Serangan pemukim Israel di Tepi Barat kian meluas dengan pola yang makin seragam: kekerasan, pembakaran, lalu pengosongan paksa. Di tengah suasana Idulfitri yang seharusnya menjadi ruang jeda, warga Palestina justru kembali berhadapan dengan gelombang serangan yang mengubah perayaan menjadi kepanikan.
Di hari kedua Idulfitri, warga Desa Funduqomiya, selatan Jenin, berusaha menjalani momen sederhana bersama keluarga. Namun tak jauh dari sana, dari arah permukiman Homesh yang berjarak sekitar satu kilometer, ratusan pemukim bergerak menuju wilayah selatan desa.
Lebih dari 200 orang dilaporkan terlibat. Serangan berlangsung cepat, memecah suasana malam yang semula tenang.
Rumah Dibakar Saat Penghuni Berpotensi Terlelap
Hasan Al-Zaabi tak berada di rumah saat kejadian. Ia sedang bersilaturahmi ketika menerima kabar singkat yang mengubah segalanya: rumahnya dibakar.
Menurut penuturannya, pemukim naik ke atap, merusak sebagian genteng, lalu melemparkan benda terbakar ke dalam salah satu ruangan. Api dengan cepat menjalar, menghanguskan isi rumah dan memecahkan jendela akibat panas.
Ia menyebut serangan itu sebagai upaya pembunuhan yang disengaja.
“Mereka tahu ini waktu orang beristirahat. Sangat mungkin ada penghuni di dalam,” katanya.
Rumah itu kini tinggal puing. Bagi Hasan, kerugian bukan hanya materi. Ia mengaku kehilangan rasa aman. Istri dan anak-anaknya terpaksa mengungsi ke rumah keluarga, sementara ia berpindah ke tempat lain.
Serangan Serentak, Korban Bertambah
Tak jauh dari sana, rumah Ibrahim Al-Zaabi—kerabat Hasan—juga diserang dalam waktu hampir bersamaan.
Saat itu, ia tengah duduk bersama istrinya menonton televisi. Tiba-tiba, kaca jendela pecah akibat lemparan benda keras. Pemukim kemudian membakar kendaraannya yang terparkir di bawah balkon, lalu melemparkan botol berisi bahan mudah terbakar ke dalam rumah.
Ibrahim berusaha memadamkan api di luar tanpa menyadari jumlah penyerang yang mencapai ratusan. Di dalam rumah, istrinya mencoba mengendalikan api sebelum akhirnya mengalami sesak napas dan dilarikan ke fasilitas medis.
Dalam situasi yang sama, Ibrahim baru menyadari rumah Hasan juga terbakar, lalu meminta bantuan warga sekitar.
Permukiman Kian Mendekat
Jarak antara permukiman Homesh dan rumah warga kian menyempit. Setelah sempat ditinggalkan pada 2005, kawasan itu kembali ditempati. Pemukim mendirikan unit hunian sementara yang secara bertahap mendekat ke desa.
Jika sebelumnya berjarak dua hingga tiga kilometer, kini hanya sekitar satu kilometer. Kondisi ini membuat permukiman warga berada dalam jangkauan langsung serangan.
Kerusakan Meluas
Kepala Dewan Desa Funduqomiya, Rifaat Qarariya, menyebut serangan yang terjadi bukan insiden tunggal.
Menurut dia, wilayah “Al-Jabal” di desa itu kerap menjadi sasaran karena lokasinya berdekatan dengan permukiman.
Dalam serangan terbaru, satu rumah dilaporkan terbakar habis. Tiga rumah lainnya mengalami kerusakan parsial. Empat kendaraan warga juga dibakar, satu di antaranya hancur total.
Selain itu, sejumlah rumah lain mengalami kerusakan pada jendela dan bagian luar bangunan.
Warga Bertahan Tanpa Perlindungan
Minimnya perlindungan membuat warga mengandalkan solidaritas internal. Ratusan warga dilaporkan berkumpul ke lokasi serangan untuk membantu dan mencoba menghalau pemukim, meski tanpa perlengkapan memadai.
“Itu satu-satunya cara yang kami punya,” kata Qarariya.
Ia menilai intensitas serangan meningkat tajam sejak Oktober 2023. Dalam dua tahun terakhir, pola kekerasan dinilai semakin terorganisir.
Sengketa Lahan dan Ekspansi
Funduqomiya berada di antara dua permukiman: Homesh dan Tersala (kamp militer Sanur). Keduanya sempat kosong, namun kembali aktif setelah kebijakan Israel mencabut aturan pemisahan wilayah.
Sejak itu, ekspansi permukiman meningkat. Qarariya menyebut luas Homesh bertambah dari sekitar 700 dunam menjadi hingga 2.000 dunam. Ekspansi ini berdampak pada desa-desa sekitar seperti Beit Imrin, Burqa, dan Jaba’.
Sebagian wilayah yang terdampak berada di zona dengan kewenangan campuran, antara otoritas Palestina dan kontrol Israel.
Upaya Bertahan dan Keterbatasan
Sebagai respons, warga dan otoritas lokal membentuk kelompok perlindungan komunitas. Mereka juga mulai mendistribusikan alat pemadam api dan memasang pelindung besi di rumah-rumah yang rentan diserang.
Namun langkah ini dinilai belum cukup.
Pejabat Otoritas Perlawanan Tembok dan Permukiman Palestina, Salah Al-Khawaja, menyebut mekanisme kompensasi terhadap korban masih terbatas.
Bantuan diberikan untuk kerusakan rumah dan kendaraan, sementara kerusakan pertanian ditangani kementerian terkait. Namun keterbatasan anggaran dan tekanan finansial membuat proses kompensasi berjalan lambat.
“Tidak semua kerugian bisa tertutup,” ujarnya.
Tren Kekerasan Meningkat
Dalam dua hari terakhir saja, serangan pemukim dilaporkan terjadi di 21 lokasi berbeda di Tepi Barat. Sebanyak 19 warga Palestina mengalami luka.
Data resmi mencatat sekitar 7.700 serangan pemukim sepanjang 2024–2025, termasuk ratusan kasus pembakaran.
Pada Februari lalu saja, tercatat 511 insiden. Dalam periode yang sama, tujuh warga Palestina tewas akibat tembakan pemukim.
Rangkaian angka ini menunjukkan tren yang konsisten: kekerasan yang terus meningkat, dengan dampak langsung terhadap kehidupan warga sipil.
Di tengah kondisi tersebut, warga desa seperti Funduqomiya menghadapi kenyataan yang sama setiap hari—hidup dalam ketidakpastian, di bawah ancaman yang bisa datang kapan saja, tanpa jaminan perlindungan yang memadai.









