Ketika perhatian dunia tersedot pada ketegangan Amerika Serikat dan Iran, situasi di Jalur Gaza berjalan dalam ritme berbeda, sunyi dari sorotan, tapi tak pernah benar-benar berhenti dari kekerasan.
Serangan Israel terus berlangsung. Dari udara lewat jet tempur, dari langit rendah lewat drone, hingga lewat kebijakan blokade yang menahan masuknya makanan dan obat-obatan. Dalam praktiknya, gencatan senjata yang diumumkan enam bulan lalu nyaris hanya tersisa di atas kertas.
Hampir setiap pekan, korban terus berjatuhan. Puluhan warga Palestina syahid, termasuk perempuan dan anak-anak yang sebelumnya mengira situasi telah mereda.
Pola serangan berubah
Salah satu pola yang kini menonjol adalah penggunaan drone untuk serangan presisi. Pesawat tanpa awak itu berputar di udara, nyaris tanpa suara, lalu memilih target, kendaraan yang melintas, kerumunan di pasar, atau seseorang yang sedang duduk di kafe.
Serangan datang tiba-tiba. Satu rudal atau satu peluru, cukup untuk mengakhiri hidup.
Perubahan pola ini memperluas rasa takut di tengah warga. Tidak ada lagi ruang yang benar-benar aman.
Korban terus bertambah
Selasa lalu, sedikitnya 10 warga Palestina syahid dalam serangkaian serangan di berbagai titik di Gaza.
Lima di antaranya tewas dan 11 lainnya luka-luka akibat serangan udara yang menghantam gudang dekat generator listrik di Kamp Al-Shati.
Di lokasi lain, empat orang syahid (termasuk seorang anak berusia tiga tahun) setelah drone Israel menargetkan mobil milik polisi sipil di kawasan Tuffah, timur laut Kota Gaza.
Sebelumnya, seorang remaja berusia 14 tahun, Adam Halawa, syahid setelah ditembak di bagian kepala di Jabalia al-Balad, wilayah utara Gaza.
Serangan juga menyasar area yang tidak berada dalam kontrol langsung militer Israel, termasuk kamp pengungsi.
Dari pesta menjadi duka
Kisah anak-anak menjadi salah satu potret paling mencolok dari situasi ini.
Yahya Al-Malahi, bocah tiga tahun, tengah dalam perjalanan menghadiri pesta pernikahan kerabatnya. Ia mengenakan pakaian terbaiknya hari itu. Namun perjalanan itu berakhir sebelum tiba.
Ia menjadi korban dalam serangan yang sama di kawasan Tuffah.
Ledakan menyisakan serpihan yang melukai sejumlah anak lain dan warga sekitar. Beberapa di antaranya masih dalam kondisi kritis.
Di Gaza, bahkan momen yang seharusnya menjadi perayaan, bisa berubah menjadi duka dalam hitungan detik.
Ribuan pelanggaran gencatan senjata
Pemerintah Gaza mencatat setidaknya 2.400 pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata sejak diberlakukan Oktober 2025. Pelanggaran itu mencakup serangan militer, penangkapan, hingga pembatasan bantuan kemanusiaan.
Data Kementerian Kesehatan Gaza menunjukkan, pelanggaran tersebut telah menyebabkan 757 warga Palestina syahid dan 2.111 lainnya luka-luka.
Dalam skala lebih luas, sejak perang dimulai pada Oktober 2023, lebih dari 72 ribu warga Palestina dilaporkan syahid, dan lebih dari 172 ribu lainnya terluka. Sekitar 90 persen infrastruktur di Gaza mengalami kerusakan.
Bantuan tersendat, krisis memburuk
Situasi kemanusiaan juga terus memburuk. Pemerintah Gaza menyebut hanya sekitar 37 persen dari total bantuan yang seharusnya masuk benar-benar diizinkan melintas.
Di perbatasan Rafah (yang menjadi jalur vital bagi warga) realisasi pergerakan orang hanya mencapai sekitar 7 persen dari yang disepakati.
Selain itu, puluhan warga dilaporkan tetap ditangkap dari wilayah permukiman, termasuk di area yang berada di luar zona yang ditetapkan sebagai “buffer zone”.
Sistem kesehatan di ambang runtuh
Krisis tidak berhenti pada keamanan. Sistem kesehatan di Gaza berada di titik kritis.
Kementerian Kesehatan setempat mencatat kekurangan obat mencapai 50 persen. Banyak pasien tidak mendapatkan perawatan yang dibutuhkan, di tengah kerusakan fasilitas medis akibat serangan berulang.
Médecins Sans Frontières memperingatkan bahwa warga Gaza kini menghadapi kekurangan air bersih, makanan, listrik, dan akses layanan kesehatan. Bantuan yang terhambat memperparah kondisi sistem kesehatan yang sudah rapuh.
Di kamp-kamp pengungsi, kerusakan infrastruktur memicu penyebaran penyakit. Minimnya sanitasi membuat lingkungan dipenuhi serangga dan tikus.










