KHAN YOUNIS — Perang di Jalur Gaza tidak menyisakan satu rumah pun melainkan mengetuk pintunya dengan kedukaan dan kehancuran. Di tengah lingkaran nestapa ini, kaum perempuan yang kehilangan suami (menjadi janda baru akibat pembantaian) harus menanggung beban berlapis: perihnya kehilangan, kerasnya kehidupan di pengungsian, hingga lenyapnya sumber penghidupan. Namun, dari balik gundukan puing dan memori yang hancur, mereka menolak menyerah. Di tangan mereka, kehendak untuk hidup mengalahkan keputusasaan.

Rasha, Najwa, Ikhlas, dan Abeer adalah potret nyata dari realitas tersebut. Suami mereka terenggut dalam pusaran agresi. Namun, mereka memilih menanggalkan pakaian duka, mengubah tragedi menjadi energi, dan menyulap sudut-sudut pengap tenda pengungsian menjadi ruang inovasi dan kerja.

Momentum Hari Janda Internasional yang diperingati setiap 23 Juni untuk melawan kemiskinan dan ketidakadilan yang menimpa jutaan janda di dunia, terasa begitu nyata sekaligus memilukan di Gaza. Wilayah kantong yang terkepung ini menjadi saksi bisu skala tragedi kemanusiaan terbesar: perang telah melahirkan lebih dari 26 ribu janda baru, menurut data terbaru dari Kementerian Pembangunan Sosial setempat.

Menolak Bergantung pada Bantuan yang Sekadar Syarat

Bagi ribuan janda yang kini berstatus sebagai ibu tunggal, hidup di tenda dan pusat penampungan adalah ujian fisik dan mental. Kendati demikian, banyak dari mereka yang enggan berpangku tangan atau sekadar menjadi peminta-minta bantuan kemanusiaan yang datangnya tak menentu dan sangat minim. Mereka memilih bertarung dengan nasib, merintis usaha-usaha produktif skala mikro demi menghidupi buah hati.

Rasha Abu Shawish (42 tahun), salah satunya. Setelah suaminya gugur, ia memikul tanggung jawab ganda sebagai ayah sekaligus ibu bagi lima anaknya. Penderitaannya kian tebal setelah anak tertuanya juga tewas ditembak tentara Israel di dekat pos distribusi bantuan.

Rasha tak mau tenggelam dalam ratapan. Kini, ia menetap di tenda darurat di “Kamp Al-Barakah untuk Anak Yatim”, sebelah barat Khan Younis, Gaza Selatan. Ia menyekat sebagian kecil tendanya untuk membuka lapak sederhana, menjual permen dan biskuit bagi anak-anak di kamp tersebut demi mengais rezeki.

“Hidup ini teramat sulit. Kami kehilangan sumber penghasilan setelah suami dan anak tertua saya gugur. Bantuan logistik yang sampai ke kami sangat sedikit, tidak sebanding dengan kebutuhan di Gaza,” tuturnya.

Sepanjang hari, Rasha duduk di tanah di samping lapak kecilnya. Ia menyambut anak-anak dengan wajah ramah dan senyuman yang menyembunyikan beban berat di pundaknya. “Saya kehilangan suami dan anak, tapi saya tidak kehilangan harga diri dan semangat,” ucapnya dengan nada tegar.

‘Benang Harapan’ dari Rajutan Wol

Saat suaminya gugur, Najwa Al-Shimali (44 tahun) merasa dunianya runtuh. Namun, ia memilih memegang jarum rajut dan benang bordir untuk merajut kembali harapan bagi lima anaknya.

“Rasa kehilangan itu pahit, dan hidup di Gaza sangat keras. Tapi saya ingin membuktikan bahwa saya, dan banyak janda syuhada lainnya di proyek ini, mampu bangkit kembali,” kata Najwa.

Bersama 50 janda lainnya, Najwa menginisiasi proyek kerajinan tangan dan bordir tradisional yang mereka namakan “Khuyutul Amal” (Benang Harapan). Berbekal keahlian merajut (crochet), benang-benang wol di tangannya disulap menjadi produk bernilai jual seperti pakaian, tas, pajangan bermotif warisan budaya Palestina, hingga taplak meja. Proyek ini menjadi jendela sirkulasi ekonomi mandiri bagi mereka.

