KOTA GAZA – Di bawah langit Gaza yang masih diwarnai deru jet tempur, sebuah drama medis berlangsung di ruang operasi Kompleks Medis Al-Shifa yang nyaris lumpuh. Pasiennya adalah Yaman Barakat, bocah berusia dua setengah tahun. Misinya ambisius: menyelamatkan sendi panggul Yaman dari cacat permanen melalui operasi bedah rekonstruksi yang sangat rumit.
Ibu Yaman, Halima Barakat, sudah kenyang dengan janji-janji birokrasi. Penderitaan putranya dimulai sejak lahir. Setahun lalu, Yaman sebenarnya sudah mengantongi surat rujukan pengobatan ke luar negeri. Namun, blokade perbatasan dan sistem kesehatan yang hancur lebur membuat dokumen itu tak lebih dari selembar kertas tak berguna. Kondisi Yaman memburuk seiring waktu yang terbuang.
Titik balik muncul saat Faisal Siam, seorang ahli bedah ortopedi, memutuskan kembali ke Gaza. Di tengah minimnya peralatan dan sterilisasi yang compang-camping, Siam dan keluarga Barakat sepakat mengambil “risiko yang diperlukan”. Operasi dilakukan di Al-Shifa, rumah sakit yang berkali-kali menjadi sasaran serangan.
“Tidak mengoperasi berarti membiarkan dia cacat selamanya. Itu jauh lebih mengerikan daripada risiko operasi di sini,” ujar Halima kepada koresponden di lapangan. Operasi memang berhasil, namun drama belum usai. Yaman butuh pemantauan medis intensif selama enam bulan ke depan, sebuah kemewahan di wilayah yang pasokan obatnya diatur oleh izin militer.
Kemampuan di Titik Nol
Faisal Siam, yang kini mengepalai departemen ortopedi di Al-Shifa, menyebut keberhasilan ini sebagai anomali. Ia bekerja dengan fasilitas yang menurut standar medis internasional disebut “hampir nol”.
“Kami bekerja hanya mengandalkan keterampilan tangan, karena peralatan pendukung sudah banyak yang rusak atau tidak ada suplainya,” kata Siam. Tim medisnya kini tengah berkejaran dengan waktu untuk menangani ribuan pasien lain yang nasibnya serupa dengan Yaman: terjebak di Gaza karena tak bisa berobat ke luar negeri.
Dapur Data: Puing-Puing Sistem Kesehatan Gaza (April 2026)
| Sektor | Statistik Kerusakan | Proyeksi Kebutuhan |
| Fasilitas Kesehatan | > 1.800 Unit (RS, Klinik, Lab) | Hancur atau rusak sebagian. |
| Biaya Rehabilitasi | US$ 10 Miliar (Sekitar Rp 160 T) | Estimasi WHO untuk jangka waktu 5 tahun. |
| Populasi Pengungsi | 1,9 Juta Jiwa | Hidup dalam krisis sanitasi dan medis akut. |
| Kapasitas RS | < 20% Berfungsi Normal | Kekurangan alat bedah, obat, dan bahan bakar. |
Ingkar Janji di Perbatasan
Laporan terbaru Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memberikan gambaran yang lebih kelam. Rehabilitasi sistem kesehatan Gaza diprediksi memakan waktu lima tahun dengan suntikan dana sedikitnya US$ 10 miliar. Namun, masalah utamanya bukan sekadar uang, melainkan akses.
Hingga April 2026, Israel dituding terus memangkas komitmen mereka dalam kesepakatan gencatan senjata. Pembukaan pintu perlintasan untuk bantuan medis dan alat-alat evakuasi reruntuhan masih berjalan di tempat. Akibatnya, sekitar 1,9 juta pengungsi kini hidup dalam kondisi “bencana kemanusiaan yang direncanakan”.










