GAZA — Saat fajar baru menyingsing, sebelum suara aktivitas mulai terdengar di kamp pengungsian yang berdiri di lahan Universitas Al-Aqsa, Khan Younis, Jalur Gaza selatan, Ayman Nour, 20 tahun, sudah berjongkok di samping tendanya.
Di lahan tak lebih dari dua meter persegi, ia memeriksa bibit mint, kemangi, dan peterseli yang ditanamnya beberapa hari sebelumnya. Tanaman itu disiram dengan sisa air yang berhasil ia simpan dari kebutuhan hari sebelumnya.
Sekilas, tidak ada yang istimewa dari pemandangan itu. Namun bagi Ayman, merawat beberapa tanaman kecil sebelum matahari terbit adalah jeda singkat sebelum rutinitas panjang dimulai.
Beberapa menit kemudian, ia meninggalkan tanamannya dan bergabung dengan antrean air. Seperti ratusan orang lainnya, Ayman membawa botol-botol plastik dengan tangan yang sudah lelah.
Dari sana, hari kembali berjalan dalam antrean: air, makanan, obat-obatan.
Di Gaza, waktu semakin banyak dihabiskan untuk menunggu kebutuhan paling dasar.
Setiap hari, Jalur Gaza membutuhkan sekitar 450 ton tepung untuk memenuhi kebutuhan pangan. Namun, kurang dari separuh jumlah itu yang benar-benar masuk. Di saat yang sama, sekitar 82 persen keluarga di Gaza mengalami kerawanan air, sementara tingkat kehilangan air pada jaringan yang rusak mencapai 50-70 persen.
Angka-angka itu akhirnya mengubah cara warga menjalani hari. Mereka tidak lagi menghabiskan waktu terutama untuk bekerja, belajar, atau membangun kehidupan. Sebagian besar tenaga justru terserap untuk memastikan kebutuhan paling dasar tersedia.
Antrean menjadi bagian dari rutinitas bertahan hidup.
Di antara bibit tanaman yang disiram Ayman saat fajar dan antrean yang menyita hampir seluruh harinya, tergambar kehidupan warga Gaza saat ini: hidup bukan lagi semata untuk membangun masa depan, tetapi untuk memastikan mereka bisa melewati hari ini.
“Saya Merasa Umur Saya Terbuang”

Di antara tenda-tenda yang memenuhi halaman universitas, Ayman berlari menuju gerbang selatan. Ia membawa botol air menuju sebuah kendaraan tangki yang dikelilingi puluhan jeriken dan galon.
Selang-selang air menggantung dari kendaraan itu. Warga menunggu giliran mengisi wadah mereka satu per satu.
Ayman menaruh botolnya dalam antrean. Ketika tiba gilirannya, ia memilih membawa sekitar 50 liter air dengan kedua tangannya.
Ibunya sudah berulang kali memintanya tidak memaksakan diri. Ayman sebenarnya terluka. Hampir setahun lalu, peluru penembak jitu Israel bersarang di perutnya. Sejak itu, ia harus hidup dengan kantong kolostomi.
Hari itu, kekhawatiran ibunya terbukti.
Ayman mengalami tekanan darah tinggi dan harus memeriksakan diri ke dokter. Ia diperingatkan tentang kemungkinan terkena stroke.
“Saya merasa tangan dan kaki saya berat. Ketika pergi ke dokter, dia mengatakan tekanan darah saya sangat tinggi. Sepertinya ini juga berkaitan dengan kondisi psikologis. Saya merasa umur saya terbuang tanpa hasil,” kata Ayman.
Tanggung jawab Ayman juga tidak berhenti pada dirinya sendiri.
Ia dan adiknya, Walid, menjadi dua orang yang mengurus keluarga mereka sekaligus keluarga kakak perempuan mereka. Suami sang kakak telah menjadi syahid, sementara kakaknya dan anak tunggalnya, Joud, selamat tetapi sama-sama mengalami luka sedang.
