RAMALLAH — Bagi banyak pekerja Palestina dari Tepi Barat, mencari nafkah berarti memulai perjalanan sebelum matahari terbit. Mereka berangkat ketika hari masih gelap, menuju pos pemeriksaan militer Israel. Perjalanan itu belum tentu selesai setelah tiba di tempat kerja.

Di antara kebutuhan menghidupi keluarga dan pembatasan Israel terhadap pergerakan serta akses kerja, ribuan pekerja Palestina menghadapi situasi yang mempertemukan pengangguran dan kemiskinan dengan pengejaran, penangkapan, dan ketakutan kehilangan sumber penghasilan.

Situasi itu kembali terlihat setelah polisi Israel menculik 25 pekerja asal Tepi Barat dalam operasi di Kafr Qasim, Tayibe, dan Jaljulia. Mereka diculik dengan alasan memasuki wilayah Palestina 48 tanpa izin.

Polisi Penjajah Israel tidak memberikan rincian mengenai identitas para pekerja maupun kondisi saat mereka diculik. Mereka hanya mengatakan operasi tersebut merupakan bagian dari upaya yang disebut sebagai pemberantasan “tinggal secara ilegal” dan kejahatan di kota-kota Arab.

Di antara kebutuhan hidup dan pengejaran

Penangkapan tersebut merupakan bagian dari rangkaian tindakan terhadap pekerja Palestina dari Tepi Barat. Dalam sejumlah operasi, aparat Israel tidak hanya memburu pekerja, tetapi juga pemilik usaha dan pihak lain yang dituduh membantu mereka.

Bagi pekerja, ancaman bukan hanya penangkapan. Upaya mencapai tempat kerja pun dapat berubah menjadi perjalanan berbahaya, terutama bagi mereka yang tidak memiliki izin. Pembatasan pergerakan, penutupan jalur penyeberangan, dan pemeriksaan di pos-pos militer membuat akses ke tempat kerja semakin sulit.

Data Perserikatan Bangsa-Bangsa menunjukkan pembatasan pergerakan, sistem pos pemeriksaan, dan rezim perizinan Israel terus mempengaruhi akses warga Palestina ke tempat kerja dan layanan dasar. Sebagian besar izin untuk memasuki Israel dan Al-Quds yang diduduki juga telah dibatalkan atau ditangguhkan sejak Oktober 2023.

Berjam-jam di pos pemeriksaan

Hari kerja bagi banyak pekerja dimulai jauh sebelum fajar. Mereka meninggalkan rumah pada malam hari agar dapat tiba di pos pemeriksaan sebelum antrean panjang terbentuk.

Setelah berjam-jam menunggu, menjalani pemeriksaan, dan melewati prosedur keamanan, mereka melanjutkan perjalanan menuju tempat kerja. Pada akhir hari, perjalanan yang sama kembali harus ditempuh untuk pulang.

Masalahnya bukan hanya waktu yang terbuang.

Pekerja yang mencoba menyeberang melalui jalur di luar pos pemeriksaan resmi menghadapi risiko terluka atau ditangkap. Menurut data PBB, 21 warga Palestina syahid dan lebih dari 300 lainnya terluka ketika berusaha melewati tembok pemisah untuk mencapai tempat kerja di Al-Quds yang diduduki dan wilayah Israel sejak 7 Oktober 2023 hingga pertengahan September 2026.

Bekerja dengan mempertaruhkan keselamatan

Meski risikonya besar, sebagian pekerja tetap berusaha mendapatkan pekerjaan di wilayah Israel. Pilihan itu berkaitan dengan terbatasnya lapangan kerja di Tepi Barat, memburuknya kondisi ekonomi, tingginya pengangguran, serta perbedaan tingkat upah yang besar antara pasar kerja Israel dan Palestina.

Kondisi tersebut mendorong sebagian pekerja mengambil keputusan sulit demi mempertahankan pendapatan.

Ada yang mencoba mencapai tempat kerja melalui berbagai jalur. Sebagian lainnya memilih bermalam di sekitar lokasi kerja agar tidak harus menghadapi perjalanan melintasi pos pemeriksaan setiap hari atau mengurangi risiko ditangkap pasukan Israel.

