Di halaman RS Nasser, Khan Younis, momen itu akhirnya terjadi. Setelah lebih dari dua tahun terpisah tanpa kabar pasti, Sundus Al-Kurd memeluk putrinya, Bisan, bayi yang ia lahirkan di tengah perang, namun tak pernah sempat ia lihat. Pertemuan itu bukan sekadar reuni keluarga. Ia datang bersama jeda panjang antara harap dan kehilangan, yang selama ini hanya diisi dengan tanda tanya.

Sundus menatap wajah anaknya seperti membaca halaman yang hilang dari hidupnya sendiri. Sementara Bisan, yang tumbuh jauh dari ibunya, menyentuh wajah perempuan itu seolah sedang mengenali seseorang yang seharusnya ia kenal sejak awal. Dua tahun terpisah seakan diringkas dalam satu pelukan.

Namun, kisah ini tidak berhenti di sana. Bagi Sundus, ini justru awal dari upaya panjang memulihkan peran sebagai ibu, dan menambal celah yang ditinggalkan perang.

Lahir di Tengah Serangan

Kisah ini bermula pada 22 Oktober 2023, di kawasan proyek Beit Lahia, Gaza utara. Rumah keluarga Al-Kurd runtuh dihantam serangan. Sundus (29), yang saat itu tengah hamil delapan bulan, mengalami luka berat.

Ia dievakuasi dalam kondisi kritis ke RS Indonesia, lalu dipindahkan ke RS Al-Shifa. Di tengah keterbatasan alat dan tekanan serangan, dokter melakukan operasi caesar darurat. Bayi yang lahir (kemudian diberi nama Bisan) langsung dipindahkan ke inkubator. Sundus sendiri tak sempat melihatnya, karena harus dirawat di unit perawatan intensif.

Situasi semakin kacau saat militer Israel menyerbu rumah sakit. Listrik terputus, alat medis berhenti bekerja. Sejumlah bayi prematur dievakuasi keluar dari Gaza. Dalam kekacauan itu, jejak Bisan hilang.

Di sisi lain, keluarga Al-Kurd menghadapi rangkaian kehilangan lain. Sejumlah anggota keluarga syahid. Sundus yang selamat harus menjalani hidup sebagai pengungsi, sementara nasib anaknya tetap tak diketahui.

Petunjuk dari Sebuah Gelang

Hingga Mei 2025, secercah informasi muncul. Seorang perawat menyampaikan kabar tentang seorang bayi asal Gaza yang dirawat di Mesir tanpa identitas jelas. Petunjuk itu mengarah pada satu detail kecil: gelang kelahiran yang masih terpasang di tangan bayi, dengan nama ibunya tertulis di sana.

Dari situlah kepastian mulai terbentuk. Bisan ternyata termasuk dalam kelompok bayi prematur yang dievakuasi ke Kairo pada November 2023. Ia dirawat hingga kondisinya stabil.

“Seperti Melahirkan untuk Kedua Kali”

Sundus menggambarkan pertemuan itu sebagai momen yang tak mudah dicerna.

“Ini seperti hari kelahiran yang sebenarnya. Saya baru melihatnya setelah lebih dari dua tahun. Saya seperti menjalani momen itu terlambat, tapi dengan kebahagiaan yang tak bisa dijelaskan,” ujarnya.

Selama masa kehilangan, ia mengaku hanya bisa membayangkan wajah anaknya, dan bersiap pada kemungkinan terburuk.

“Saya sering bertanya dalam hati, apakah dia masih hidup. Saya takut kehilangan tanpa sempat mengucapkan selamat tinggal.”

Saat akhirnya bertemu, ia butuh waktu untuk benar-benar percaya.

“Saya memandangnya lama sekali. Seolah ingin mengejar semua waktu yang hilang dalam satu detik. Rasanya campur aduk, antara menangis dan bahagia.”

Menyusun Kembali Harapan

Suami Sundus, Musab Al-Kurd, mengingat jelas hari ketika rumah mereka dihantam serangan. Ia berada di luar saat itu, lalu berlari ke reruntuhan mencari istrinya yang sedang hamil.

“Waktu itu saya tidak tahu apakah dia akan selamat. Apalagi anak kami,” katanya.

Hari-hari setelahnya diisi dengan dua hal: memantau kondisi istrinya dan mencari kabar tentang bayi mereka. Tanpa kepastian, ia hanya berpegang pada harapan yang sangat tipis.

Informasi dari perawat soal bayi-bayi Gaza di Mesir menjadi titik balik. Musab mulai menghubungi berbagai pihak, termasuk perwakilan diplomatik, untuk melacak kemungkinan keberadaan anaknya.

Konfirmasi resmi akhirnya datang. Dari situ, dugaan berubah menjadi keyakinan: Bisan masih hidup.

“Momen ketika saya pikir semuanya hilang, berubah jadi awal cerita baru. Harapan itu kembali saat saya tahu anak saya masih ada,” ujarnya.

Luka Kolektif yang Tak Terlihat

Dardah Al-Syaer, profesor kesehatan mental di Universitas Al-Aqsa, menilai kisah Sundus mencerminkan tekanan psikologis ekstrem yang dialami banyak ibu di Gaza.

Menurutnya, kehilangan anak sejak lahir (ditambah kondisi perang dan pengungsian) menciptakan trauma berlapis.

“Ini bukan sekadar kasus individu. Ini fenomena sosial yang meluas,” katanya.

Ia menambahkan, daya tahan Sundus tak lepas dari faktor keyakinan dan harapan yang terus ia pegang. Kembalinya sang anak, kata dia, menjadi semacam pemulihan emosional yang sangat kuat.

Dugaan Pelanggaran Hukum Internasional

Ahli hukum internasional, Salah Abdel Ati, menilai apa yang terjadi pada bayi-bayi prematur di RS Al-Shifa sebagai pelanggaran serius hukum humaniter.

Ia merujuk pada pemadaman listrik akibat operasi militer, yang menyebabkan kematian lima bayi, serta evakuasi sisanya ke luar Gaza tanpa kejelasan bagi keluarga.

“Ini bisa dikategorikan sebagai kejahatan perang,” ujarnya.

Menurutnya, kasus ini membutuhkan investigasi internasional, termasuk pertanggungjawaban atas serangan terhadap fasilitas kesehatan dan dampaknya terhadap pasien, khususnya bayi prematur.

Data Medis: Banyak yang Tak Kembali

Dokter Ahmad Al-Farra, Direktur Gedung Anak dan Persalinan RS Nasser, mencatat ada 33 bayi prematur di inkubator saat krisis terjadi. Lima di antaranya meninggal setelah listrik terputus.

Sebanyak 28 bayi kemudian dievakuasi ke Mesir pada 19 November 2023. Dalam proses itu, tujuh bayi dilaporkan meninggal karena kondisi medis dan kesulitan transportasi.

Sejauh ini, sebagian telah kembali ke Gaza dalam beberapa gelombang. Termasuk 11 anak yang kembali pada akhir Maret lalu. Namun, masih ada enam anak yang berada di luar Gaza bersama keluarga mereka.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here