GAZA — Kampanye iklan terbaru produsen perlengkapan olahraga asal Jerman, Adidas, memicu gelombang kemarahan publik. Langkah Adidas yang menggandeng seorang tentara Israel sebagai bintang iklan dinilai melukai perasaan ribuan warga Palestina di Gaza yang kehilangan anggota tubuh akibat gempuran militer Israel.
Tentara Israel bernama Shalev Biton (yang terlibat dalam agresi militer di Gaza pada 2021 lalu) tampil dalam promosi layanan “Single Shoe”. Program ini menawarkan pembelian sepatu tunggal dengan potongan harga hingga 50 persen bagi para penyandang disabilitas.
Namun bagi korban perang di Gaza, promosi ini dirasakan sebagai bentuk pengabaian yang sangat menyakitkan di tengah krisis medis yang mencekik.
Kekecewaan Korban Perang Gaza
Pilihan figur dalam kampanye tersebut dinilai sangat tidak sensitif. Omar Haliwa (14 tahun), remaja Gaza yang harus kehilangan kakinya akibat hantaman rudal Israel, tak mampu menyembunyikan rasa kecewanya.
“Bagaimana mungkin Adidas justru memajang tentara Israel dalam iklannya, sementara mereka menutup mata dari penderitaan korban terluka di Gaza yang hidup dalam ketidakpastian?” ujar Omar dengan nada getir.
Ketimpangan ini juga disorot oleh Kifah Al-Fakhouri. Ia menilai ada paradoks moral yang tajam ketika seorang prajurit pendudukan mendapat akses fasilitas medis canggih dan kaki palsu modern, sementara ribuan warga sipil di Gaza bahkan kesulitan mendapatkan obat pertolongan pertama dan peralatan medis dasar.
Hal senada diungkapkan Ahmad Al-Balaawi, pemuda Gaza yang kehilangan kakinya akibat perang. Ia mendesak perusahaan global untuk melihat kondisi mereka dengan empati. Menurutnya, korban amputasi di Gaza terpaksa bertahan dengan alat bantu seadanya yang rakitan dan rapuh akibat blokade ketat.
Sementara itu, Nabil Ibrahim, remaja korban serangan lainnya, menyebut diskriminasi perlakuan terhadap korban cidera makin memperdalam luka psikologis masyarakat Palestina.
Krisis Medis dan Seruan Boikot
Merespons kampanye viral tersebut, Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan di Gaza, Munir Al-Bursh, mengecam keras keputusan Adidas. Ia membeberkan bahwa estimates korban amputasi di Gaza saat ini telah menembus angka lebih dari 8.000 jiwa, di mana lebih dari 3.000 di antaranya adalah anak-anak.
“Tim medis di Gaza berada dalam posisi sangat sulit. Bahan baku untuk membuat kaki palsu dan alat bantu medis dihalangi masuk oleh otoritas pendudukan. Kami mendesak lembaga internasional untuk segera turun tangan,” tegas Al-Bursh.
Buntut dari penayangan iklan tersebut, gelombang seruan boikot terhadap produk Adidas bergema kencang di berbagai platform media sosial. Para aktivis kemanusiaan meramaikan tagar boikot sambil menyandingkan kontrasnya fasilitas yang diterima tentara Israel dengan penderitaan ribuan anak dan warga Gaza yang kehilangan organ tubuh mereka, serta menuding brand olahraga raksasa itu menerapkan standar ganda.










