Gaza — Ribuan pasien di Jalur Gaza hidup dalam kondisi genting, terjepit antara keterbatasan layanan medis dan tertutupnya akses keluar wilayah untuk berobat. Salah satunya adalah Lian Barhoum, anak perempuan Palestina yang kini menghadapi risiko kematian akibat komplikasi penyakit yang memburuk sejak agresi Israel berlangsung.

Lian sebelumnya menderita gangguan fungsi ginjal. Namun, paparan gas dan asap roket selama serangan Israel membuat kondisinya memburuk hingga mengalami gagal ginjal total, menurut laporan koresponden Al Jazeera, Rami Abu Tuaima. Anak yang juga mengalami gangguan pendengaran itu kini menderita pembesaran hati dan kehilangan kemampuan berjalan akibat cuaca dingin ekstrem.

Lian tinggal di tenda darurat yang tidak memiliki perlengkapan pemanas, di tengah kelangkaan selimut dan bahan bakar di Gaza. Ia tidak dapat keluar wilayah untuk mendapatkan perawatan medis karena Israel menutup Penyeberangan Rafah, satu-satunya jalur darat bagi pasien Gaza untuk berobat ke luar negeri.

Kondisi serupa dialami ribuan anak-anak, korban luka, dan pasien kronis lainnya yang bertahan di tenda-tenda rapuh, terutama di wilayah pesisir Gaza barat yang tidak mampu melindungi mereka dari dingin dan hujan.

Setidaknya 10 anak dilaporkan meninggal akibat cuaca dingin ekstrem dalam gelombang badai terakhir. Selain itu, kepadatan pengungsian mempercepat penyebaran penyakit, termasuk meningitis, yang baru-baru ini merenggut nyawa seorang anak.

Dana Anak PBB (UNICEF) mencatat sedikitnya 100 ribu anak di Gaza mengalami gizi buruk akut. Kondisi ini diperparah dengan merebaknya penyakit musiman dan terbatasnya akses layanan kesehatan.

Meski kesepakatan gencatan senjata telah memasuki fase lanjutan dan rencana pembentukan pemerintahan teknokrat untuk Gaza diumumkan, warga Palestina masih menanti perubahan nyata dalam kehidupan mereka.

Menanti Izin Berobat ke Luar Gaza

Israel telah menutup Penyeberangan Rafah selama sekitar 20 bulan, kecuali selama masa jeda kemanusiaan pada Januari 2025 yang hanya berlangsung 40 hari. Penutupan kembali perbatasan membuat ribuan pasien terjebak tanpa kepastian.

Media Israel memperkirakan, jika Rafah dibuka kembali, pemerintah Israel hanya akan mengizinkan 150–200 orang melintas per hari. Kuota terbatas ini berpotensi memperpanjang antrean pasien rujukan medis, termasuk mereka yang kondisinya mengancam nyawa.

Kementerian Kesehatan Gaza mencatat, sejak penutupan Rafah, sedikitnya 1.268 pasien meninggal dunia sebelum sempat mendapat izin keluar untuk berobat. Saat ini, sekitar 20 ribu pasien telah mengantongi rujukan medis lengkap, termasuk 440 kasus darurat, 4.500 anak, 6.000 korban luka, dan 4.000 pasien kanker.

Pasien kanker menjadi kelompok paling terdampak akibat tertutupnya perbatasan dan lumpuhnya layanan medis spesialis di Gaza. Kekurangan obat-obatan dan peralatan medis membuat antrean rujukan ke luar negeri semakin panjang. Sejak Mei 2024, hanya sekitar 3.100 pasien yang berhasil keluar Gaza untuk mendapatkan perawatan.

Sumber: Al Jazeera

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here