Berselimut Asap demi Berdikari

Di sudut lain Kamp Al-Barakah, Ikhlas Na’na’, seorang perempuan berusia 30-an, sudah terjaga sejak matahari belum sepenuhnya terbit. Ia menghabiskan harinya di depan oven tanah liat tradisional, membakar roti dari pagi buta hingga menjelang magrib. Ini adalah proyek kecil yang ia rintis demi menghidupi putri tunggalnya yang telah menjadi yatim di usia sangat belia.

“Suami saya adalah segalanya. Dulu saya bergantung padanya untuk semua urusan domestik. Lalu tiba-tiba saya sendirian. Kami para janda menghadapi tantangan yang sangat kompleks, tapi kami menolak menjadi tawanan kesedihan,” ujar Ikhlas.

Meski upah yang dikantonginya dari berjam-jam berhadapan dengan kobaran api panas hanya berkisar beberapa Shekel (kurang dari 3 dolar AS per hari), Ikhlas mengaku bahagia karena bisa memberi makan anaknya dari keringat sendiri. “Saya ingin dia tumbuh besar dan melihat bahwa ibunya kuat, mampu menghadapi kerasnya hidup demi dia.”

Membangkitkan Kolektivitas di Pengungsian

Semangat ketangguhan ini juga dikoordinasikan dengan baik di tingkat manajemen kamp. Direktur Kamp Al-Barakah 4, Abeer Al-Sawalha—yang dirinya sendiri juga merupakan janda syuhada—menyaksikan bagaimana perempuan-perempuan ini tiba di kamp dalam kondisi psikologis yang hancur.

“Mereka datang tanpa rumah, tanpa pelindung. Tapi saya percaya ada kekuatan terpendam di dalam diri setiap perempuan. Melalui proyek-proyek kecil, kami membangun kembali puing-puing kehidupan kami,” kata Abeer.

Kamp Al-Barakah 4 menampung sekitar 200 janda beserta anak-anak mereka. Menariknya, banyak dari para janda ini yang memiliki latar belakang pendidikan tinggi dan sarjana. Potensi inilah yang dimanfaatkan Abeer untuk mendirikan taman kanak-kanak (TK) dan sekolah dasar di dalam kamp, di mana seluruh jajaran staf pengajarnya diambil dari para janda tersebut.

“Setiap janda menerapkan keterampilan atau bakat apa pun yang mereka miliki. Hasilnya adalah proyek yang produktif. Nilai dari proyek ini bukan sekadar materi, melainkan kepuasan batin dan kembalinya kepercayaan diri mereka,” tambah Abeer.

Kebutuhan Mendesak Bantuan Finansial dan Psikologis

Sebelum pecahnya perang pada 7 Oktober 2023, jumlah janda di Jalur Gaza tercatat sebanyak 20.649 orang. Angka itu kini melonjak drastis dengan tambahan 26.500 janda baru akibat perang yang masih berlangsung.

Juru Bicara Kementerian Pembangunan Sosial di Gaza, Dr. Aziza Al-Kahlout, menegaskan bahwa seluruh janda yang terdata kini otomatis menjadi kepala keluarga sekaligus tulang punggung tunggal. Angka ini dipastikan akan terus merangkak naik selama operasi militer belum dihentikan.

“Para janda ini membutuhkan segala bentuk intervensi darurat; mulai dari proyek produktif mikro, bantuan tunai bulanan, paket pangan, hingga program pendampingan psikososial, bantuan hukum, dan akses pendidikan terpadu untuk anak-anak mereka,” jelas Al-Kahlout.

Kementerian, lanjutnya, terus berupaya mengalokasikan program bantuan keuangan dan barang, meskipun ruang gerak mereka sangat terbatas akibat blokade total yang diterapkan Israel. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Palestina (PCBS) hingga April lalu, diperkirakan ada sekitar 58 ribu anak yatim di Jalur Gaza yang telah kehilangan salah satu atau kedua orang tua mereka.

Sumber: Diterjemahkan dan Diolah dari Laporan Al Jazeera

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here