PALESTINA 48 — Serangan Israel di Jalur Gaza yang meletus pada Oktober 2023 telah mengubah doktrin militer, struktur pasukan, hingga komposisi personel tentara Israel. Penembusan pagar perbatasan oleh para pejuang Hamas saat itu membongkar kegagalan besar dalam sistem keamanan dan intelijen Israel, sekaligus meruntuhkan citra tentara cerdas yang selama ini mengandalkan teknologi canggih dan serangan udara untuk mengendalikan medan perang.
Selama puluhan tahun, doktrin militer Israel bertumpu pada peringatan dini, daya gentar, dan kemenangan cepat. Keunggulan udara serta kemampuan intelijen menjadi andalan untuk mengakhiri perang dalam hitungan hari atau pekan.
Namun, perang Gaza yang berlarut-larut, bersamaan dengan bentrokan di Lebanon dan perang melawan Iran, memaksa militer Israel meninjau kembali pendekatan tersebut. Setelah bertahun-tahun mengurangi kekuatan darat dan semakin mengandalkan teknologi, militer kini memperkuat infanteri serta armada kendaraan tempur.
Perubahan ini menunjukkan pergeseran orientasi: dari perang singkat yang mengandalkan serangan presisi menuju konflik berkepanjangan dengan banyak front sekaligus.
Mengutip Al Jazeera perubahan tersebut tidak hanya menyangkut strategi dan persenjataan. Perang juga memunculkan persoalan serius mengenai cara tentara Israel menggunakan kekuatan, perilaku prajurit di medan tempur, serta perubahan identitas di dalam tubuh militer.
Penghancuran wilayah dan perilaku tentara
Salah satu perubahan paling mencolok adalah meluasnya penggunaan daya hancur untuk merusak kawasan permukiman dan infrastruktur. Pola ini dikaitkan dengan apa yang dikenal sebagai “Doktrin Dahiya”, yakni pendekatan yang mengandalkan kekuatan militer berlebihan untuk menimbulkan kehancuran luas di wilayah sasaran.
Perdebatan mengenai pendekatan tersebut semakin menguat setelah beredar rekaman yang memperlihatkan tentara Israel meruntuhkan bangunan tempat tinggal, meledakkan sekolah, dan membakar rumah.
The Washington Post juga menyoroti puluhan video yang memperlihatkan tentara berada di samping jenazah atau menyerukan pemusnahan dan pengusiran warga Palestina.
Sejumlah media Israel turut memverifikasi rekaman yang menunjukkan perusakan patung Yesus Kristus di Lebanon dan pembakaran salinan Al-Quran di Gaza. Peristiwa-peristiwa tersebut memicu pertanyaan mengenai dampak perang terhadap perilaku prajurit serta nilai-nilai yang berlaku di lingkungan militer.
Rangkaian insiden itu memperluas perdebatan tentang konsekuensi perang, yang tidak hanya diukur melalui perubahan strategi dan hasil operasi militer, tetapi juga melalui tindakan prajurit terhadap warga sipil, tempat tinggal, dan simbol-simbol keagamaan.
Pengaruh zionisme religius menguat
Perubahan di tubuh militer Israel juga terlihat dari latar belakang keagamaan personel dan pergeseran pusat pengaruh di dalam institusi tersebut. Setelah puluhan tahun kepemimpinan militer didominasi kalangan sekuler, kelompok zionisme religius semakin menonjol di unit tempur dan jajaran perwira.
Menurut data dalam laporan Al Jazeera, proporsi penganut agama di antara peserta pendidikan perwira infanteri meningkat dari 2,5 persen pada 1990 menjadi 26 persen pada 2008.
Penganut zionisme religius kini diperkirakan mencakup sepertiga hingga separuh peserta pendidikan perwira, meskipun jumlah mereka hanya sekitar 10 persen dari populasi Israel.
Setelah 7 Oktober 2023, proporsi laki-laki dari kelompok tersebut yang bergabung dengan pasukan cadangan mencapai 31 persen, dibandingkan 15 persen di antara mereka yang memenuhi syarat untuk wajib militer, menurut angka yang dikutip laporan tersebut.
Menguatnya kelompok ini turut dikaitkan dengan semakin seringnya muncul retorika keagamaan di medan perang. Sebagian tentara memandang pertempuran di Gaza dan Lebanon bukan semata-mata sebagai operasi militer, melainkan juga sebagai misi keagamaan.
Di sisi lain, penolakan sebagian besar komunitas Yahudi ultra-Ortodoks atau Haredi terhadap dinas militer masih menjadi persoalan. Padahal, setelah bertahun-tahun bertempur, militer Israel menghadapi kebutuhan untuk menambah personel.
Keputusan Mahkamah Agung Israel yang membatalkan pengecualian wajib militer bagi kaum Haredi memicu demonstrasi dan ketegangan di dalam negeri. Kelompok ini mencakup sekitar 13 persen penduduk Israel.
Situasi tersebut menempatkan militer pada posisi sulit: memperluas basis perekrutan untuk memenuhi kebutuhan pasukan, sekaligus menghadapi perpecahan sosial dan keagamaan yang menghambat upaya tersebut.
Kesehatan mental dan peredaran senjata ilegal
Dampak perang juga menjalar ke kesehatan mental prajurit dan keamanan di dalam masyarakat Israel. Menurut perkiraan Kementerian Pertahanan Israel yang dikutip dalam laporan itu, lebih dari 10 ribu tentara telah menerima perawatan psikologis sejak Oktober 2023.
Angka tersebut memperlihatkan besarnya kebutuhan penanganan kesehatan mental di tengah konflik berkepanjangan. Namun, laporan itu tidak merinci jenis gangguan yang dialami para tentara maupun tingkat keparahannya.
Masalah lain adalah kebocoran senjata dan amunisi dari militer ke pasar ilegal. Sebagian senjata dilaporkan berakhir di tangan kelompok kriminal terorganisasi.
Pada Februari 2024, polisi militer Israel menangkap dua tentara dari Batalion Nahal yang dicurigai menjual senapan militer. Pada Juni 2026, dua tentara juga didakwa karena diduga mengeluarkan senjata dari inventaris militer dan menjual tiga senapan serta satu senapan mesin.
Laporan tersebut turut mencatat peningkatan laporan kekerasan dalam rumah tangga sejak perang dimulai. Delapan perempuan dilaporkan tewas dalam konteks yang disebutkan dalam laporan itu.
Meski data tersebut tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa perang menjadi satu-satunya penyebab setiap kasus, rangkaian persoalan tersebut memperlihatkan tantangan yang harus dihadapi Israel di luar medan tempur.
Perubahan militer, tekanan terhadap masyarakat
Tiga tahun perang Gaza telah membawa perubahan yang melampaui restrukturisasi pasukan dan pengadaan senjata. Menguatnya zionisme religius, persoalan wajib militer, kebutuhan perawatan kesehatan mental, serta peredaran senjata ilegal menjadi bagian dari tekanan yang kini dihadapi institusi militer Israel.
Militer yang selama puluhan tahun mengandalkan teknologi, intelijen, dan kemenangan cepat kini harus bersiap menghadapi perang berkepanjangan di berbagai front. Pada saat yang sama, perubahan komposisi personel dan meningkatnya pengaruh kelompok keagamaan memunculkan pertanyaan mengenai arah ideologi institusi tersebut.
Persoalannya bukan hanya bagaimana militer Israel akan bertempur pada masa mendatang, tetapi juga bagaimana perubahan di dalamnya akan memengaruhi kehidupan sosial dan keamanan masyarakat Israel.
Sumber: Al Jazeera










