NEW YORK — Kunjungan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu ke New York untuk menghadiri Sidang ke-81 Majelis Umum PBB berlangsung singkat. Agenda yang semula disiapkan lebih luas itu dipangkas menjadi hanya beberapa jam. Netanyahu tidak menginap di New York dan nyaris tak memiliki agenda pertemuan politik tingkat tinggi.
Pesawat yang membawa Netanyahu mendarat di Bandara Internasional Stewart, New York, sekitar 106 kilometer dari markas besar PBB. Dari bandara tersebut, Netanyahu dijadwalkan menuju markas PBB untuk menyampaikan pidatonya.
Pilihan mendarat di Stewart, bukan di salah satu bandara internasional utama New York, berkaitan dengan kekhawatiran terhadap keamanan dan kemungkinan pesawatnya tidak diperbolehkan menunggu di bandara dalam wilayah kota.
Wali Kota New York Zohran Mamdani sebelumnya meminta pemerintah federal Amerika Serikat menjalankan surat perintah penangkapan terhadap Netanyahu yang diterbitkan Mahkamah Pidana Internasional (ICC). Mamdani mengakui pemerintah kota New York tidak memiliki kewenangan untuk mengeksekusi surat perintah tersebut.
Menurut data FlightRadar, pesawat Netanyahu melintasi wilayah udara Yunani, Italia, dan Prancis dalam perjalanan menuju Amerika Serikat, meski terhadap Netanyahu telah diterbitkan surat perintah penangkapan oleh ICC.
Peringatan Intelijen dan Keamanan
Kanal 13 Israel melaporkan, sejumlah peringatan intelijen dan keamanan mendorong aparat keamanan Israel merekomendasikan agar masa tinggal Netanyahu di Amerika Serikat dipersingkat. Mereka juga menyarankan agar Netanyahu tidak menginap di New York setelah pembahasan keamanan dilakukan dalam beberapa hari terakhir.
Surat kabar Israel Maariv melaporkan Netanyahu hanya akan berada sekitar enam jam di Amerika Serikat. Tidak seperti kunjungan sebelumnya, kali ini tidak ada wartawan Israel yang ikut dalam pesawatnya.
Menurut pejabat yang mengetahui persiapan kunjungan tersebut, durasi singkat itu berkaitan dengan kekhawatiran akan potensi gangguan keamanan dan aksi protes di New York. Demonstrasi diperkirakan digelar oleh kelompok yang menentang perang Israel di Gaza dan meningkatnya kekerasan di Tepi Barat.
Sementara itu, Yedioth Ahronoth melaporkan Netanyahu terutama akan berbicara kepada warga Israel melalui pidatonya di PBB. Surat kabar itu menyebut dunia internasional dinilai tidak lagi berminat mendengarkan Netanyahu.
Maariv juga melaporkan Netanyahu akan menyampaikan pidatonya dalam suasana tegang di ruang sidang. Sebelumnya, sejumlah pemimpin negara telah menyampaikan kritik terhadap kebijakan Israel. Ada pula antisipasi bahwa aksi sejumlah delegasi yang meninggalkan ruang sidang ketika Netanyahu berbicara akan kembali terjadi.
Tak Ada Pertemuan dengan Trump
Agenda diplomatik Netanyahu kali ini juga jauh lebih terbatas dibandingkan kunjungan-kunjungannya sebelumnya.
Tahun lalu, misalnya, Netanyahu menghabiskan sekitar sepekan di Amerika Serikat dan bertemu dengan Presiden Donald Trump. Namun, agenda kunjungan kali ini tidak mencantumkan pertemuan dengan Trump, meski sebelumnya Israel disebut telah berupaya mengatur pertemuan tersebut.
Media Israel melaporkan jadwal Netanyahu dan Trump di New York tidak memungkinkan keduanya bertemu. Seorang pejabat Amerika Serikat juga mengatakan Netanyahu tidak termasuk pemimpin negara yang dijadwalkan bertemu dengan Trump di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB.
Reuters melaporkan adanya ketegangan dalam hubungan Trump dan Netanyahu. Michael Oren, mantan duta besar Israel untuk Amerika Serikat, mengatakan dirinya tidak mengingat adanya perdana menteri Israel yang datang ke Amerika Serikat tanpa bertemu dengan presiden.
Oren menyebut tidak adanya pertemuan tersebut sebagai pukulan bagi Netanyahu menjelang pemilihan umum Israel yang dijadwalkan berlangsung pada 27 Oktober mendatang.
Agenda Netanyahu di Texas untuk bertemu pengusaha Elon Musk juga dibatalkan. Padahal, tim Israel sebelumnya telah tiba untuk mempersiapkan pertemuan tersebut.
Dengan batalnya agenda itu, kunjungan Netanyahu ke Amerika Serikat praktis berpusat pada pidatonya di hadapan Majelis Umum PBB.
Kembali Membawa Isu Iran
Dalam pidato yang diperkirakan berlangsung sekitar 40 menit, isu Iran diperkirakan menjadi salah satu pokok utama.
