GAZA — Hujan pertama musim gugur yang mengguyur Jalur Gaza kembali memunculkan kekhawatiran warga pengungsi. Tenda-tenda yang mereka tempati terancam kebanjiran, sementara sebagian besar rumah dan infrastruktur telah hancur akibat genosida yang berlangsung sejak Oktober 2023.
Begitu hujan turun, warga bergegas menambal tenda yang sudah lapuk dan menutup lubang akibat pemakaian selama bertahun-tahun. Air mulai merembes ke dalam tempat tinggal mereka. Sebagian keluarga membuat tanggul tanah di sekeliling tenda, sementara yang lain berusaha memperkuat pasak agar tenda tidak tercabut angin.
Upaya itu dilakukan dengan perlengkapan seadanya. Tenda tahan cuaca dan bahan pelapis kedap air masih sangat terbatas, padahal musim dingin belum tiba.
Hujan yang datang lebih awal mengingatkan warga pada penderitaan musim dingin sebelumnya. Menurut data yang pernah disampaikan Kementerian Pembangunan Sosial Gaza, banyak tenda telah digunakan selama hampir tiga tahun, meskipun masa pakai idealnya tidak lebih dari enam bulan.
Pada 20 Januari 2026, Dana Anak-anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF) menyatakan bahwa badai musim dingin dan banjir akibat hujan berulang kali telah menghancurkan atau merusak ribuan tenda dan tempat penampungan sementara. Akibatnya, keluarga dan anak-anak terpaksa bertahan dalam kondisi dingin, lembap, dan tidak aman.
Bagi warga yang kehilangan rumah, hujan bukan sekadar persoalan cuaca. Air yang merembes ke dalam tenda dapat merusak barang-barang yang tersisa, membasahi alas tidur, dan membuat keluarga semakin sulit bertahan menghadapi suhu dingin.
Jutaan Warga Bertahan di Tempat Tinggal Darurat
Kondisi tempat tinggal warga Gaza masih jauh dari layak. Dalam pernyataan pada 13 Agustus lalu, Kementerian Pembangunan Sosial Gaza menyebut lebih dari 90 persen penduduk hidup di tenda-tenda usang, pusat pengungsian, atau di antara reruntuhan rumah yang dihancurkan Israel sejak Oktober 2023.
Kementerian itu mencatat sekitar dua juta warga Palestina tinggal di Jalur Gaza. Di antara mereka terdapat hampir satu juta anak berusia di bawah 18 tahun, lebih dari 108 ribu warga lanjut usia, serta sekitar 47 ribu janda.
Gaza juga memiliki lebih dari 120 ribu penyandang disabilitas, selain puluhan ribu orang yang terluka serta pasien kanker, penyakit ginjal, dan malnutrisi.
Dalam pernyataan yang sama, kementerian menyebut sekitar 65 ribu anak telah kehilangan salah satu atau kedua orang tua mereka. Sebagian anak, lansia, pasien, dan penyandang disabilitas, termasuk mereka yang mengalami cerebral palsy, bahkan terpaksa tidur langsung di lantai karena kekurangan kasur, perlengkapan medis, dan sarana penampungan.
Ketika hujan turun, kelompok-kelompok tersebut menghadapi risiko lebih besar. Mereka tidak hanya kesulitan melindungi diri dari air dan angin, tetapi juga memiliki keterbatasan untuk berpindah ke tempat yang lebih aman.
Air Hujan Memperbesar Ancaman Penyakit
Ancaman musim hujan tidak berhenti pada tenda yang bocor. Kawasan pengungsian juga kekurangan infrastruktur dasar, layanan sanitasi, dan saluran pembuangan air hujan, menurut Kementerian Pembangunan Sosial Gaza.
Kementerian memperingatkan bahwa hujan dan angin kencang dapat menenggelamkan tenda serta mengubah jalan-jalan di kamp pengungsian menjadi kubangan lumpur. Kondisi tersebut menghambat mobilitas warga dan meningkatkan risiko kecelakaan maupun cedera.
Tumpukan sampah turut memperburuk keadaan. Limbah yang menumpuk dapat memicu perkembangbiakan tikus dan serangga, sementara kerusakan jaringan sanitasi meningkatkan risiko kebocoran air limbah ke lingkungan tempat warga tinggal.
Pada musim dingin sebelumnya, sejumlah pejabat kesehatan telah memperingatkan bahaya penyebaran penyakit yang ditularkan melalui air, terutama di kalangan anak-anak dan lansia. Lingkungan yang tercemar, tempat tinggal yang lembap, serta keterbatasan layanan kesehatan membuat warga pengungsi semakin rentan.
Tanpa perbaikan saluran air dan sanitasi, hujan dapat mengubah kamp pengungsian menjadi kawasan yang bukan hanya tidak nyaman, tetapi juga membahayakan kesehatan penghuninya.
Kekurangan Perlengkapan Musim Dingin
Kementerian Pembangunan Sosial Gaza menyatakan wilayah tersebut masih mengalami kekurangan parah tenda, selimut, kasur, pakaian musim dingin, bahan pelapis kedap air, dan alat pemanas.
