Dua anak di Jalur Gaza dilaporkan meninggal dunia akibat cuaca dingin ekstrem. Kementerian Kesehatan Gaza menyebut, dengan kematian terbaru ini, jumlah anak yang syahid karena suhu dingin sejak awal musim dingin meningkat menjadi enam orang. Kondisi ini terjadi di tengah peringatan akan datangnya badai kutub yang berpotensi memicu bencana kemanusiaan lebih luas.

Juru bicara Pertahanan Sipil Gaza, Mahmoud Basal, memperingatkan bahwa sistem tekanan rendah kutub yang mulai melanda sejak Selasa mengancam sekitar 1,5 juta warga Palestina, mayoritas di antaranya hidup di tenda-tenda pengungsian. Ia menyebut dampak cuaca ekstrem kali ini berpotensi “sangat katastrofik” bagi ribuan keluarga yang sudah hidup dalam kondisi memprihatinkan.

Selain korban akibat dingin, Pertahanan Sipil Gaza juga melaporkan tiga warga meninggal dunia akibat runtuhnya sebagian bangunan yang sebelumnya rusak karena perang, dipicu hujan lebat dan angin kencang.

“Ini adalah sistem cuaca yang sangat berbahaya. Dampaknya bisa berakhir dengan tragedi nyata, baik korban jiwa, runtuhnya bangunan, maupun tenggelamnya tenda-tenda pengungsi,” ujar Basal kepada Anadolu Agency.

Dia kembali menyerukan kepada komunitas internasional dan organisasi kemanusiaan agar “menyadari besarnya bencana dan memikul tanggung jawab untuk menghentikan penderitaan serta menyediakan kebutuhan dasar warga sipil dengan cara yang menjaga martabat kemanusiaan.”

Sementara itu, pengamat cuaca Palestina, Leth al-Allami, menjelaskan bahwa wilayah Palestina, termasuk Gaza, terdampak sistem cuaca dingin dan berangin sejak Senin malam hingga Selasa malam.

Sistem ini disertai massa udara kutub yang sangat dingin, dengan suhu turun drastis, angin kencang (terutama di wilayah pesisir) serta hujan lebat yang berpotensi disertai petir dan hujan es. Ia memperingatkan, kecepatan angin menjadi ancaman serius bagi tenda-tenda pengungsi.

Di sisi lain, Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus menyatakan bahwa lebih dari 18.500 warga Gaza, termasuk sekitar 4.000 anak, masih membutuhkan evakuasi medis mendesak. Tedros mendesak lebih banyak negara membuka akses bagi pasien dari Gaza dan melanjutkan evakuasi medis, termasuk ke Tepi Barat dan Al-Quds Timur.

WHO mencatat, dalam sepekan terakhir, pihaknya mendukung evakuasi 18 pasien dan 36 pendamping dari Gaza ke Yordania untuk mendapatkan perawatan khusus, termasuk bagi korban luka berat dan penyakit serius.

Situasi ini berlangsung di tengah dampak agresi Israel yang didukung Amerika Serikat sejak 7 Oktober 2023, yang telah menewaskan lebih dari 71 ribu warga Palestina dan melukai lebih dari 171 ribu lainnya, mayoritas anak-anak dan perempuan. Meski tahap awal gencatan senjata telah diumumkan, pembatasan ketat terhadap masuknya bantuan pangan, obat-obatan, perlengkapan medis, dan kebutuhan hunian masih terus diberlakukan, membuat sekitar 2,4 juta warga Gaza bertahan dalam kondisi kemanusiaan yang semakin genting.

Sumber: Al Jazeera

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here