TOKYO — Jarak geografis ribuan mil dan pergantian tahun terbukti tak mampu menyurutkan langkah Yusuke Furusawa. Aktivis kemanusiaan asal Jepang ini konsisten menggelar aksi demonstrasi seorang diri (solo protest) di jalanan Kota Tokyo, mempertahankan komitmen moralnya setiap hari tanpa putus selama 997 hari berturut-turut.
Nama Furusawa kini mencuat secara masif, baik di ruang publik domestik Jepang maupun di jagat media sosial global. Ia dikenal sebagai salah satu simbol paling lantang yang menyuarakan dukungan bagi kemerdekaan Palestina sekaligus mengutuk keras perang pemusnahan massal (genosida) yang melanda Jalur Gaza.
Hebatnya, Furusawa tetap bergeming menetap di aspal jalanan ketika gelombang protes massa di berbagai belahan dunia mulai kehilangan ritme dan momentumnya. Bagi Furusawa, motor penggerak utamanya adalah kewajiban mutlak untuk membela nilai kemanusiaan dan menjaga martabat manusia yang sedang diinjak-injak.
Menyusup ke Jantung Keramaian Tokyo
Agar suaranya terdengar efektif, Furusawa secara taktis memilih titik-titik paling sibuk dan vital di pusat metropolitan Tokyo, terutama di area sekitar stasiun kereta api yang padat pelaju (commuter). Siasat ini ia lakukan agar pesan yang dibawanya bisa mengetuk kesadaran sebanyak mungkin warga Jepang yang melintas, sekaligus menjaga isu Gaza tetap hidup dalam ingatan kolektif masyarakat.
Aktivis Jepang ini rajin mendokumentasikan aksi gigihnya melalui akun pribadi di platform X. Dalam berbagai unggahan, ia tampak berdiri kokoh memegang papan tuntutan yang ditulis dalam beberapa bahasa, di antaranya:
- “Free Palestine” (Bebaskan Palestina)
- “Stop Genocide in Gaza” (Hentikan Genosida di Gaza)
- “Ceasefire Now” (Gencatan Senjata Sekarang)
Dalam sebuah wawancara terdahulu bersama Kantor Berita Sanad (jaringan Al Jazeera), Furusawa menegaskan akar komitmennya yang mendalam.
“Saya memulai aksi nyata untuk Gaza ini sejak 7 Oktober 2023. Saya terus bergerak menyusuri jalanan karena saya percaya, tugas saya sebagai manusia adalah memprotes segala bentuk penindasan terhadap kemanusiaan dan hak asasi manusia. Saya sangat membenci rasialisme. Saya akan terus berdemonstrasi sampai Palestina merdeka,” tegas Furusawa.
Menjadi Simbol Inspirasi Global
Keteguhan Furusawa yang telah berjalan bertahun-tahun selama masa perang ini memantik gelombang simpati yang luas di kalangan aktivis pro-Palestina internasional. Di lapangan, tak sedikit pejalan kaki di Tokyo yang sengaja berhenti untuk menyapa, mengambil foto bersama, lalu membagikannya ke jejaring media sosial sebagai bentuk penghormatan atas konsistensinya.
Aksi tunggal ini berjalan di tengah situasi Gaza yang kian memprihatinkan. Data terbaru dari Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza mengonfirmasi bahwa korban jiwa akibat perang sejak Oktober 2023 telah menembus 73.000 syuhada gugur dan lebih dari 173.500 orang luka-luka.
Di tengah kehancuran total dan krisis kelaparan akut yang mencengkeram akibat blokade militer, potret seorang pria Jepang yang berdiri sendirian di sudut ramai Tokyo menjadi pengingat visual yang kuat: bahwa nurani kemanusiaan tidak mengenal batas paspor maupun teritorial.