Mereka juga harus merawat kakek dan nenek. Sang kakek menderita Alzheimer.
Karena itu, Ayman memiliki antrean lain yang harus dijalani: antrean di rumah sakit.
Ketika kakaknya beristirahat, ia membawa Joud menjalani fisioterapi.
“Kami menghabiskan satu hari penuh untuk perjalanan dan fisioterapi. Yang penting Joud membaik,” katanya.
Beberapa hari lalu, Ayman mencoba menghitung waktu yang ia habiskan dalam antrean.
Hasilnya, sekitar dua setengah jam digunakan untuk mengambil air dan makanan dari dapur umum. Setelah itu ia pergi mengambil obat untuk kakeknya di klinik dan mengambil paket makanan untuk kakaknya.
“Semua itu memakan hampir delapan jam dari hari saya,” ujarnya.
Walid, adik Ayman, saat ditemui sedang menjalani tugas lain: mengantre di dapur umum untuk mendapatkan makanan.
“Kami harus datang sebelum makanan mulai dimasak. Antreannya panjang dan terjadi perebutan makanan. Kalau saya tidak datang lebih awal, saya tidak akan mendapatkannya dan keluarga kami akan kesulitan makan hari itu,” kata Walid.
Ayman sempat mencoba mencari pekerjaan. Namun pekerjaan yang tersedia hanya memberikan upah kecil.
“Saya mungkin mendapat 30 shekel. Itu tidak cukup untuk apa-apa. Sementara keluarga tetap membutuhkan seseorang untuk mengurus kebutuhan mereka di antrean,” katanya.
Ia kemudian sampai pada kesimpulan yang sederhana.
“Antrean bisa memberi saya makanan dan minuman, tetapi mengambil banyak waktu dari hidup saya.”
Masa Kanak-kanak yang Dihabiskan dalam Antrean

Pukul lima pagi, seorang anak laki-laki kurus dan pucat keluar dari antara tenda-tenda yang sudah rusak di Kamp Kabaja, yang berdiri di atas lahan di Deir al-Balah, Gaza tengah.
Namanya Amir Hamdi. Usianya baru 13 tahun.
Ia berjalan sendirian menuju titik pembagian roti. Amir tidak akan kembali ke tendanya sebelum memperoleh roti untuk keluarganya yang terdiri dari enam orang.
Ia menunggu selama berjam-jam. Sekitar pukul delapan pagi, barulah ia kembali.
Setelah menarik napas dan sarapan, Amir kembali keluar. Kali ini ia bersama dua adiknya, Muhammad, 10 tahun, dan Ahmad, 8 tahun.
Tujuannya adalah antrean air untuk kebutuhan sehari-hari.
Tugas itu membutuhkan lebih dari satu orang.
“Ia harus berjalan cukup jauh. Mereka melewati dua jalan panjang untuk mencapai keran air. Itu melelahkan bagi anak-anak saya, tetapi kami tidak punya pilihan. Ini titik terdekat yang bisa kami datangi untuk mengambil air,” kata ibu Amir.
Keluarga itu hanya memiliki satu drum kecil berkapasitas 50 liter dan sejumlah botol plastik.
Untuk air minum, antrean lain menunggu.
Salah satu dari tiga anak harus memperhatikan kapan truk tangki datang. Mereka harus segera mengisi beberapa botol sebelum kesempatan itu berlalu.
“Kami tidak mampu membeli air minum. Harganya dua shekel untuk 10 liter. Jadi kami juga harus mendapatkannya dengan mengantre. Kalau tidak, kami tidak punya air minum,” kata Amir.
Ibunya pun tidak terbebas dari antrean.
Untuk urusan yang mengharuskannya berpindah dari satu kota ke kota lain, ia memilih pergi sendiri agar anak-anak dan suaminya tidak terbebani. Suaminya menderita masalah tulang belakang.
Beberapa hari sebelumnya, ia berjalan kaki dari Deir al-Balah ke Al-Zawaida untuk mengambil paket makanan.
