Gaza — Di Kamp Al-Taawun dekat lapangan Al-Yarmouk, momen sederhana menyiapkan makanan berubah menjadi tragedi kemanusiaan. Sebuah kebakaran hebat melahap tiga tenda pengungsi yang rapuh, menewaskan anggota keluarga Abu Al-Khair, termasuk seorang anak, sementara beberapa lainnya, termasuk ayah, kritis di ICU.
Kebakaran terjadi saat mereka menyalakan api untuk memasak di tenda-tenda darurat yang terbuat dari nilon dan kain mudah terbakar, tanpa listrik atau gas.
Kondisi ekstrem ini dipaksa mereka jalani setelah terpaksa mengungsi ke lokasi yang kumuh di dekat tempat pembuangan sampah, di tengah tumpukan limbah dan lingkungan tidak layak huni.
Saksi mata menjelaskan, api menyambar begitu cepat sehingga nyaris tidak ada waktu menyelamatkan diri.
Kekurangan gas dan kontainer memaksa warga menyalakan api di dalam tenda, menjadikan setiap percikan nyala ancaman langsung bagi keselamatan.
Bahkan seorang warga menuturkan, kebakaran ini dipicu ledakan botol minyak saat menyalakan api untuk anak-anaknya.
“Korban hanyalah anak-anak dan perempuan yang tak bersalah, hanya karena hidup di tenda dari nilon dan karton,” ujarnya sambil mendesak bantuan mendesak berupa gas dan kontainer.
Anak-anak yang menyaksikan peristiwa itu menceritakan ketakutan dan trauma, khawatir kebakaran serupa bisa terjadi di tenda mereka atau tetangga.
Para perempuan menambahkan, kekurangan penerangan, bahan bakar, dan fasilitas dasar membuat mereka tetap menyalakan api di malam hari untuk memasak atau menerangi tenda, meski risiko kebakaran selalu mengintai.
Penduduk kamp menekankan, insiden ini bukan kasus terisolasi, melainkan cerminan kondisi manusiawi yang sangat berat bagi pengungsi di Gaza. Mereka mendesak masuknya kontainer, pasokan gas, dan bantuan dasar secara mendesak, untuk melindungi anak-anak dan keluarga dari tragedi serupa.
Saat ini, ratusan ribu warga Gaza hidup di tenda dan pusat pengungsian sementara, banyak di antaranya tanpa perlindungan dasar, menyusul kehancuran masif akibat perang Israel yang memaksa pengungsian paksa. Dengan tenda yang rapuh, tanpa listrik dan bahan bakar, risiko kebakaran tetap menjadi ancaman nyata setiap hari.
Sumber: Al Jazeera










