Bagi para pengungsi di Jalur Gaza, malam hari kini menjadi fase paling berbahaya dalam keseharian mereka. Rentetan runtuhnya bangunan dan jatuhnya korban dipandang sebagai kelanjutan dari perang yang tak pernah benar-benar berhenti, meski serangan udara mereda.

Salah satu di antaranya dialami Raed al-Kafarna, yang terpaksa mengungsikan keluarganya di sekitar menara Bank Palestina yang rusak parah, salah satu titik pengungsian paling berisiko di Gaza.

Dalam beberapa hari terakhir, cuaca ekstrem memperburuk situasi. Sejumlah bangunan yang sebelumnya rusak akibat serangan Israel dilaporkan runtuh di berbagai wilayah Gaza, menimbulkan korban jiwa di tengah blokade ketat dan kondisi kemanusiaan yang kian memburuk.

Sistem tekanan rendah yang melanda Gaza saat ini disebut sebagai yang terkuat sejak awal musim dingin. Kecepatan angin mencapai sekitar 90 kilometer per jam, disertai hujan deras yang merobohkan tenda-tenda, menerbangkan terpal plastik, menenggelamkan ribuan tempat pengungsian darurat, serta memicu runtuhnya bangunan yang sudah rapuh akibat pemboman.

Bertahan di Bawah Menara Retak

Saat malam tiba di Lapangan al-Jundi al-Majhul, kawasan Rimal, Kota Gaza, Raed al-Kafarna (51) hanya bisa menatap gelap sambil menahan cemas. Di hadapannya berdiri menara Bank Palestina setinggi 15 lantai yang rusak berat, menjulang dengan struktur beton retak dan miring, tepat di atas puluhan tenda pengungsi.

Keluarga al-Kafarna yang berjumlah 22 orang tinggal di lima tenda darurat berbahan nilon tipis, berdiri di atas tanah berlumpur akibat hujan, hanya berjarak beberapa meter dari menara tersebut. Setiap hembusan angin dan hujan deras mengubah lokasi itu menjadi zona tunggu bencana.

“Kami tidak lagi takut suara pesawat atau kenangan pemboman. Yang paling menakutkan adalah terbangun dan mendapati menara itu runtuh di atas kami,” kata Raed.

Menara Bank Palestina, yang sebelum perang menjadi ikon aktivitas ekonomi Gaza, hancur di bagian bawah akibat serangan udara Israel. Pilar-pilarnya terlihat retak dan miring, nyaris tak mampu menopang lantai-lantai atas yang tampak menggantung tanpa kepastian.

Kawasan sekitar yang dahulu menjadi ruang publik kini berubah menjadi titik pengungsian terbuka, tanpa jaminan keselamatan atau mekanisme evakuasi jika terjadi runtuhan mendadak. Pada siang hari, lalu lintas masih terlihat ramai. Namun saat malam tiba, para pengungsi harus menghadapi ancaman kematian yang bisa datang kapan saja.

Kecemasan ini meningkat seiring gelombang badai musim dingin yang berulang dalam beberapa pekan terakhir, yang menyebabkan bangunan dan tempat perlindungan sementara ambruk menimpa penghuninya.

“Saat angin menguat, saya merasa menara itu bisa runtuh kapan saja. Jika itu terjadi, tak seorang pun akan selamat,” ujar Raed.

Data Kantor Media Pemerintah Gaza mencatat, cuaca ekstrem telah menyebabkan lebih dari 20 bangunan runtuh sepenuhnya dan lebih dari 150 bangunan mengalami kerusakan parsial. Sedikitnya 24 warga Palestina gugur Syahid, termasuk 21 anak, dan puluhan lainnya mengalami luka-luka.

Minimnya alat berat dan peralatan teknis membuat bangunan berisiko tidak dapat dibongkar atau diamankan. Sementara itu, mandeknya tahap kedua gencatan senjata menghambat dimulainya proses rekonstruksi.

Tiga Tunanetra di Dalam Satu Tenda

Di kamp pengungsian Sheikh Radwan, Gaza utara, kondisi serupa dialami Muhannad al-Balawi (42). Ia tinggal bersama enam anggota keluarganya di sebuah tenda sempit, dengan keterbatasan ekstrem karena tiga dari mereka adalah tunanetra.

Hujan menjadi awal dari rangkaian penderitaan. Air dengan cepat menggenangi lantai tenda yang hanya dilapisi plastik tipis, sementara angin kencang mengguncang tiang dan menerbangkan penutup.

“Saat hujan turun, kami tenggelam di dalam tenda. Air masuk dari semua sisi, dan dinginnya tak tertahankan,” kata Muhannad.

Selain cuaca, keterbatasan fisik memperbesar risiko. Muhannad, putra sulungnya Hamid (17), dan anak perempuannya Amal tidak dapat melihat, membuat mobilitas menjadi sangat berbahaya, terutama pada malam hari ketika genangan air dan lumpur memenuhi jalanan.

Dalam kondisi minim fasilitas, aktivitas dasar seperti mengambil air, mengantre makanan, atau sekadar ke toilet menjadi tantangan berat. Anak perempuan bungsu yang menjadi satu-satunya anggota keluarga yang dapat melihat harus mendampingi ayah dan saudara-saudaranya, memikul beban yang seharusnya tidak ditanggung anak seusianya.

Suhu yang terus menurun memperbesar ancaman penyakit. Selimut basah tak mampu menahan dingin, pakaian tidak pernah benar-benar kering, dan ketiadaan alat pemanas meningkatkan risiko, terutama bagi anak-anak dan warga dengan gizi buruk.

“Kami lebih takut malam daripada siang. Kadang dingin dan hujan terasa lebih kejam daripada pemboman,” ujar Muhannad.

Ribuan Keluarga Terendam di Pesisir

Ketua Jaringan Organisasi Nonpemerintah Palestina di Gaza, Amjad al-Shawa, menyebut situasi saat ini sebagai yang terburuk sejak awal musim dingin. Ia mengungkapkan sekitar 10 ribu keluarga yang tinggal di sepanjang pesisir Gaza terdampak langsung banjir dan angin kencang.

Ia juga menuding Israel memanipulasi data jumlah truk bantuan yang masuk, membatasi pasokan medis dan perlengkapan pengungsian, serta menghambat kerja organisasi internasional, yang secara langsung memperparah krisis kemanusiaan.

Sementara itu, Direktur Kantor HAM PBB untuk Wilayah Palestina menegaskan bahwa transisi ke tahap kedua gencatan senjata di Gaza merupakan kebutuhan mendesak. Ia menyatakan komunitas internasional telah gagal merespons krisis kemanusiaan yang terus berlangsung.

Menurutnya, bantuan kemanusiaan dalam jumlah besar sebenarnya tersedia, namun tetap diblokir masuk ke Gaza. Di saat bersamaan, serangan terhadap warga sipil masih terjadi, memperdalam penderitaan dan memperpanjang krisis tanpa kepastian perlindungan.

Sumber: Palinfo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here