Gema konfrontasi di perairan Mediterania kembali memanas. Armada Global Sumud Flotilla, sebuah koalisi sipil internasional yang membawa bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza, dilaporkan mengalami pembajakan oleh otoritas Israel di wilayah perairan internasional. Para aktivis menyebut tindakan ini sebagai “pirasasi laut”, sementara Tel Aviv tetap pada posisi menutup akses apa pun menuju kantong wilayah yang diblokade tersebut.
Dror Feiler (atau perwakilan terkait), juru bicara armada, mengonfirmasi bahwa 22 dari total 55 kapal yang tergabung dalam misi ini telah dibajak. Bagi koalisi, pembajakan ini refleksi dari kecemasan Israel terhadap skala gerakan sipil global yang kian membesar.
“Pencegatan di laut lepas ini ilegal. Ini adalah bentuk bajak laut yang dipelihara negara,” tegasnya. Ia mendesak pemerintah dunia untuk tidak bungkam dan segera menjamin jalur aman bagi para relawan kemanusiaan.
500 Mil dari Daratan
Detail mengenai operasi ini menunjukkan eskalasi yang tak biasa. Pasukan Israel dilaporkan menyergap kapal-kapal sipil ini pada jarak lebih dari 500 mil laut dari bibir pantai Gaza, titik yang berada jauh di luar yurisdiksi perairan teritorial maupun zona tambahan.
Modus operasinya seragam: sabotase mesin kapal, gangguan frekuensi komunikasi (jamming), hingga penahanan paksa para aktivis. Beberapa kapal bahkan dilaporkan dibiarkan terombang-ambing di laut lepas meski prakiraan cuaca menunjukkan badai besar akan segera datang.
Youssef Ajissa, Ketua Komite Internasional untuk Memutus Pengepungan Gaza sekaligus anggota parlemen Aljazair, menyebut insiden ini sebagai “terorisme negara yang paripurna.” Sekitar 175 aktivis dikabarkan telah digiring ke wilayah pendudukan, sementara kapal-kapal lainnya yang tersisa mencoba merapat ke perairan Yunani untuk melakukan konsolidasi ulang.
“Tujuannya jelas: mematahkan kemauan para relawan dan memastikan tidak ada saksi mata yang bisa melihat langsung skala kehancuran di Gaza,” ujar Ajissa dalam keterangannya.
Diplomasi yang Senyap dan Putusnya Kontak
Ketidakpastian menyelimuti nasib para relawan yang ditahan. Marika Stam, koordinator delegasi Belanda, melaporkan bahwa komunikasi dengan kru di atas kapal terputus total sesaat setelah muncul laporan mengenai intervensi militer.
Hingga laporan ini disusun, sikap resmi dari negara-negara asal relawan, termasuk pemerintah Belanda, masih cenderung abu-abu. Meski beberapa anggota parlemen secara individu telah membangun kontak dengan para peserta misi, belum ada kecaman diplomatik resmi yang mampu menekan Israel untuk melepaskan para tawanan.
Meski ditekan secara fisik dan komunikasi, misi ini menolak untuk karam. Dari 55 kapal yang berangkat, 31 di antaranya dilaporkan masih terus berlayar dengan rencana cadangan. Di daratan, lebih dari 200 aksi solidaritas terus digalang untuk memastikan bahwa meski kapal mereka dicegat, narasi mengenai blokade Gaza tidak akan tenggelam di tengah laut.