Setelah perjalanan panjang dan menunggu berjam-jam, paket yang diterimanya hanya berisi sedikit bahan makanan.
“Saya menunggu tiga jam. Saya berangkat pukul 12 siang dan menunggu sampai pukul 3 sore. Setelah itu saya pulang hanya membawa gula dan beberapa bahan pangan,” katanya.
Anak-anaknya mengeluhkan beratnya tugas tersebut. Namun mereka memahami bahwa pekerjaan itu harus dilakukan.
Amir bahkan beberapa kali berteriak karena kelelahan. Dalam sejumlah kesempatan, antrean juga berujung bentrokan antarwarga yang berebut giliran.
Sang ibu kemudian berusaha memberikan sedikit ruang bagi anak-anaknya untuk beristirahat.
Satu-satunya pilihan yang tersedia adalah membiarkan mereka pergi ke pantai di dekat kamp pengungsian.
“Mereka pergi ke laut setiap hari. Amir bahkan mengalami gatal-gatal karena air laut tercemar. Tetapi panas di dalam tenda dan kelelahan membuat mereka pergi ke sana. Itu satu-satunya tempat untuk bernapas,” katanya.
Empat Antrean dalam Sehari

Di Kamp Al-Amal, kawasan Al-Sudaniyah, seorang ibu bernama Ummu Karim menggambarkan kehidupan kedua anaknya dalam satu kalimat.
“Hidup mereka berubah dari bermain dan menikmati masa kanak-kanak menjadi terus berlari dari antrean air ke dapur umum, lalu mengejar truk bantuan.”
Pukul enam pagi kini menjadi alarm keluarga.
Karim, 10 tahun, dan Karem, 12 tahun, bangun bukan untuk pergi ke sekolah. Mereka pergi ke titik pembagian air yang berjarak sekitar 500 meter dari tenda.
Mereka bisa menghabiskan lebih dari dua jam menunggu.
Ketika kembali dengan membawa air yang mampu mereka angkut di bawah terik matahari, keduanya melepas pakaian dan menyiram tubuh dengan air untuk mengurangi panas.
Waktu istirahat hanya sekitar setengah jam.
Setelah itu, antrean berikutnya dimulai: dapur umum.
Sistem pembagian makanan belakangan berubah.
“Sekarang mereka harus mengambil panci makanan terlebih dahulu, lalu menunggu setengah jam lagi untuk mendapatkan roti. Sebelumnya, keduanya dibagikan bersamaan,” kata Ummu Karim.
Artinya, anak-anak harus keluar dua atau tiga kali dalam sehari.
Antrean juga mulai mengambil sesuatu yang lain dari Karim: pendidikannya.
Ia berkali-kali terlambat mengikuti program pendidikan di dekat kamp pengungsian karena harus mengisi air untuk keluarganya terlebih dahulu.
Kondisi itu menunjukkan bagaimana kebutuhan untuk bertahan hidup secara paksa ditempatkan di atas pendidikan.
Karim bukan satu-satunya yang merasakan dampaknya. Ibunya mengatakan kondisi psikologis kedua anaknya telah “hancur” akibat tekanan yang terus berulang.
Ketika diminta menceritakan pengalamannya, Karim menjawab singkat:
“Saya ingin bermain dengan anak-anak, tetapi mereka langsung menyuruhmu pergi ke antrean air dan antrean dapur umum.”
Untuk air asin, waktu menunggunya bahkan bisa mencapai empat jam. Anak-anak harus bergantian menjaga jeriken agar tidak diambil orang lain ketika mereka lengah.
Masalah keluarga ini juga semakin berat karena ibu mertua Ummu Karim, yang merupakan ibu dari suaminya, menderita kanker usus besar.
Karena kondisinya, keluarga itu belakangan harus menggunakan popok untuknya. Namun, kondisi tersebut membuatnya harus mandi beberapa kali sehari.
Sekitar 70 liter air dibutuhkan untuk mandi, mencuci pakaian, dan membersihkan tempat tidurnya.
