Pimpinan Gerakan Perlawanan Islam (Hamas), Taisir Sulaiman, menyatakan pihaknya tengah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pembentukan forum yang disebut “Dewan Perdamaian” untuk Gaza. Menurutnya, efektivitas dewan tersebut tidak bisa diukur dari pernyataan politik atau tajuk media, melainkan dari kemampuannya menghadirkan perubahan konkret di lapangan.
Dalam wawancara dengan program Al-Masa’iya di Al Jazeera Mubasher, Sulaiman menegaskan bahwa prioritas utama yang ditunggu warga Gaza adalah penguatan gencatan senjata, penghentian agresi Israel, pembukaan seluruh perlintasan, serta masuknya bantuan kemanusiaan tanpa hambatan.
Ia mengakui absennya penyebutan Gaza secara eksplisit dalam piagam Dewan Perdamaian menimbulkan tanda tanya serius. Namun, Hamas memilih menahan penilaian akhir dan akan menentukan sikap berdasarkan perkembangan nyata dalam beberapa hari ke depan, terutama terkait pelaksanaan tahap kedua kesepakatan gencatan senjata dan penghentian pelanggaran Israel yang terus berlangsung.
Sulaiman juga menekankan pentingnya menghentikan tekanan Israel terhadap komite nasional yang disepakati faksi-faksi Palestina untuk mengelola urusan sipil di Gaza. Ia menyebut Israel masih membatasi masuknya obat-obatan, kebutuhan darurat, dan material bangunan, sekaligus menghambat upaya rekonstruksi dan penggalangan dana.
Respons atas Sikap Eropa
Menanggapi sikap hati-hati sejumlah negara Eropa terhadap Dewan Perdamaian, Sulaiman menilai hal itu tidak terlepas dari ketegangan hubungan antara Amerika Serikat dan mitra-mitranya di Eropa. Ia mengingatkan bahwa banyaknya slogan dan langkah seremonial tidak selalu berbanding lurus dengan implementasi nyata di lapangan.
Menurutnya, jika Dewan Perdamaian ingin berfungsi efektif, tugas utamanya adalah memastikan kesepakatan antara perlawanan dan Israel benar-benar dijalankan, mendukung administrasi sipil di Gaza, serta menjamin transisi ke tahap kedua gencatan senjata di tengah pelanggaran Israel yang terus terjadi.
Sulaiman mengungkapkan bahwa sejak gencatan senjata diumumkan, Israel telah melakukan lebih dari 2.500 pelanggaran, yang menyebabkan lebih dari 500 warga Palestina gugur syahid dan lebih dari 1.200 lainnya terluka. “Ujian sebenarnya bagi setiap upaya internasional adalah sejauh mana mereka mampu menekan Israel untuk mematuhi kesepakatan yang sudah disetujui lebih dari 100 hari lalu,” ujarnya.
Sikap Perlawanan terhadap Tekanan
Terkait laporan media Israel soal rencana pertemuan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dengan utusan Amerika Serikat untuk membahas pelucutan senjata Hamas, Sulaiman menegaskan bahwa perlawanan Palestina berdiri untuk mempertahankan hak rakyatnya menghadapi pendudukan. Ia menyebut Amerika Serikat tidak bisa dilepaskan dari rangkaian ketidakadilan yang dialami rakyat Palestina selama bertahun-tahun.
Sulaiman menegaskan, gencatan senjata tercapai bukan karena penyerahan diri, melainkan hasil dari keteguhan dan perlawanan panjang. “Kami tidak memiliki tentara besar atau persenjataan canggih, tetapi kami memiliki hak untuk membela rakyat dan tanah kami,” katanya.
Ia menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa akar persoalan tetaplah pendudukan Israel. Menurutnya, setiap peran Amerika Serikat atau komunitas internasional hanya akan dinilai dari tindakan nyata, bukan janji atau retorika. “Hari-hari ke depan akan memperlihatkan sikap sebenarnya. Inti persoalan tetap satu: mengakhiri pendudukan dan menghentikan kejahatan terhadap rakyat Palestina.”
Sumber: Al Jazeera Mubasher