Masalahnya, banyak perlengkapan itu sebenarnya hanya dirancang untuk digunakan selama sekitar enam bulan. Namun, keluarga pengungsi telah mengandalkannya selama hampir tiga tahun. Seiring waktu, bahan tenda melemah dan kemampuannya menahan hujan serta angin semakin berkurang.
Kondisi ini memunculkan kembali kekhawatiran akan kematian akibat cuaca dingin, terutama di kalangan anak-anak, pasien, dan warga lanjut usia.
Hingga Januari 2026, Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan 11 anak syahid akibat suhu dingin ekstrem. Belum ada pembaruan data tersebut, meskipun kondisi cuaca dan kemanusiaan masih berat.
Selama tiga tahun sebelumnya, warga Gaza juga dilaporkan syahid atau mengalami luka akibat tenda yang terendam air hujan maupun banjir bandang. Namun, tidak tersedia angka statistik mengenai keseluruhan korban dalam kejadian-kejadian tersebut.
Pada Desember 2025, Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) memperingatkan sekitar 795 ribu pengungsi menghadapi risiko banjir. Tenda dan terpal yang tersedia dinilai tidak cukup kuat untuk menahan genangan dan luapan air. Sebagian keluarga tinggal di dataran rendah yang dipenuhi puing-puing, tanpa sistem drainase yang memadai.
Tinggal di Bangunan Rusak demi Menghindari Tenda
Karena kekurangan tempat penampungan, ribuan keluarga terpaksa kembali ke bangunan yang rusak sebagian atau mengalami kerusakan berat akibat serangan Israel. Sebagian tinggal di dalam bangunan tersebut, sementara yang lain mendirikan tenda di dekatnya.
Pilihan itu tidak selalu lebih aman. Dalam beberapa musim dingin sebelumnya, sejumlah bangunan rusak di Gaza dilaporkan runtuh dan menimpa pengungsi yang berlindung di dalamnya.
Salah satu kejadian terbaru berlangsung pada Rabu, sebelum hujan musim dingin turun. Sebuah bangunan enam lantai ambruk, menewaskan 21 orang, termasuk lima anak, dan melukai 45 lainnya.
Bangunan itu memiliki 24 unit apartemen yang dihuni keluarga-keluarga pengungsi. Sebelumnya, gedung tersebut pernah terkena serangan Israel hingga mengalami kerusakan dan retakan. Ketika akhirnya runtuh, bangunan itu menimpa para penghuninya serta tenda-tenda yang didirikan di sekitarnya.
Koordinator Kemanusiaan PBB untuk Wilayah Palestina yang Diduduki, Ramiz Alakbarov, mengatakan insiden tersebut memperlihatkan besarnya risiko yang dihadapi keluarga-keluarga yang tinggal di ratusan bangunan rusak di Gaza.
Ia mendesak agar tenda, terpal, dan perlengkapan nonpangan lainnya segera dikirim kepada masyarakat yang paling membutuhkan sebelum musim dingin tiba. Menurut dia, keluarga pengungsi juga harus memperoleh tempat tinggal yang lebih aman.
Kementerian Pembangunan Sosial Gaza turut meminta agar rumah prefabrikasi atau karavan dan tenda tahan cuaca segera diizinkan masuk. Kebutuhan lainnya meliputi bahan pelapis kedap air, selimut, dan pakaian musim dingin.
Kementerian juga mendesak perbaikan kamp pengungsian, termasuk peningkatan layanan air bersih, sanitasi, dan saluran pembuangan air hujan.
Bantuan Tempat Tinggal Masih Terkendala
Kesepakatan gencatan senjata yang rapuh, berlaku sejak 11 Oktober 2025, mencakup ketentuan mengenai masuknya perlengkapan tempat tinggal, pembukaan perlintasan, serta pengiriman bantuan pangan, kemanusiaan, dan medis. Namun, Hamas menyatakan Israel tidak menjalankan ketentuan-ketentuan tersebut sebagaimana disepakati.
Bagi warga Gaza, keterlambatan bantuan tempat tinggal berarti mereka harus menghadapi musim hujan dengan tenda yang telah usang, perlengkapan yang terbatas, atau bangunan yang sewaktu-waktu bisa runtuh.
Sejak perang genosida Israel dimulai pada 7 Oktober 2023, lebih dari 73 ribu warga Palestina dilaporkan syahid dan lebih dari 174 ribu lainnya terluka, menurut Kementerian Kesehatan Gaza.
Di luar korban jiwa dan luka-luka, perang juga menghancurkan sekitar 90 persen perumahan, infrastruktur, dan layanan dasar di wilayah tersebut.
Ketika hujan pertama mulai turun, kerusakan itu kembali terasa dalam kehidupan sehari-hari. Warga yang kehilangan rumah harus menghadapi pilihan sulit: bertahan di tenda yang tidak mampu menahan cuaca atau berlindung di bangunan rusak yang mengancam keselamatan mereka.
Tanpa masuknya perlengkapan penampungan yang memadai dan perbaikan fasilitas dasar, musim dingin kembali mengancam warga Gaza yang telah bertahun-tahun hidup dalam pengungsian.
Sumber: Arab 48










