Sebuah hantaman rudal menghantam lantai dasar bangunan “Al-Asala 1” dekat bundaran Haidar di kawasan Al-Rimal, sebelah barat Kota Gaza. Serangan merenggut lima nyawa dalam sekejap, empat di antaranya adalah perempuan dari dua keluarga berbeda yang selama ini mendedikasikan hidup mereka di tengah kepungan genosida.

Berdasarkan laporan Anadolu Agency, keempat korban gugur tersebut adalah Maysaa Khader Ibrahim Abu Daoud (Ayad) bersama putrinya, Mary Hafiz Michel Najjar (Abu Daoud); serta seorang akademisi bernama Yasmin Khamis Al-Bobu bersama sang ibu, Halloum Al-Bobu.

Maysaa dan Mary: Mengabdi di Gereja, Pulang dalam Sunyi

Maysaa, yang akrab disapa “Ummu Michel,” dan putrinya Mary, atau “Ummu Fouad,” adalah warga beragama Kristen asal Kota Gaza.

Di tengah krisis kemanusiaan yang menghimpit akibat agresi militer, ibu dan anak ini mendoakan dan mencurahkan waktu mereka untuk melayani para pengungsi di tempat perlindungan Gereja Keluarga Kudus di Kota Gaza.

Komite Kepresidenan Tinggi untuk Urusan Gereja di Palestina menyebut kepergian keduanya sebagai “kerugian yang sangat menyayat hati” bagi jemaat dan keluarga.

Gereja Yunani Ortodoks Santo Porphyrius di Gaza, bersama Patriark Latin Al-Quds Kardinal Pierbattista Pizzabala, menyampaikan belasungkawa mendalam atas tragedi ini. Prosesi pemakaman keduanya kemudian dilangsungkan di Gereja Santo Porphyrius di Kota Tua Gaza, diwarnai kidung doa dan isak tangis keluarga yang ditinggalkan.

Fouad Samir Fouad Najjar (14), putra dari Mary sekaligus cucu dari Maysaa, menuturkan detik-detik maut itu datang sekitar pukul 01.30 dini hari waktu setempat.

“Nenek dan ibu saya meninggal, semoga Allah merahmati mereka,” ujar remaja itu dengan suara parau. Ia menyuarakan kelelahan kolektif warga Gaza yang telah bertahun-tahun hidup di bawah bayang-bayang kehancuran.

“Kami sudah sangat lelah dengan genosida ini, menanggung begitu banyak beban… hampir tiga tahun kami hidup dalam duka yang sama.”

Fouad juga mengingatkan bahwa gempuran Israel tidak pernah pandang bulu. “Pendudukan tidak membedakan antara Muslim dan Kristen. Saya sendiri kehilangan banyak orang tercinta, baik Muslim maupun Kristen.”

Pendeta Evangelis Lutheran di Ramallah, Munther Isaac, turut menyuarakan kepedihannya lewat media sosial dengan menegaskan bahwa pembersihan darah ini terus berlanjut tanpa henti.

Sasaran terhadap warga dan situs-situs Kristen di Gaza bukanlah hal baru; sebelumnya, serangan juga menimpa Kompleks Gereja Santo Porphyrius dan Gereja Keluarga Kudus pada akhir 2023 hingga pertengahan 2025, menewaskan belasan jiwa termasuk para jemaat di dalam tempat perlindungan.

Yasmin dan Halloum Al-Bobu: Runtuhnya Cahaya Akademisi

Korban ketiga adalah Yasmin Khamis Mohammed Al-Bobu, seorang akademisi dan dosen di Departemen Multimedia, Fakultas Studi Menengah, Universitas Palestina di Gaza.

Almarhumah bukan sekadar pengajar biasa. Rekam jejak akademisnya mencakup posisi sebagai Kepala Departemen Teknologi Multimedia pada 2019, serta latar belakang pendidikan mentereng yang membentang dari S1 Sistem Informasi Komputer di Universitas Al-Quds Terbuka, tiga gelar master di bidang manajemen, ilmu komputer, hingga pembangunan manusia, serta persiapan doktor dalam bidang kecerdasan buatan (artificial intelligence).

Disertasinya pada 2021 meneliti tentang citra mental universitas-universitas Palestina di mata mahasiswa Gaza.

Kepergian Yasmin dan sang ibunda, Halloum Al-Bobu, yang tewas dalam gempuran yang sama, memicu gelombang duka dari kalangan akademisi dan pegiat hak asasi manusia. Rami Abed, Kepala Euro-Med Human Rights Monitor, turut mengenang almarhumah sebagai sosok intelektual yang hilang dari tanah Gaza.

Kematian Yasmin menambah panjang daftar hitam kaum terdidik yang lenyap di Gaza. Laporan Pusat Hak Asasi Manusia Palestina per akhir September 2026 mencatat setidaknya 194 pemikir, akademisi, dan peneliti telah tewas sejak awal genosida, berdampingan dengan lebih dari 830 tenaga pendidik lainnya.

Hingga hari ini, di tengah data lebih dari 74 ribu korban jiwa dan 90% infrastruktur yang rata dengan tanah, nama-nama seperti Maysaa, Mary, Yasmin, dan Halloum hanyalah sedikit dari ribuan cerita kemanusiaan yang terputus di tengah jalan, menyisakan puing-puing kepedihan yang belum tahu kapan akan berujung.

Disarikan dari laporan Al Jazeera dan Anadolu Agency.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here