya tak sabar menunggu perawatan di rumah sakit, tetapi biaya dan waktu seringkali tak memungkinkan, membuat saya takut tak bisa kembali hidup.”
Ribuan Pasien Menunggu
Sami menekankan kondisi kritis pasien lain di Gaza, “Kami melihat ribuan pasien lain menunggu perawatan, obat-obatan, atau kesempatan untuk pergi ke luar guna menyelamatkan hidup mereka. Namun pembatasan Israel dan keterbatasan sumber daya membuat setiap detik menjadi pertaruhan nyawa. Setiap napas yang hilang mengingatkan kita bahwa penderitaan ini bukan milik kami saja.”
Krisis Konsumabel Laboratorium
Kementerian Kesehatan Gaza juga memperingatkan krisis serius akibat kekurangan konsumabel laboratorium, yang berdampak langsung pada kemampuan rumah sakit memberikan perawatan: 75% bahan kimia untuk uji laboratorium tidak tersedia, sementara 90% stok pemeriksaan darah habis. Layanan diagnostik dasar untuk pasien endokrin, kanker, transplantasi ginjal, dan uji bakteri terhenti.
“Jika kondisi ini berlanjut, diagnosis pasien dan operasi dapat terhambat,” peringatan kementerian.
Hambatan Respons Kemanusiaan
Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA) menegaskan bahwa kekurangan bahan bakar dan penutupan jalan memperlambat respons kemanusiaan di Gaza. Pengiriman bahan bakar yang dilanjutkan belum menyelesaikan masalah, karena hambatan akses, kapasitas penyimpanan terbatas, dan antrean panjang menambah biaya dan menunda bantuan vital.
Kekurangan Memicu Kematian
Pusat Hak Asasi Manusia Gaza mencatat 10 ribu warga Palestina meninggal karena tidak mendapatkan perawatan, termasuk 1.000 orang yang dicegah melakukan perjalanan medis dalam 25 bulan terakhir. Ribuan pasien hidup dalam perlombaan melawan waktu di tengah runtuhnya sistem kesehatan, kurangnya alat dan obat, serta penutupan perbatasan Rafah.
“Angka-angka ini menegaskan kematian 10 ribu pasien, termasuk wanita dan anak-anak, akibat serangan sistematis terhadap layanan kesehatan selama dua tahun agresi Israel. Dunia harus segera campur tangan agar Israel membuka perbatasan dan memastikan akses medis,” tegas pusat tersebut.
Sumber: Al Jazeera










