Badan Pusat Statistik Palestina mengungkap angka yang mengejutkan terkait dampak agresi militer Israel terhadap anak-anak di Jalur Gaza. Dalam laporan terbarunya, disebutkan lebih dari 39 ribu anak menjadi yatim, sementara hampir 17 ribu anak syahid, termasuk di antaranya bayi dan balita.
Kepala BPS Palestina, Ola Awad, pada Kamis (4/4), memaparkan data pelanggaran terhadap anak-anak di Palestina sepanjang tahun 2024, baik di Gaza maupun Tepi Barat. Ia menyoroti eskalasi kejahatan yang terus meningkat, menciptakan krisis kemanusiaan yang belum pernah terjadi sebelumnya di kalangan anak-anak.
Disebutkan bahwa 39.384 anak di Gaza kehilangan satu atau kedua orang tua, dan sekitar 17.000 anak menjadi yatim total. Angka ini disebut sebagai krisis yatim terbesar dalam sejarah modern.
Jumlah anak-anak yang syahid akibat serangan Israel di Gaza tercatat mencapai 17.954 jiwa, termasuk 274 bayi dan 876 anak di bawah usia satu tahun.
Selain itu, 17 anak meninggal akibat kedinginan di tenda-tenda pengungsian, dan 52 anak wafat karena kelaparan dan kekurangan gizi. Di Tepi Barat, tercatat 188 anak syahid akibat kekerasan tentara Israel.
Laporan juga mencatat bahwa sekitar 1.055 anak telah ditangkap di Tepi Barat. Di Gaza, penyakit polio kembali muncul akibat terhentinya vaksinasi. BPS Palestina memperingatkan bahwa sekitar 60 ribu anak kini terancam kelaparan dan gizi buruk akut karena blokade dan agresi yang terus berlanjut.
Sementara itu, UNICEF dalam pernyataannya menyebut bahwa sekitar 1 juta anak di Gaza mengalami pengungsian berulang dan kekurangan akses terhadap layanan dasar. Setelah hampir 18 bulan perang, sebagian besar dari mereka tinggal di tenda-tenda sementara atau bangunan yang hancur.
Data terbaru dari kantor media pemerintah Palestina pada awal April menyebutkan bahwa lebih dari 50 ribu orang telah syahid di Gaza, termasuk 30 ribu anak dan perempuan, serta sekitar 7.200 keluarga yang dimusnahkan sepenuhnya.
Peringatan Hari Anak Palestina yang jatuh pada 5 April tahun ini berlangsung di tengah berlanjutnya agresi Israel ke Gaza dan kekerasan terhadap anak-anak di Tepi Barat.