WASHINGTON D.C. – Di koridor kekuasaan Capitol Hill (Kongres), sebuah konsensus lama sedang rontok. Selama puluhan tahun, dukungan terhadap Israel adalah “ayat suci” yang tak bisa diganggu gugat dalam politik Amerika Serikat. Namun, laporan terbaru dari Axios menyingkap realitas yang kian pahit bagi Tel Aviv, kebijakan Benjamin Netanyahu telah menggerus dukungan Washington secara sistemik, terutama di kalangan pemilih muda dan kini merembet ke meja para legislator.
Dahulu, mengkritik Israel secara terbuka di Kongres dianggap sebagai tindakan “bunuh diri politik”. Sekarang, narasi itu berbalik arah. Sejumlah anggota parlemen yang dulunya merupakan pendukung setia Israel kini mulai berani menarik garis batas.
“Ada kebutuhan mendesak untuk menata ulang hubungan antara Washington dan Tel Aviv,” ujar Jason Crow, anggota Kongres dari Partai Demokrat asal Colorado. Menurut Crow, perubahan ini bukan lagi sekadar wacana, melainkan tuntutan akan perubahan fundamental dalam kemitraan kedua negara.
Eksodus Dukungan di Senat
Indikasi perubahan peta politik ini terlihat paling jelas di Senat. Sebuah tren mengejutkan muncul: hampir seluruh senator Demokrat yang berencana maju dalam bursa Pemilihan Presiden 2028 kini kompak memberikan suara menentang kesepakatan senjata untuk Israel. Ini bukan sekadar angka, melainkan indikator bahwa mendukung kebijakan militer Israel kini dianggap sebagai liabilitas politik untuk masa depan.
Data menunjukkan lonjakan resistensi yang drastis. Tahun lalu, hanya 15 anggota Senat yang setuju untuk menahan penjualan senjata ke Israel. Tahun ini, angka itu membengkak menjadi 40 anggota. Sebanyak 85 persen faksi Demokrat di Senat kini mulai mendukung pembatasan suplai persenjataan.
Senator Ruben Gallego dari Arizona menyebut fenomena ini sebagai dampak langsung dari kebijakan “bumi hangus” Netanyahu. “Netanyahu sedang menghancurkan karakter dwipartisan (bipartisanship) yang selama ini menjadi fondasi dukungan AS terhadap Israel,” kata Gallego.
Retaknya Perisai Iron Dome
Resistensi tidak hanya terjadi di Senat. Di Majelis Rendah (House of Representatives), sejumlah politikus mulai berbalik arah, bahkan dalam hal yang dulunya tabu: pendanaan sistem pertahanan rudal Iron Dome.
Maxwell Frost, legislator Demokrat dari Florida, mengakui adanya pergeseran paradigma ini. “Empat tahun lalu, menolak pendanaan Iron Dome dipandang sebagai sikap ekstrem. Hari ini, situasinya berbeda,” ujarnya kepada Axios. Banyak anggota Demokrat yang pada 2021 masih memberikan lampu hijau untuk pendanaan tersebut, kini menyatakan telah berhenti memberikan dukungan finansial apa pun.
Benturan “America First” dan Dilema Trump
Menariknya, kritik terhadap Israel kini tidak hanya datang dari sayap kiri progresif. Di sisi kanan, tokoh-tokoh terkemuka dari gerakan “America First” mulai bersuara lantang. Mereka mempertanyakan mengapa kepentingan Israel seringkali tampak lebih diprioritaskan ketimbang kepentingan domestik Amerika sendiri.
Berdasarkan laporan proyek “Cost of War” dari Universitas Brown, AS telah menggelontorkan lebih dari US$ 21 miliar (sekitar Rp330 triliun) untuk Israel sejak perang di Gaza meletus. Ditambah lagi, komitmen penjualan senjata tambahan senilai US$ 8 miliar.
Angka fantastis ini memicu kegerahan di internal pendukung Donald Trump. Marjorie Taylor Greene, sekutu dekat Trump, menjadi salah satu suara paling vokal yang mengkritik keterlibatan Washington dalam konflik Israel, terutama seretnya AS ke dalam konfrontasi dengan Iran.
Kini, Trump berada di persimpangan jalan. Keretakan dalam gerakan “MAGA” terkait isu Israel ini dikhawatirkan akan menjadi kerikil tajam bagi Partai Republik dalam pemilu sela (midterm election) November 2026. Jika Demokrat berhasil merebut mayoritas di salah satu kamar Kongres, Trump terancam menjadi “bebek lumpuh” (lame duck) di sisa masa jabatannya, terkepung oleh berbagai investigasi parlemen di dua tahun terakhir kepemimpinannya.










