Wilayah Tepi Barat kembali mengalami eskalasi kekerasan pada Kamis, ditandai dengan pengusiran paksa keluarga-keluarga Badui di utara Ariha (Jericho), serangan pemukim Israel yang menyebabkan korban luka dan pembakaran kendaraan di barat Nablus, serta rangkaian penyerangan dan penggerebekan di sejumlah daerah lain, termasuk Masafer Yatta, Salfit, Tubas, dan Tulkarem.
Sekitar 20 keluarga Badui terpaksa meninggalkan permukiman mereka di bagian utara komunitas Shalal Al-Auja, utara Ariha, menyusul meningkatnya serangan pemukim yang disertai ancaman langsung terhadap keselamatan warga.
Koordinator Umum Organisasi HAM Al-Baidar, Hasan Mulihat, menjelaskan bahwa keluarga yang terusir berasal dari klan Al-Amarin (Ka’abneh). Mereka dipaksa meninggalkan rumah dan sumber penghidupan karena tidak adanya perlindungan, di tengah tekanan dan intimidasi berkelanjutan yang bertujuan mengosongkan wilayah tersebut dari penduduk aslinya.
“Apa yang terjadi di Shalal Al-Auja merupakan bagian dari kebijakan pengusiran paksa yang terencana terhadap komunitas Badui di Lembah Yordan. Ini pelanggaran serius terhadap hukum humaniter internasional dan hak asasi manusia,” kata Mulihat.
Saat ini, sekitar 750 ribu pemukim Israel tinggal di ratusan permukiman ilegal di Tepi Barat, termasuk sekitar 250 ribu di Al-Quds Timur. Serangan harian terhadap warga Palestina kerap dilakukan dengan tujuan mendorong pengusiran paksa.
Korban Luka dan Kendaraan Dibakar
Di barat Nablus, tiga warga Palestina terluka dan sejumlah kendaraan dibakar dalam serangan pemukim terhadap sebuah persemaian tanaman di Desa Deir Sharaf. Kantor Berita Palestina melaporkan, pemukim menyerang Persemaian Al-Junaidi dan menganiaya warga di lokasi tersebut.
Seorang korban berusia 65 tahun mengalami patah tangan, sementara dua lainnya menderita luka dan memar. Ketiganya dilarikan ke rumah sakit. Pemukim juga membakar beberapa kendaraan di area persemaian, menyebabkan kerusakan berat.
Serangan serupa terjadi di Masafer Yatta, selatan Al-Khalil (Hebron), di mana pemukim menyerang warga dan merusak sejumlah telepon genggam. Di Salfit, pemukim yang dilindungi tentara Israel menerobos Desa Kafr Al-Dik dan menyebar di kawasan Al-Fawara, dekat lahan pertanian warga.
Di Tulkarem, pemukim dilaporkan menyerang kendaraan warga Palestina di pinggiran Desa Beit Lid, timur kota. Sementara itu, di Tubas, pasukan Israel menggerebek Wadi Al-Far’a, mendirikan pos pemeriksaan dadakan, dan menggeledah sebuah bangunan hunian.
Pembongkaran dan Perusakan Lahan
Masih di Masafer Yatta, pasukan Israel membongkar sebuah bangunan pertanian dan meratakan lahan di Desa Beirin. Kepala Dewan Desa, Farid Barqan, menyebutkan bahwa sebuah bangunan milik warga bernama Nahidh Al-Rajabi dihancurkan, bersama tembok penahan milik Said Abu Hadid. Lahan pertanian milik Izz Abu Hamad juga dirusak, termasuk tanaman dan pepohonan di dalamnya.
Di Ramallah, pasukan Israel menutup akses masuk sejumlah desa dan kota di bagian utara dan barat wilayah tersebut, serta memperketat langkah-langkah militer.
Rangkaian serangan ini merupakan bagian dari eskalasi luas di Tepi Barat sejak dimulainya perang Israel di Gaza pada Oktober 2023. Sejak saat itu, serangan tentara Israel dan pemukim telah menyebabkan lebih dari 1.100 warga Palestina syahid, sekitar 11 ribu lainnya terluka, serta lebih dari 21 ribu orang ditangkap.
Sumber: Al Jazeera










