Gaza — Sejumlah warga Palestina syahid dan lainnya terluka akibat runtuhnya sebuah rumah di Kamp Pengungsi Maghazi, Gaza tengah, pada Senin. Bangunan tersebut diketahui sebelumnya telah mengalami kerusakan parah akibat serangan Israel, sebelum akhirnya roboh dan menelan korban.
Di waktu yang hampir bersamaan, pasukan pendudukan Israel kembali melancarkan serangkaian serangan di berbagai wilayah Jalur Gaza. Di selatan, artileri Israel menembaki kawasan penempatan militernya di selatan Khan Younis, disertai aksi peledakan sejumlah bangunan. Sementara itu, tembakan artileri juga menyasar wilayah timur Kamp Jabalia di Gaza utara.
Di Kota Gaza, militer Israel melanjutkan praktik penghancuran sistematis dengan meledakkan bangunan-bangunan hunian di kawasan Zeitoun, bagian timur kota.
Aksi peledakan ini berlangsung di tengah kegiatan hiburan dan dukungan psikososial bagi anak-anak di salah satu pusat pengungsian yang berada dekat garis pemisah (garis kuning). Ledakan keras memicu kepanikan dan ketakutan mendalam di kalangan anak-anak dan perempuan.
Tak hanya itu, pesawat nirawak Israel dilaporkan menjatuhkan bahan peledak dalam kontainer ke sejumlah rumah di luar zona penempatan pasukan Israel di timur Kota Gaza. Wilayah Zeitoun dan Shuja’iyya pun terus digempur tembakan artileri dan senjata otomatis dari posisi militer Israel.
Derita Kemanusiaan Berlapis
Di tengah eskalasi militer tersebut, krisis kemanusiaan di Gaza kian menganga. Ketua Jaringan Organisasi Masyarakat Sipil Palestina di Gaza, Amjad Shawa, menyebut sekitar 900 ribu pengungsi saat ini bertahan hidup dalam kondisi sangat memprihatinkan di tenda-tenda yang rapuh.
Dalam keterangannya, ia menegaskan bahwa tenda bukan solusi bagi krisis pengungsian yang telah berlangsung lebih dari dua tahun.
Situasi ini terjadi di tengah mandeknya implementasi kesepakatan gencatan senjata.
Padahal, pada 29 September 2025, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan rencana perdamaian Gaza yang mencakup 20 poin, mulai dari pembebasan tawanan Israel, gencatan senjata, hingga penarikan pasukan Israel dan pembentukan pemerintahan teknokrat dengan pengawasan internasional.
Tahap pertama kesepakatan tersebut mulai berlaku pada 10 Oktober 2025. Namun hingga kini, Israel dinilai terus melanggar sejumlah ketentuan dan menunda masuk ke tahap berikutnya.
Kesepakatan itu sejatinya diharapkan mengakhiri perang yang telah berlangsung sejak 8 Oktober 2023, yang menewaskan lebih dari 71 ribu warga Palestina dan melukai sekitar 171 ribu lainnya, mayoritas perempuan dan anak-anak.
Akan tetapi, rentetan serangan, penghancuran, dan blokade ketat masih terus membayangi kehidupan warga Gaza, meninggalkan luka kemanusiaan yang belum menemukan ujungnya.
Sumber: Al Jazeera










