NEW YORK — Tur dunia Loop Tour milik penyanyi papan atas asal Inggris, Ed Sheeran, mendadak berubah menjadi panggung ketegangan politik dan industri hiburan di Amerika Serikat. Gesekan ini memuncak setelah aksi panggung penyanyi rap Macklemore yang menyerukan dukungan untuk Palestina berujung pada intervensi agresif dari para pemilik stadion berpengaruh di Negeri Paman Sam.

Insiden tersebut memicu perdebatan sengit terkait garis batas antara kebebasan berekspresi para seniman dan kontrol kapitalis yang berpihak pada Israel.

Siapa Milyarder Robert Kraft?

Di balik dinamika ini, muncul nama Robert Kraft, pengusaha kawakan berdarah Yahudi-Amerika. Kraft membangun kekayaannya dari industri kertas sebelum akhirnya menjelma menjadi salah satu patron paling berpengaruh di ranah olahraga dan hiburan AS.

Nama Kraft melejit usai mengambil alih klub American Football, New England Patriots, pada 1992 silam senilai 172 juta dolar AS, yang kini nilainya telah melambung hingga 3,7 miliar dolar AS. Pemilik Stadion Gillette di Foxborough, Massachusetts, ini juga dikenal memiliki relasi politik yang amat gurih, termasuk gelontoran dana senilai 1 juta dolar AS untuk merayakan pelantikan Presiden Donald Trump pada 2017.

Kraft dikenal sebagai penyokong gigih Israel dengan rekam jejak donasi jutaan dolar AS untuk pengembangan olahraga di sana. Pada 2019, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bahkan menganugerahinya Genesis Prize (yang kerap dijuluki “Hadiah Nobel Yahudi”) seraya menyapa Kraft sebagai “sahabat sejati Israel”.

Namun, rekam jejak Kraft tak sepi dari kontroversi. Namanya sempat muncul dalam dokumen rahasia milik terpidana kejahatan seksual, Jeffrey Epstein, yang dirilis Kementerian Kehakiman AS. Dalam berkas tersebut, Epstein tercatat pernah membahas persoalan sensitif yang melibatkan Kraft dengan pengacaranya pada 2008.

Awal Mula Krisis di New Jersey

Pematik krisis ini terjadi pada 4 September lalu di Stadion MetLife, East Rutherford, New Jersey. Saat tampil mengisi pembuka konser Sheeran, Macklemore secara terbuka meneriakkan seruan “Free Palestine” di hadapan puluhan ribu penonton.

Aksi tersebut langsung memantik reaksi keras dari jajaran pemilik stadion di AS yang mayoritas bertaut erat dengan kepentingan pro-Israel, dengan Kraft berada di barisan terdepan.

Kondisi ini menjepit posisi Sheeran. Pelantun lagu Shape of You itu sebelumnya selalu berusaha menjaga posisi netral secara politik, bahkan sempat menegaskan lewat media sosial bahwa panggung konsernya bukanlah arena kampanye.

Intervensi Kraft dan Gelombang Pengunduran Diri

Reaksi Kraft tergolong cepat dan tegas. Lewat unggahan Macklemore di Instagram, terungkap bahwa Kraft menyampaikan ancaman langsung kepada Sheeran: ia melarang keras Macklemore melangkah ke panggung Stadion Gillette untuk jadwal konser tanggal 25 dan 26 September.

Tidak berhenti di situ, Kraft memobilisasi para pemilik stadion lainnya untuk memberikan ultimatum senada kepada Sheeran. Jika Macklemore tetap diikutsertakan dalam tur, Sheeran mengancam bakal kehilangan izin tampil di berbagai stadion utama.

Terdesak oleh ancaman pembatalan tur, pihak penyelenggara akhirnya mencoret nama Macklemore dari daftar penampil. Sheeran sendiri berupaya mencuci tangan atas keputusan tersebut dengan melempar tanggung jawab penuh kepada pihak promotor.

Keputusan menundukkan kepala pada tekanan pemilik modal ini berbuntut panjang. Sheeran panen kritik, dituduh lemah, dan diterpa gelombang seruan boikot dari publik.

Sebagai bentuk solidaritas terhadap Macklemore dan warga Palestina, empat musisi lain yang dijadwalkan menjadi pemusik pembuka serentak mengundurkan diri. Sheeran pun mendadak terisolasi di panggungnya sendiri tanpa pemusik pembuka.

Permintaan Maaf di Philadelphia

Mencoba memecah kebuntuan, Sheeran meluapkan penyesalannya saat tampil di Stadion Lincoln Financial Field, Philadelphia, pada 19 September. Di hadapan penonton, ia menyampaikan permohonan maaf dan mengakui telah mengambil langkah yang salah.

“Saya meminta maaf yang sebesar-besarnya. Saya sangat, sangat menyesal,” ujar Sheeran emosional, menandai balik arah dari posisi netral yang selama ini ia pegang.

Sambil melayangkan kritik pada pemilik stadion yang membatasi ruang berekspresi musisi, Sheeran secara terbuka mengecam tindakan militer Israel di Jalur Gaza yang ia sebut sebagai bencana yang tak dapat dibenarkan dan sangat tidak proporsional. Ia juga menyentil praktik ketidakadilan sistematis serta perluasan pemukiman ilegal di Tepi Barat.

Demi menyelamatkan penampilannya malam itu, Sheeran terpaksa naik panggung sendirian sebelum akhirnya dibantu oleh lima musisi tambahan yang baru berlatih lagu-lagunya selama tiga hari.

Eskalasi Dukungan untuk Palestina

Di luar arena stadion di Philadelphia, puluhan demonstran membentangkan bendera Palestina dan memekikkan seruan penolakan terhadap aksi pembungkaman tersebut.

Para penonton yang hadir pun terbelah. Sebagian menganggap panggung musik seharusnya steril dari diskursus politik, namun tak sedikit pula yang menilai aksi penekanan terhadap seniman yang menyuarakan kemanusiaan sebagai bentuk kesewenang-wenangan modal.

Insiden ini mempertegas makin derasnya gelombang penolakan di AS dan Eropa terhadap agresi militer di Gaza, yang sejak Oktober 2023 telah menelan korban lebih dari 73 ribu jiwa rakyat Palestina dan melukai ratusan ribu lainnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here