“Kami terkadang terpaksa mengambil sebagian jatah air minumnya karena kondisi kesehatannya. Ketika air terputus, suami saya membawa gerobak dan pergi ke daerah yang cukup jauh untuk mengambil beberapa liter tambahan,” ujar Ummu Karim.
Sebagian besar keluarga di kamp tersebut tidak memiliki drum atau tangki air yang memadai. Mereka bergantung pada jeriken kecil yang kapasitasnya pun terbatas.
Pengurasan yang Tak Terlihat
Wafaa Abu Musa, aktivis yang memberikan dukungan psikologis kepada anak-anak di kamp pengungsian, membedakan tekanan psikologis yang dialami warga Gaza menjadi dua bentuk.
Pertama adalah trauma akut. Kondisi ini muncul setelah seseorang mengalami peristiwa mendadak yang mengancam hidup atau keselamatan fisiknya, seperti pemboman atau ledakan.
Trauma akut dapat menimbulkan tekanan psikologis berat dan berkembang menjadi gangguan stres pascatrauma jika gejalanya berlangsung lama tanpa dukungan psikologis.
Jenis kedua adalah tekanan kronis.
Menurut Abu Musa, tekanan ini muncul dari penantian, ketidakberdayaan, rasa tidak memiliki pilihan, akumulasi kehilangan, kekhawatiran terhadap apa yang akan terjadi berikutnya, serta memburuknya keadaan dari hari ke hari.
Yang paling penting, kata dia, adalah hilangnya rasa aman.
Tekanan kronis tidak otomatis berarti seseorang mengalami gangguan stres pascatrauma. Namun, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi kecemasan kronis, depresi, kelelahan mental, atau burnout akibat tekanan yang terus berlangsung.
Risikonya semakin besar ketika penantian berlangsung bertahun-tahun dan warga terus terpapar ancaman terhadap keselamatan atau peristiwa traumatis.
Abu Musa memberikan gambaran sederhana.
Orang yang selamat dari ledakan mungkin dihantui ingatan yang muncul berulang dan mimpi buruk. Sementara orang yang selama bertahun-tahun menghabiskan berjam-jam setiap hari mencari makanan atau air mengalami bentuk pengurasan psikologis yang berbeda.
Kelelahan, hilangnya motivasi, dan rasa tidak berdaya tumbuh perlahan.
Ketika antrean membuat seseorang kehilangan kemampuan mengatur hari, yang muncul, menurut Abu Musa, adalah berbagai bentuk rasa tidak berdaya: kebingungan, frustrasi, kesedihan, kemarahan, dan kecemasan.
Kondisi tersebut juga dapat memengaruhi pola pikir. Seseorang bisa terjebak dalam generalisasi dan penilaian negatif yang menyeluruh karena kebutuhan fisiologis dasarnya tidak terpenuhi.
“Tekanan sehari-hari seperti ini menyebabkan hilangnya rasa memiliki kendali atas diri sendiri,” kata Abu Musa.
Hilangnya kendali itu penting karena kemampuan mengendalikan kehidupan sendiri merupakan salah satu faktor yang berkaitan dengan kesehatan mental.
Ketika ketidakpastian berlangsung terus-menerus, perencanaan jangka pendek maupun jangka panjang menjadi semakin sulit. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat berkembang menjadi apa yang dikenal sebagai learned helplessness atau ketidakberdayaan yang dipelajari: seseorang berhenti berusaha mengatur hidupnya karena merasa apa pun yang dilakukan tidak akan mengubah hasil.
Menurut Abu Musa, ada persoalan lain yang sering luput diperhatikan: hilangnya peran sosial karena sebagian besar hari habis di antrean.
Dampaknya dapat berupa menurunnya rasa mampu, hilangnya perasaan produktif, merosotnya harga diri, rasa bersalah terhadap keluarga, serta meningkatnya risiko depresi dan kecemasan.
Pada anak-anak, dampaknya bahkan lebih mendasar.