Tidur di gudang hingga ruang terbuka

Di balik angka penangkapan dan pengejaran itu terdapat kisah para pekerja yang harus menjalani malam jauh dari keluarga.

Sebagian tidur di gudang atau lokasi kerja yang sebenarnya tidak diperuntukkan sebagai tempat tinggal. Yang lain bermalam di ruang terbuka. Semua dilakukan agar mereka bisa tetap bekerja dan membawa pulang uang untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Bagi mereka, perjalanan kerja bukan sekadar berangkat dari rumah menuju tempat kerja.

Mereka meninggalkan keluarga tanpa kepastian dapat kembali sesuai jadwal. Mereka menghabiskan waktu berjam-jam di pos pemeriksaan, kemudian menghadapi kemungkinan ditangkap atau dideportasi jika ditemukan berada di wilayah Israel tanpa izin.

Lembaga hak tahanan: pekerja menjadi sasaran

Lembaga-lembaga urusan tahanan Palestina mengatakan pekerja Palestina menjadi sasaran penangkapan, pengejaran, dan perlakuan buruk.

Menurut lembaga tersebut, pelanggaran dapat dimulai sejak penangkapan dan berlanjut selama penahanan dalam kondisi yang mereka sebut merendahkan dan tidak manusiawi. Mereka juga melaporkan adanya penghinaan serta kekerasan fisik dan psikologis.

Lembaga-lembaga itu menilai alasan memasuki atau bekerja tanpa izin digunakan untuk memburu dan menangkap pekerja Palestina. Menurut mereka, praktik tersebut menghalangi hak pekerja untuk mencari nafkah secara layak.

Mereka menyerukan penghentian praktik tersebut dan pertanggungjawaban terhadap pihak yang dianggap bertanggung jawab.

Peluru di tengah perjalanan mencari nafkah

Risiko yang dihadapi pekerja tidak berhenti pada penangkapan.

Lembaga hak asasi manusia Al-Haq mendokumentasikan kematian pekerja Palestina Mustafa Taloul, 30 tahun, pada Juni 2025. Ia syahid ketika berusaha bersama sejumlah pekerja lain melewati pagar pemisah untuk mencapai tempat kerjanya di Israel.

Berdasarkan penyelidikan Al-Haq dan kesaksian seorang pekerja yang berada bersamanya, kelompok tersebut ditembaki dari jarak dekat. Tembakan itu menyebabkan Taloul syahid dan dua pekerja lainnya terluka.

Pasukan Israel kemudian menangkap pekerja lainnya dan menahan mereka selama beberapa jam.

Menurut Al-Haq, insiden tersebut terjadi setelah izin kerja dihentikan dan ketika pekerja Palestina terpaksa mencari jalur tidak resmi untuk mendapatkan penghasilan.

Ekonomi yang mendorong pekerja mengambil risiko

Pada akhirnya, pekerja Palestina berada di antara dua tekanan: kondisi ekonomi Tepi Barat yang sulit dan kebijakan Israel yang membuat akses ke pasar kerja semakin rumit dan berisiko.

Pembatasan pergerakan mempersempit akses terhadap sumber pendapatan. Pada saat yang sama, menyusutnya kesempatan kerja membuat sebagian keluarga tetap bergantung pada penghasilan dari pekerjaan di Israel, meski risikonya tinggi.

Data kemanusiaan menunjukkan sistem pos pemeriksaan dan perizinan Israel tidak hanya membatasi pergerakan warga Palestina. Dampaknya juga menjalar ke kemampuan mereka memperoleh penghasilan dan mengakses layanan dasar, sementara ekonomi Palestina sendiri masih menghadapi berbagai persoalan yang menumpuk.

Bagi seorang pekerja, perjalanan mencari nafkah akhirnya bukan sekadar perjalanan menuju tempat kerja.

Di belakang setiap pekerja yang berusaha melewati pos pemeriksaan ada keluarga yang menunggu penghasilannya. Dan di balik antrean panjang di setiap pos, ada kebutuhan sederhana untuk mendapatkan upah yang cukup membeli makanan, obat, dan membiayai pendidikan anak.

Sumber: Pusat Informasi Palestina

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here