Pernyataan mantan Ketua Knesset Israel, Abraham Burg, kembali membuka bab sensitif soal status dan keamanan Masjid Al-Aqsa. Dalam sebuah wawancara, ia mengungkap setidaknya lima upaya yang dilakukan kelompok Yahudi ekstremis untuk meledakkan Al-Aqsa dan Kubah Batu sejak 1967.
Wawancara itu dilakukan bersama jurnalis Amerika Serikat, Tucker Carlson. Dalam percakapan tersebut, Burg menyebut angka itu bukan batas pasti. “Setidaknya lima kali ada upaya untuk meledakkan Masjid Al-Aqsa. Saya tidak yakin itu jumlah akhirnya,” ujarnya.
Menurut Burg, upaya tersebut dilakukan oleh kelompok-kelompok yang memiliki agenda menghapus keberadaan Al-Aqsa dari kawasan yang mereka sebut sebagai Temple Mount. Ia menilai, isu ini tidak sekadar soal jumlah pendukung, tetapi tentang militansi segelintir pihak yang siap bertindak.
Carlson, dalam wawancara yang sama, mengaku terkejut mendengar pengakuan tersebut. Ia bahkan meminta klarifikasi apakah yang dimaksud benar-benar rencana pengeboman. Burg menjawab singkat: “Ya.”
Viral di Tengah Penutupan Al-Aqsa
Pernyataan ini cepat menyebar di media sosial, memicu perbincangan luas. Banyak yang mengaitkannya dengan situasi terkini, termasuk penutupan Masjid Al-Aqsa yang telah berlangsung lebih dari tiga pekan dengan alasan “keadaan darurat”.
Penutupan itu terjadi bersamaan dengan eskalasi militer yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari lalu. Sejumlah pihak menilai, momentum tersebut memperbesar kekhawatiran soal apa yang sebenarnya terjadi di dalam kompleks Al-Aqsa saat akses publik dibatasi.
Narasi Ekstrem Kian Menguat
Di saat yang sama, pernyataan bernada provokatif dari sejumlah tokoh Israel turut memperkeruh situasi. Mantan anggota Knesset dari sayap kanan, Moshe Feiglin, misalnya, secara terbuka menyebut penutupan Al-Aqsa sebagai “hal baik” karena tidak memicu reaksi besar dari Palestina.
Sementara itu, Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben Gvir, mengunggah video yang memperlihatkan pembatasan terhadap warga Palestina yang hendak beribadah di sekitar Al-Aqsa. Dalam pernyataannya, ia menyinggung pentingnya pendekatan keras untuk menjaga situasi tetap “tenang”.
Seruan yang lebih ekstrem juga muncul dari kalangan media. Seorang jurnalis sayap kanan Israel, Yinon Magal, sempat mengunggah lokasi sekitar Al-Aqsa sambil menyiratkan harapan agar serangan berikutnya mengenai kawasan tersebut. Unggahan itu menuai kecaman karena dianggap sebagai bentuk hasutan terbuka.
Kekhawatiran Perubahan Status Quo
Sejumlah pengamat dan aktivis menilai, pernyataan Burg bukan hal baru, melainkan bagian dari pola panjang kebijakan Israel terhadap Al-Aqsa. Selama bertahun-tahun, pembatasan akses, pengetatan keamanan, hingga seruan perubahan status kawasan terus muncul, terutama di bawah pemerintahan yang dinilai semakin condong ke kanan.
Mereka melihat, pengulangan pernyataan dari tokoh-tokoh Israel (baik politikus maupun figur publik) mengindikasikan adanya arah kebijakan yang lebih sistematis, bukan sekadar sikap individual.
Kondisi di lapangan juga memperkuat kekhawatiran tersebut. Selama lebih dari 25 hari terakhir, otoritas Israel menutup akses ke Masjid Al-Aqsa dengan alasan keamanan, membatasi aktivitas ibadah secara signifikan.
Antara Penutupan dan Hasutan
Aktivis menyoroti bahwa penutupan fisik Al-Aqsa berjalan beriringan dengan meningkatnya kampanye digital yang bernada provokatif. Di antaranya seruan untuk melakukan ritual tertentu di dalam kompleks, yang selama ini sensitif dan berpotensi memicu konflik.
Kombinasi antara pembatasan di lapangan dan eskalasi narasi di ruang publik ini dinilai sebagai upaya bertahap untuk mengubah status quo di kawasan Al-Aqsa.
Sejak eskalasi militer pada akhir Februari lalu, kebijakan pengetatan terhadap Al-Aqsa terus berlanjut, meski telah menuai kecaman dari sejumlah negara Arab dan Muslim.
Pernyataan Burg, di tengah situasi tersebut, menjadi pengingat bahwa isu Al-Aqsa tidak pernah sepenuhnya lepas dari tarik-menarik kepentingan, baik di tingkat ideologi, politik, maupun keamanan.
Sumber: Al Jazeera