Menurut Maariv, Netanyahu akan menyoroti upaya Teheran membangun kembali kemampuannya. Ia juga diperkirakan akan berbicara secara terbuka mengenai kemungkinan jatuhnya pemerintahan Iran dan menyampaikan pesan langsung kepada masyarakat Iran.
Kunjungan singkat itu berlangsung ketika Netanyahu juga menghadapi tekanan politik dan keamanan dari berbagai arah.
Dalam wawancara televisi, Wali Kota New York Zohran Mamdani menyebut Netanyahu sebagai “penjahat perang dan arsitek genosida mengerikan terhadap rakyat Palestina”. Ia kembali menyerukan pemerintah federal Amerika Serikat menjalankan surat perintah penangkapan yang diterbitkan ICC terhadap Netanyahu.
ICC menerbitkan surat perintah penangkapan Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanan Israel Yoav Gallant pada November 2024.
Podium PBB dan Tekanan terhadap Israel
Sidang umum ke-81 Majelis Umum PBB di New York juga menjadi panggung bagi kritik terhadap Israel. Sejumlah negara menuduh Israel melakukan “genosida”, “pembersihan etnis”, dan “apartheid” terkait perang di Jalur Gaza, pelanggaran di Tepi Barat, serta serangan terhadap Lebanon dan Suriah.
Pemimpin Qatar, Turki, dan Iran menggambarkan Gaza sebagai “kuburan anak-anak” dan kamp penahanan di bawah apa yang mereka sebut sebagai “terorisme negara Israel”. Mereka menyerukan penghentian serangan Israel di Gaza serta kebijakan pemindahan paksa warga Palestina.
Raja Yordania juga memperingatkan ambisi ekspansionis Israel dan menyerukan penggunaan sanksi serta isolasi diplomatik terhadap Israel. Presiden Suriah, sementara itu, mengecam tindakan Israel dan serangan udara yang terus berlangsung di wilayah negaranya.
Di tingkat internasional, Prancis, Inggris, Brasil, Spanyol, serta sejumlah lembaga PBB turut mengkritik apa yang mereka nilai sebagai diamnya dunia terhadap kondisi di Gaza dan kekerasan pemukim Israel di Tepi Barat.
Negara-negara tersebut menilai kebijakan pemerintahan Netanyahu telah menggerus kredibilitas internasional Israel. Pada saat yang sama, 12 negara memutuskan melarang perdagangan dengan permukiman Israel di Tepi Barat.
Pengaruh Israel di Amerika Serikat Disebut Menurun
Mantan Duta Besar Amerika Serikat untuk Israel Dan Shapiro mengatakan pada Kamis bahwa posisi Israel di Amerika Serikat mengalami penurunan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Menurut Shapiro, Netanyahu bukan bagian dari solusi untuk memperbaiki kondisi tersebut.
Radio Reshet Bet mengutip pernyataan Shapiro yang mengatakan dukungan terhadap Israel di Amerika Serikat mengalami penurunan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
“Penurunannya belum pernah terjadi sebelumnya, bahkan di kalangan Partai Republik. Sulit melihat Netanyahu sebagai bagian dari solusi atas situasi ini,” kata Shapiro, menurut lembaga penyiaran publik Israel.
Pemerintahan Amerika Serikat secara berturut-turut selama bertahun-tahun memberikan dukungan militer, finansial, dan diplomatik kepada Israel. Washington juga beberapa kali melindungi Israel dari upaya pertanggungjawaban di Dewan Keamanan PBB melalui penggunaan hak veto.
Perang di Gaza dan Perubahan Opini Publik
Di tengah perang Israel di Jalur Gaza yang berlangsung sejak 2023, sejumlah survei opini publik di Amerika Serikat menunjukkan perubahan sikap masyarakat, terutama di kalangan anak muda, dengan meningkatnya dukungan terhadap hak-hak rakyat Palestina.
Israel dijadwalkan menggelar pemilihan umum pada 27 Oktober mendatang. Sejumlah jajak pendapat menunjukkan kubu oposisi berada di depan koalisi Netanyahu, tetapi belum memperoleh mayoritas yang cukup untuk membentuk pemerintahan.
Netanyahu telah memimpin pemerintahan saat ini sejak akhir 2022. Pemerintahan tersebut kerap disebut sebagai pemerintahan paling kanan dalam sejarah Israel.
Netanyahu juga menjadi pihak yang dikenai surat perintah penangkapan ICC atas tuduhan melakukan kejahatan perang di Jalur Gaza.
Dengan dukungan Amerika Serikat, Israel melancarkan perang di Jalur Gaza sejak 7 Oktober 2023. Menurut data yang dikutip sumber-sumber dalam laporan ini, perang tersebut telah menyebabkan sekitar 74 ribu warga Palestina tewas dan sekitar 175 ribu lainnya terluka, dengan mayoritas korban merupakan anak-anak dan perempuan.
Seiring perang di Gaza, kekerasan oleh pemukim dan pasukan Israel terhadap warga Palestina serta properti mereka di Tepi Barat juga terus meningkat, termasuk di bagian timur Al-Quds yang diduduki.
Sumber: Berbagai kantor berita










