GAZA— Satu warga Palestina gugur syahid dan sedikitnya 14 orang lainnya (termasuk dua anak-anak) mengalami luka-luka akibat rentetan serangan militer Israel yang menyasar bangunan tempat tinggal, kerumunan warga sipil, hingga pengendara sepeda motor di wilayah tengah dan utara Jalur Gaza. Penembakan juga dilaporkan menyasar para pengungsi di Kota Khan Younis, Gaza selatan.
Dalam serangan teranyar, seorang pemuda dan warga lansia terluka setelah jet tempur Israel menggempur kediaman keluarga Abu Hatab di barat Khan Younis. Serangan yang didahului perintah evakuasi singkat ini menjadi insiden serupa yang ketiga kalinya terjadi dalam sehari.
Sebelumnya, sumber medis setempat mengonfirmasi bahwa rumah sakit telah menerima enam korban luka akibat tembakan rudal yang menghantam sebuah rumah di area Pasar Abu Dalal, Kamp Pengungsian Nuseirat, Gaza tengah.
Pesawat tempur Israel meluluhlantakkan rumah keluarga Abu Dalal beserta sejumlah bangunan di sekitarnya di Kamp Nuseirat. Mengutip keterangan warga lokal, hancurnya blok permukiman tersebut memaksa lebih dari 60 keluarga kehilangan tempat tinggal dan mendadak terlunta-lunta di jalanan.
Saksi mata mengungkapkan bahwa warga hanya diberi waktu 10 menit untuk mengemas barang dan melarikan diri sebelum bom jatuh dan menghancurkan seluruh blok perumahan mereka.
Sementara itu, laporan dari lapangan menyebutkan satu rumah warga di Kamp Al-Shati, barat Kota Gaza, runtuh rata dengan tanah digempur garter udara usai para penghuninya dipaksa keluar.
Di tempat terpisah, tim Ambulans dan Darurat Gaza melaporkan dua warga sipil menderita luka-luka akibat gempuran yang menargetkan sebuah sepeda motor saat melintas di Jalan Pesisir Al-Rasheed, Kota Gaza.
Rangkaian serangan fatal ini memperpanjang daftar pelanggaran berulang yang dilakukan Israel terhadap kesepakatan gencatan senjata yang sejatinya telah berlaku di Gaza sejak 10 Oktober 2025.
Berdasarkan data pemutakhiran terbaru dari Kementerian Kesehatan Gaza, rentetan pelanggaran kesepakatan oleh militer Israel hingga hari ini telah merenggut 1.358 nyawa warga Palestina serta melukai 4.541 orang lainnya.
Gideon Sa’ar Klaim “Tanpa Deportasi”, Israel Tetap Dorong Pengungsian Massal
Di tengah reruntuhan permukiman warga Gaza, Menteri Luar Negeri Israel Gideon Sa’ar berdalih bahwa pihaknya tidak berniat mengusir warga dari tanah kelahirannya. Pernyataan itu ia sampaikan saat menghadiri peresmian Kedutaan Besar Israel di Slovenia.
“Israel tidak merencanakan pengusiran atau deportasi siapa pun dari Jalur Gaza,” klaim Sa’ar.
Ia menambahkan, “Jika ada pihak yang ingin bermigrasi atas kehendaknya sendiri dan ada negara yang bersedia menampungnya (seperti yang terjadi di wilayah konflik mana pun di dunia) kami tidak akan menghalangi. Namun, kami tidak akan memaksa siapa pun pergi bertentangan dengan keinginannya.”
Meski Sa’ar membantah adanya paksaan, sejumlah menteri di kabinet pemerintahan Israel justru secara terbuka terus menghembuskan rencana untuk memindahkan sekitar dua juta penduduk Gaza. Mereka mengemas manuver deportasi massal ini sebagai “inisiasi sukarela”, sembari melontarkan tuduhan bahwa warga Palestina sebenarnya ingin pergi namun ditahan oleh kelompok Hamas.
Sejak 8 Oktober 2023, agresi militer yang dilancarkan Israel ke Jalur Gaza telah memicu krisis kemanusiaan terbesar dalam sejarah kawasan tersebut. Kementerian Kesehatan mencatat total korban jiwa telah menembus lebih dari 73 ribu orang syahid dan lebih dari 174 ribu orang luka-luka, yang mayoritas korbannya adalah anak-anak dan perempuan.









