Gelombang kepulangan warga Palestina ke Gaza terus berlangsung. Namun, di saat yang sama, citra satelit menunjukkan Israel memperkuat kehadiran militernya dengan membangun pangkalan baru di Khan Younis dan wilayah utara Gaza.
Sebanyak 21 warga Palestina yang sebelumnya tertahan di Mesir kembali ke Gaza melalui perlintasan Rafah sebagai bagian dari gelombang keempat pemulangan. Perjalanan dari Al Arish menuju Gaza memakan waktu berjam-jam akibat pembatasan dan hambatan ketat yang diberlakukan otoritas Israel di perlintasan tersebut.
Rafah mulai dibuka kembali awal Februari, untuk pertama kalinya dalam hampir dua tahun. Israel menyebut pembukaan terbatas itu sebagai bagian dari pengaturan perjalanan warga Palestina keluar-masuk Gaza. Namun praktik di lapangan menunjukkan mobilitas tetap berada di bawah kendali ketat militer.
Pangkalan Baru di Tengah Gencatan
Meski fase kedua perjanjian gencatan senjata telah berlaku, citra satelit memperlihatkan aktivitas militer Israel yang justru meningkat. Di selatan Gaza, tepatnya di Khan Younis, Israel membangun pangkalan militer baru di area yang sebelumnya merupakan lahan terbuka dekat garis penyangga.
Citra satelit sebelum 2 Desember tahun lalu menunjukkan wilayah tersebut tanpa bangunan militer, tanpa tanggul tanah, dan tanpa kehadiran kendaraan tempur. Namun gambar yang diambil setelah 1 Februari menunjukkan perubahan drastis: kendaraan militer, fasilitas lapangan untuk pasukan, serta tanggul tanah yang mengelilingi area tersebut, menandakan penempatan militer permanen.
Citra terbaru juga memperlihatkan pembangunan pangkalan kedua yang berjarak sangat dekat dari lokasi pertama, masih dalam radius garis penyangga. Indikasi ini memperkuat dugaan konsolidasi kehadiran militer Israel di wilayah selatan Gaza.
Di bagian utara Gaza, citra satelit memperlihatkan titik militer aktif. Perbandingan dengan gambar yang diambil pada 2 Februari menunjukkan pergerakan kendaraan pengangkut dan peralatan logistik, mengindikasikan aktivitas operasional yang berlanjut.
Tekanan Amerika soal Rafah
Di tengah dinamika tersebut, tekanan diplomatik mulai mengemuka. Harian Haaretz melaporkan Amerika Serikat mendesak Israel memperluas fungsi perlintasan Rafah agar tidak hanya melayani pergerakan orang, tetapi juga arus barang dan bantuan kemanusiaan.
Sumber yang dikutip Haaretz menyebut ketergantungan pada perlintasan Karem Abu Salem sebagai satu-satunya jalur barang justru menghambat upaya rekonstruksi Gaza. Menurut sumber itu, pembukaan Rafah untuk logistik dan bantuan menjadi kebutuhan mendesak.
Namun, belum jelas sampai kapan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dapat mempertahankan penolakan terhadap perluasan fungsi perlintasan tersebut.
Kepulangan warga Palestina dan pembangunan pangkalan militer berjalan beriringan. Di satu sisi, Gaza kembali dihuni. Di sisi lain, kendali dan kehadiran militer Israel justru mengeras—bahkan di bawah payung gencatan senjata.
Sumber: Al Jazeera










