Di depan tumpukan besar penghalang tanah yang ditempatkan buldoser Israel di gerbang Rumah Sakit Jenin, Tepi Barat utara, Umm Yazan Al-Sa’adi (63 tahun) berusaha melewatinya untuk mencapai sisi lain yang mengarah ke Kamp Pengungsi Jenin. Dengan langkah berat dan usaha berulang kali melewati tanah yang basah akibat hujan, ia akhirnya berhasil menyeberang, mendekati pintu masuk kamp yang telah dihancurkan. Ia ingin kembali ke rumahnya yang telah ia tinggalkan selama empat bulan sejak ketegangan antara aparat keamanan Otoritas Palestina dan pejuang di kamp meningkat pada akhir November tahun lalu.

Menyelamatkan Kenangan

Umm Yazan adalah salah satu dari banyak warga yang diberitahu bahwa rumah mereka akan dihancurkan oleh pasukan Israel, yang berencana merobohkan 66 gedung di lima distrik kamp. Warga berusaha kembali ke rumah mereka sebelum kehancuran terjadi, mengumpulkan barang berharga, dokumen penting, dan kenangan keluarga mereka. Dengan suara penuh emosi, Umm Yazan menyatakan bahwa jika rumahnya dihancurkan, maka tidak ada lagi yang tersisa bagi mereka di kamp. Ia menangis untuk pertama kalinya sejak terusir, mengenang bagaimana keluarganya terpecah menjadi empat lokasi pengungsian berbeda di Jenin.

Penghancuran Terbesar

Sejak Kamis pagi, Israel mengerahkan lebih banyak pasukan ke dalam Kamp Jenin untuk menjalankan rencana penghancuran ini. Menurut pemerintah kota Jenin, Israel berencana menghancurkan bangunan-bangunan tersebut guna membangun kantor layanan serta memperlebar jalan-jalan di kamp, sejalan dengan operasi “Tembok Besi” yang bertujuan mengubah geografi kamp secara keseluruhan. Penghancuran ini akan berdampak pada lebih dari 100 rumah, karena setiap bangunan setidaknya memiliki dua unit tempat tinggal.

Izin Perpisahan

Komite Layanan Kamp Jenin telah meminta warga yang rumahnya akan dihancurkan untuk mendaftarkan nama mereka guna memperoleh izin memasuki rumah mereka sebelum penghancuran dimulai. Warga seperti Su’ad Abu Atiyah masih belum tahu apakah rumah mereka termasuk dalam daftar, sementara yang lain berusaha mendapatkan kesempatan terakhir untuk mengucapkan selamat tinggal kepada rumah mereka.

Sejauh ini, belum jelas apakah Israel akan menghancurkan bangunan dengan peledak seperti yang terjadi di distrik Damaj dan Hawashin, atau dengan buldoser seperti di Kamp Nur Shams di Tulkarm. Namun, satu hal yang pasti: ribuan warga telah menjadi pengungsi, dengan sekitar 21.000 orang mengungsi dari Kamp Jenin, sementara infrastruktur kamp hancur hampir sepenuhnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here