Peran mereka seharusnya berkaitan dengan sekolah dan belajar. Namun genosida mengubah keadaan itu. Anak-anak justru ikut mencari makanan dan kebutuhan lain untuk keluarganya.
Abu Musa melihat perubahan itu sebagai sesuatu yang serius. Anak yang masih berada dalam tahap pembentukan kepribadian dipaksa menjadi lebih kuat dan sabar, sekaligus memikul tanggung jawab yang seharusnya tidak menjadi beban mereka.
Orientasi mereka pun berubah: dari mengembangkan diri melalui pendidikan menjadi ikut menjaga keberlangsungan keluarga.
Anak-Anak yang Kehilangan Rasa Aman
Pekerja sosial dan psikolog sosial Awatif Muhaysin menggambarkan kehidupan warga Gaza sebagai kondisi yang tidak memungkinkan manusia menjalani hidup secara layak.
Genosida telah merampas kebutuhan paling dasar. Akibatnya, warga menghadapi tekanan psikologis yang berat dan berlapis.
Salah satu bentuknya terlihat setiap hari: perjuangan mendapatkan makanan dan air.
Menurut Muhaysin, tingkat tekanan psikologis berbeda-beda, bergantung pada sumber dan jumlah tekanan yang dihadapi seseorang, kemampuan beradaptasi, serta lingkungan keluarga.
Usia dan jenis kelamin juga berpengaruh.
Anak-anak menjadi kelompok paling rentan karena tekanan tersebut dapat memengaruhi perkembangan, kondisi psikologis, lingkungan batin, serta cara mereka memandang dunia.
Salah satu dampak paling jelas adalah hilangnya rasa aman, baik di lingkungan keluarga maupun pendidikan.
Pada anak, tekanan itu dapat berkembang menjadi gangguan stres pascatrauma. Tingkat keparahannya bergantung pada berbagai peristiwa traumatis yang dialami, terutama hilangnya rasa aman di lingkungan pertama mereka—keluarga—dan kemudian di sekolah, yang menurut Muhaysin hampir sepenuhnya kehilangan bentuknya di Gaza.
Gejalanya dapat mencakup rasa takut terus-menerus, perasaan berada dalam bahaya, kehilangan kendali atas kehidupan sehari-hari, hingga perubahan perilaku seperti agresivitas, kemarahan berlebihan, mencuri, dan berbohong.
Dalam kondisi tertentu, anak bahkan dapat kehilangan kendali atas fungsi dasar seperti buang air, makan, dan tidur.
“Anak-anak adalah kelompok paling rentan dan paling mudah terdampak tekanan ini,” kata Muhaysin.
Ia mengatakan pengalaman bersama anak-anak Gaza menunjukkan bagaimana rasa lapar, tekanan, kehilangan, dan ketidakberdayaan tercermin dalam bahasa serta perilaku mereka.
Ketika mengikuti kegiatan fisik atau psikologis, sebagian anak dapat menunjukkan gejala kekerasan dan gejala kompleks gangguan stres pascatrauma.
Jika kondisi tersebut terus berlangsung dan tidak ditangani, dampaknya dapat berkembang menjadi persoalan jangka panjang yang membutuhkan upaya pemulihan besar serta sumber daya yang tidak sedikit.
Menurut Muhaysin, antrean panjang yang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari semakin menguras kemampuan warga untuk mengendalikan hidup mereka sendiri.
Tekanan tersebut, katanya, akan membutuhkan program rehabilitasi dan adaptasi yang luas pada masa mendatang.
Beban juga tidak terbagi rata di antara keluarga.
Jika kepala keluarga masih bekerja di luar rumah, istri atau ibu sering kali harus mengambil alih tugas mengantre. Mereka harus membawa air, berdiri berjam-jam, dan menghadapi kerumunan.
Bagi keluarga yang tidak memiliki pilihan lain, anak-anaklah yang dikirim.
Termasuk anak-anak kecil dan mereka yang memiliki disabilitas.
