GAZA — Menemukan ruang untuk tertawa dan merasakan kebahagiaan di Jalur Gaza bukan perkara mudah. Selama tiga tahun genosida terus membayangi kehidupan warga. Serangan Israel telah memaksa penduduk mengungsi, tanpa membedakan usia, dari anak-anak hingga lansia, laki-laki maupun perempuan.

Namun, Sekolah Sirkus Bintang Gaza berusaha menjaga agar kebahagiaan tidak sepenuhnya hilang dari kehidupan anak-anak. Kelompok ini berkeliling dari tenda pengungsian ke pusat-pusat penampungan untuk menggelar pertunjukan sirkus. Mereka ingin memberi anak-anak kesempatan untuk tertawa sekaligus mengurangi tekanan psikologis yang terus membebani kehidupan mereka.

Genosida telah menghancurkan markas sekolah, tenda sirkus, berbagai peralatan, hingga bus yang biasa digunakan untuk mengangkut para pemain dan perlengkapan pertunjukan. Kehilangan itu memaksa mereka melanjutkan kegiatan dengan sarana seadanya. Meski begitu, pertunjukan sederhana mereka tetap meninggalkan kesan bagi anak-anak yang menyaksikannya.

Abdul Fattah Abu Jarrad, 29 tahun, menjadi salah satu anggota yang tampil sebagai badut. Pengungsi asal Beit Lahia, Gaza utara, yang kini tinggal di Deir al-Balah, Gaza tengah, itu berusaha menghadirkan keceriaan melalui permainan dan keterampilan yang ia kuasai.

Dalam wawancara dengan Al Jazeera, Abu Jarrad mengatakan para anggota sekolah tetap melanjutkan kegiatan meski harus mengungsi dan kehilangan salah seorang pendiri kelompok mereka, Nasser Rajab, yang syahid dalam genosida.

“Ketika kami mendatangi kamp-kamp pengungsian dan melihat anak-anak bahagia, saya ikut merasakan kebahagiaan yang besar. Respons mereka itulah yang membuat kami terus bekerja,” katanya.

Sekolah Sirkus Bintang Gaza didirikan pada 2014 sebagai tempat belajar seni sirkus, akrobat, dan senam. Seiring waktu, kegiatannya berkembang, tidak hanya berupa pelatihan, tetapi juga pertunjukan bagi anak-anak di berbagai wilayah Jalur Gaza.

Kini, sekolah itu menghadapi keterbatasan peralatan. Para anggota menggunakan barang-barang yang berhasil mereka selamatkan dari reruntuhan. Mereka juga membuat sendiri perlengkapan pengganti dengan memanfaatkan besi dan bahan-bahan yang masih tersedia agar pertunjukan tetap bisa berlangsung.

Ahmad Abu Halub, 23 tahun, juga terlibat dalam pertunjukan dan pelatihan bagi anak-anak. Bersama anggota tim lainnya, ia berpindah dari satu wilayah ke wilayah lain, menjangkau kawasan Gaza utara hingga selatan.

Bagi Abu Halub, kegiatan tersebut merupakan upaya membantu anak-anak menghadapi tekanan psikologis di tengah ketakutan dan ketidakpastian yang menjadi bagian dari keseharian mereka.

“Anak-anak kita hidup dalam suasana penuh ketakutan dan penderitaan. Melalui pertunjukan sirkus, kami berusaha mendukung kondisi psikologis mereka dan meringankan beban yang mereka rasakan. Sudah menjadi tanggung jawab kemanusiaan kami untuk memberi mereka kesempatan merasakan kebahagiaan. Mereka berhak menjalani kehidupan yang bermartabat,” ujarnya kepada Al Jazeera.

Di tengah kehancuran yang merenggut rumah, ruang bermain, dan rasa aman, para anggota Sekolah Sirkus Bintang Gaza terus mendatangi anak-anak di tempat pengungsian. Mereka tak memiliki lagi perlengkapan seperti sebelum genosida, tetapi berusaha mempertahankan satu hal yang masih bisa mereka berikan: kesempatan bagi anak-anak untuk tertawa, meski hanya untuk beberapa saat.

Sumber: Al Jazeera

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here