GAZA — Janji temu medisnya di Rumah Sakit Al-Syifa dijadwalkan tepat pukul 9.00 pagi, namun ia baru tiba dua jam kemudian. Keterlambatan tersebut bukan dipicu oleh kemacetan lalu lintas biasa, melainkan karena perjalanan dari Jabalia menuju Asy-Syaikh Ridwan harus diawali dengan berjalan kaki, sebelum akhirnya berlanjut dengan perburuan tanpa kepastian mencari moda transportasi di wilayah yang tak lagi mampu menjamin ketepatan waktu.
Ini bukan sekadar kisah tentang sebuah janji yang terlewat. Sebagian besar warga Jalur Gaza kini terpaksa keluar rumah berjam-jam lebih awal demi mengejar jam kerja atau jadwal pemeriksaan medis.
Mereka harus bertaruh antara menunggu kendaraan yang terjejal sesak penumpang atau berjalan kaki melintasi jalanan yang hancur, sementara bengkel-bengkel lokal berjuang keras mempertahankan armada tua yang lelah dengan suku cadang seadanya.
Dalam laporan Al Jazeera yang disusun Shadi Syamiyah dari Gaza, perjalanan harian warga kini bertransformasi menjadi beban waktu tambahan yang menyita jam kerja, proses pengobatan, hingga waktu istirahat mereka.
Hal ini terjadi di tengah kelangkaan armada kendaraan yang beroperasi, krisis bahan bakar, minyak pelumas, ban, hingga suku cadang.
Seorang warga menuturkan bahwa ia harus berangkat satu hingga satu setengah jam lebih awal hanya untuk mencari kendaraan. Proses menunggu bisa berlangsung sangat lama, dan sering kali kendaraan yang melintas sudah penuh sesak.
Di Gaza saat ini, tidak cukup bagi seseorang hanya dengan mengetahui tujuannya, ia harus terlebih dahulu menemukan moda transportasi yang sanggup membawanya ke sana.
Terlambat Dua Jam akibat Akses Lumpuh
Bagi seorang warga lansia asal Jabalia, jarak menuju Rumah Sakit Al-Syifa bukanlah satu-satunya persoalan, melainkan ketidakpastian yang membayangi sepanjang jalan. Ia terpaksa menyusuri sebagian jalan dengan berjalan kaki ke Asy-Syaikh Ridwan sebelum berhasil menyambung kendaraan, hingga akhirnya tiba di rumah sakit terlambat dua jam dari jadwal yang ditentukan.
Realitas pahit ini terus berulang dalam setiap perjalanan kerja maupun pengobatan: menunggu di tepi jalan, gigit jari karena tak mendapat kursi di kendaraan yang sesak, atau terpaksa berjalan kaki berkilo-kilometer.
Bahkan bagi mereka yang beruntung mendapatkan kendaraan, tak ada jaminan perjalanan akan sampai ke tujuan akibat kondisi jalan rusak dan risiko mogok yang tinggi.
Demi menjaga pergerakan mobilitas warga, berbagai moda transportasi alternatif mulai bermunculan, termasuk mobil yang dimodifikasi untuk menarik gerobak penumpang. Sementara itu, bengkel-bengkel lokal terus memutar otak memperbaiki mesin kendaraan dengan bahan seadanya.
Namun, upaya-upaya darurat ini tidak serta-merta mengembalikan moda transportasi ke kondisi normal, melainkan hanya menunda kelumpuhan totalnya.
Seorang sopir mengungkapkan betapa langka dan melambungnya harga ban bekas saat ini. Harga satu buah ban bekas dapat menembus angka 2.000 shekel (sekitar 675 dolar AS). Ia memperingatkan bahwa semakin banyak kendaraan yang akan gulung tikar dan berhenti beroperasi jika kelangkaan BBM, oli, dan ban terus berlanjut.
Ancaman terhadap Armada Fasilitas Kesehatan
Dampak krisis transportasi ini tidak berhenti pada keterlambatan individu menuju tempat kerja atau klinik pengobatan. Pejabat Kementerian Kesehatan di Gaza memperingatkan potensi berhentinya operasional bus-bus pengangkut tenaga medis dan staf kesehatan akibat ketiadaan baterai (aki), ban, oli, serta suku cadang perawatan.
Pihak kementerian mengonfirmasi telah menyurati lembaga-lembaga internasional, termasuk Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Komite Internasional Palang Merah (ICRC), untuk mendesak masuknya pasokan perlengkapan perawatan kendaraan.
Mereka menegaskan bahwa terhentinya bus-bus ini akan langsung melumpuhkan akses para tenaga medis menuju fasilitas-fasilitas kesehatan yang masih bertahan.
Di Gaza, sebuah janji tidak pernah dimulai tepat pada waktunya. Perjalanan selalu dimulai jauh lebih awal dalam pencarian tanpa kepastian: menunggu kendaraan, berburu kursi kosong, atau bersiap berjalan kaki melintasi puing-puing.
Di tengah armada tersisa yang megap-megap di jalanan, tiba di tempat kerja atau rumah sakit kini bukan lagi sebuah kepastian, melainkan sekadar keberuntungan.
(Sumber: Al Jazeera)