Ekonomi Antrean
Antrean bukan sekadar persoalan waktu. Bagi ekonom Ahmad Abu Qamar, antrean juga berarti hilangnya tenaga sekaligus nilai ekonomi seseorang.
Antrean panjang menunjukkan adanya kelangkaan barang.
Orang mengantre roti karena roti langka. Mereka mengantre air karena air langka.
Kondisi tersebut, kata Abu Qamar, membuat persoalan kemanusiaan semakin berat karena tenaga warga terkuras setiap hari.
Ia menilai sebagian antrean juga berkaitan dengan pembatasan masuknya barang-barang kebutuhan dasar oleh Israel. Menurutnya, pembatasan jumlah barang yang masuk membuat kelangkaan berulang dan antrean terus terbentuk.
Abu Qamar menyebut kondisi tersebut sebagai bagian dari tekanan yang lebih luas terhadap warga Gaza.
Warga dihadapkan pada pilihan ekonomi yang sama-sama mahal: membayar lebih untuk membeli kebutuhan seperti roti, air siap minum, atau telur di pasar gelap, atau menghabiskan hampir setengah hari dalam beberapa antrean untuk mendapatkan dua atau tiga kebutuhan dasar.
Di sinilah konsep “biaya peluang” menjadi penting.
Abu Qamar menceritakan pengalaman seorang warga yang ditemuinya saat mengantre air.
“Jam yang saya habiskan di sini sebenarnya bisa saya gunakan untuk bekerja dari jarak jauh dengan bayaran 150 dolar,” kata warga tersebut kepadanya.
Namun, Abu Qamar berhati-hati ketika menghubungkan antrean dengan tingkat pengangguran yang telah melampaui 80 persen.
Menurut dia, angka tersebut tidak bisa dijelaskan hanya oleh antrean. Kondisi yang menghancurkan kesempatan kerja telah terbentuk lebih luas.
Meski demikian, antrean tetap berdampak langsung terhadap orang yang masih memiliki pekerjaan. Berjam-jam menunggu dapat membuat mereka terlambat bekerja dan menurunkan produktivitas.
Semua orang membayar biaya dari sistem antrean tersebut. Namun, pekerja harian berada dalam posisi paling rentan karena mereka tetap harus mengantre sekaligus kehilangan waktu kerja.
Dalam banyak keluarga, perempuan akhirnya mengambil alih tugas itu, terutama untuk mengambil air dan menghadapi antrean panjang serta desak-desakan.
Tidak ada angka pasti mengenai kerugian ekonomi yang secara khusus disebabkan oleh antrean. Namun, Abu Qamar menunjuk indikator keruntuhan ekonomi Gaza secara keseluruhan.
Produk domestik bruto Gaza menyusut 83 persen pada 2024. Artinya, dari setiap 100 dolar yang sebelumnya dihasilkan ekonomi Gaza, hanya tersisa sekitar 17 dolar.
Pada tahun berikutnya, ekonomi kembali kehilangan 7 persen. Nilainya turun menjadi sekitar 10 dolar.
Bagi Abu Qamar, inti persoalannya terletak pada sesuatu yang sering tidak terlihat dalam angka ekonomi: waktu.
“Pemiskinan yang disengaja melalui eksploitasi waktu. Waktu adalah bagian penting dari produktivitas. Menghancurkan atau mencuri waktu melalui antrean merupakan bagian dari pemiskinan yang sistematis,” katanya.
Di Gaza, satu hari bukan lagi sekadar 24 jam.
Sebagian waktunya habis untuk mencari air. Sebagian lagi untuk mendapatkan makanan. Ada waktu untuk obat, perjalanan ke rumah sakit, dan memenuhi kebutuhan keluarga.
Dan bagi anak-anak, waktu yang seharusnya digunakan untuk belajar dan bermain ikut terserap dalam antrean.
Pada akhirnya, yang hilang bukan hanya air, makanan, atau obat. Waktu hidup warga Gaza juga ikut terkikis, jam demi jam, antrean demi antrean.
Sumber: Al Jazeera










