RAMALLAH — Eskalasi militer Israel di Tepi Barat yang diduduki kian tak terhindarkan. Pada Kamis (17/9) waktu setempat, pasukan teroris militer melancarkan rentetan operasi penculikan masal, penggusuran hunian warga, hingga kebrutalan di Kamp Al-Ain, Kota Nablus, yang memicu korban luka di pihak warga sipil.
Keterangan resmi Pemerintah Daerah Al-Quds mengonfirmasi bahwa pasukan Israel menerobos masuk ke Kota Abu Dis, sebelah timur Al-Quds. Puluhan warga lokal ditangkap dan diinterogasi secara mendadak setelah tentara menguasai serta mengalihfungsikan markas Klub Abu Dis menjadi pusat pemeriksaan lapangan.
Penggusuran juga merembet ke kawasan Wa’ar Al-Baik di Kota Anata, utara-timur Al-Quds. Buldoser militer meratakan lima hunian seng dan satu kandang ternak. Langkah destruktif ini mengeksekusi puluhan surat peringatan pembongkaran dengan dalih klasik: tidak memiliki izin mendirikan bangunan. Akibat penggusuran tersebut, sekitar 30 warga kini kehilangan tempat tinggal dan kehilangan mata pencaharian.
Proyek Proyek Permukiman “E1” Mulai Dibuka
Tak berhenti pada pembongkaran, otoritas Israel mempercepat rencana perluasan wilayah dengan membuka tender pembangunan 2.167 unit permukiman baru dalam proyek “E1”, wilayah strategis yang membentang di antara Al-Quds dan permukiman Ma’ale Adumim.
Kementerian Pembangunan dan Perumahan Israel telah memperbarui jadwal tender, menargetkan pengajuan penawaran dibuka pada 25 Oktober mendatang hingga 21 Desember. Langkah ini melengkapi tender sebelumnya yang meluncur pada pertengahan Agustus lalu untuk 1.234 unit.
Dengan demikian, seluruh alokasi 3.401 unit permukiman yang direncanakan dalam skema “E1” resmi dijalankan.
Selain area hunian, tender untuk kawasan industri dan perdagangan seluas 1.355 dunam di timur Anata juga disiapkan. Tender zona bisnis ini dijadwalkan dibuka pada November mendatang dan ditutup awal Januari 2027.
Proyek “E1” pertama kali dirancang pada medio 1990-an, namun kerap tertunda akibat tekanan internasional dari Amerika Serikat dan Uni Eropa. Kendati demikian, pemerintah Israel saat ini memilih mengabaikan penolakan global dan merealisasikannya secara bertahap.
Peringatan Keras dari Presidensi Palestina
Juru Bicara Kepresidenan Palestina, Nabil Abu Rudeineh, mengecam keras langkah tersebut. Ia menegaskan bahwa pembukaan tender permukiman merupakan eskalasi berbahaya yang melanggar hukum internasional dan resolusi PBB.
“Pemerintah pendudukan terus memaksakan realitas kolonial di lapangan. Ini adalah tantangan terbuka terhadap kehendak masyarakat internasional,” ujar Abu Rudeineh.
Ia mengingatkan bahwa skema “E1” dirancang untuk memutus konektivitas geografis wilayah Palestina, merobek keutuhan tanah, dan secara sengaja mematikan peluang berdirinya Negara Palestina yang merdeka dengan ibu kota Al-Quds Timur.
Pengepungan Kamp Al-Ain dan Kekerasan di Berbagai Kota
Di wilayah utara Tepi Barat, armada kendaraan lapis baja mengisolasi total Kamp Al-Ain di barat Nablus. Tentara bergerak menyisir pemukiman, menggerebek rumah-rumah warga, dan mengubah salah satunya menjadi markas militer temporary serta pusat interogasi lapangan.
Kantor berita resmi Palestina, WAFA, melaporkan bahwa tentara menggunakan pengeras suara untuk memaksa warga di sekitar Jalan As-Sikka mengosongkan rumah mereka. Sementara itu, Perhimpunan Bulan Sabit Merah Palestina mengonfirmasi harus mengevakuasi dua pemuda ke rumah sakit akibat penganiayaan berat oleh prajurit Israel di dalam kamp.
Kekerasan berlanjut ke Kota Qalqilya. Penggerebekan di Desa Hajja berujung pada penangkapan 23 pemuda. Dalam operasi terpisah di pusat kota Qalqilya, tembakan peluru tajam dan gas air mata menyebabkan tiga warga menderita luka tembak tingkat menengah dan harus dilarikan ke Rumah Sakit Pemerintah Darwish Nazzal.
Di wilayah selatan, tentara mengisolasi warga saat menyergap Kota Halhul di utara Hebron. Pada saat bersamaan, kelompok pemukim melempar bahan peledak hingga membakar sebuah fasilitas pertanian di timur Yatta. Militer Israel turut membongkar bengkel perbaikan kendaraan di Desa Duma dengan alasan bangunan berdiri tanpa izin di area bawah kendali Israel.
Eskalasi harian ini mempertegas situasi kritis di Tepi Barat dan Yerusalem Timur. Di tengah penggerebekan rutin militer, tindakan kekerasan yang melibatkan sekitar 750 ribu pemukim Israel terus membayangi kehidupan warga Palestina—mulai dari perusakan lahan, pembakaran fasilitas umum, hingga upaya paksa mengusir warga dari tanah kelahiran mereka.










