LAUT MEDITERANIA – Sebanyak 13 kapal yang tergabung dalam Global Sumud Flotilla (GSF) menghadang laju MSC Maya, sebuah kapal kargo raksasa yang terdeteksi mengangkut senjata dan alat perang menuju pelabuhan Ashdod, Israel.
Chiki Fawzi, aktivis dan figur publik Indonesia yang merupakan delegasi Global Peace Convoy dalam misi GSF, menggambarkan ketegangan di atas gelombang. Dia menjelaskan kargo yang dibawa MSC Maya merupakan instrumen yang akan digunakan untuk memperpanjang napas genosida di Gaza.
“Kami tidak bisa tinggal diam melihat pelabuhan Ashdod terus menjadi pintu masuk mesin pembunuh. Senjata-senjata itu yang akan digunakan untuk menghabisi nyawa saudara-saudara kita di Gaza,” ujar Chiki saat melaporkan kejadian tersebut melalui saluran media sosial.
Aksi pengadangan ini bukan tanpa alasan. Laut Mediterania kini berubah menjadi panggung anomali hukum internasional. Di satu sisi, perairan ini menjadi saksi bisu penculikan para aktivis yang mencoba mengirimkan bantuan kemanusiaan ke Gaza. Di sisi lain, kapal-kapal pengangkut senjata milik otoritas pendudukan Israel melenggang bebas tanpa hambatan berarti.
Chiki menyoroti bagaimana batasan laut internasional seolah menjadi garis yang tidak berarti bagi Israel. “Penjajah ini bertindak seolah Laut Mediterania adalah milik pribadi mereka. Mereka melanggar batas internasional dan mengabaikan Konvensi Jenewa seakan dokumen itu tidak pernah ada,” tegasnya.









