Hamas menyerukan kepada rakyat Arab dan Muslim untuk meningkatkan aksi solidaritas serta protes terhadap agresi yang kembali dilancarkan oleh Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, terhadap Gaza. Hamas meminta masyarakat dunia untuk mengutuk kejahatan Israel serta dukungan Amerika Serikat terhadapnya.
Dalam pernyataannya, Hamas mengajak massa untuk mengepung kedutaan Israel dan AS di berbagai negara, mengibarkan bendera Palestina, serta mengerahkan segala upaya dalam mendukung hak-hak rakyat Palestina.
Hamas juga menegaskan perlunya persatuan dalam menghadapi kejahatan perang yang dilakukan Israel serta menyerukan penegakan hukum internasional terhadap Netanyahu dan pemerintahannya.
Di sisi lain, Taheer al-Nounou, penasihat media pemimpin politik Hamas, mengatakan bahwa pihaknya terus berkomunikasi dengan para mediator dan pihak internasional untuk menghentikan agresi Israel.
Ia menegaskan bahwa tidak perlu ada perjanjian baru, mengingat kesepakatan gencatan senjata yang sudah ada telah ditandatangani oleh semua pihak dengan dukungan internasional.
Pejabat Hamas, Mahmoud Mardawi, juga menyatakan bahwa Hamas sedang menghubungi para mediator untuk menekan Israel agar mematuhi perjanjian gencatan senjata yang dimediasi oleh Qatar, Mesir, dan AS.
Menurutnya, Israel tidak akan mendapatkan tawanan mereka yang ditahan oleh perlawanan Palestina kecuali mereka menyelesaikan tahap-tahap perjanjian yang telah disepakati.
Mardawi menuduh Netanyahu mencoba menegosiasikan pertukaran tawanan dengan standar yang hanya menguntungkan Israel. Ia juga mengungkapkan bahwa Netanyahu awalnya menyetujui tahap pertama kesepakatan hanya demi meredam kemarahan Presiden AS saat itu, Donald Trump, tetapi menolak melanjutkan tahap kedua dan ketiga.
Juru bicara Hamas, Abdel Latif al-Qanou, mengkritik penutupan Jalan Salah al-Din oleh Israel yang menghubungkan Gaza utara dan selatan. Ia menyebutnya sebagai pelanggaran penuh terhadap perjanjian gencatan senjata dan bentuk pengetatan blokade terhadap Gaza, terutama di bulan Ramadan yang seharusnya dihormati.
Di sisi lain, Menteri Keuangan Israel, Bezalel Smotrich, mengancam akan keluar dari pemerintahan jika Netanyahu melanjutkan kesepakatan pertukaran tawanan.
Sementara itu, Netanyahu berusaha mengembalikan Itamar Ben-Gvir ke dalam kabinetnya demi mengamankan pengesahan anggaran, dengan syarat melanjutkan perang di Gaza.
Mardawi menuding Ben-Gvir berambisi menjalankan rencana Trump untuk memaksa warga Gaza keluar melalui pembantaian dan pengusiran massal. Namun, ia menegaskan bahwa keteguhan rakyat Palestina akan menggagalkan semua rencana kolonial Israel, termasuk aneksasi Tepi Barat.
Sementara itu, pemerintah Israel telah menutup perbatasan Gaza, menghentikan distribusi bantuan kemanusiaan bagi lebih dari dua juta warga Palestina, dan meningkatkan serangan ke wilayah perbatasan sebelum melancarkan serangan mendadak pada Selasa dini hari.
Serangan ini menghantam puluhan rumah warga dan menyebabkan lebih dari 400 korban jiwa.
Sumber: Al Jazeera, Anadolu