AL-QUDS — Ratusan pemukim Yahudi kembali menerobos kawasan Kompleks Masjid Al-Aqsa di Al-Quds Timur yang diduduki pada Ahad (13/9). Aksi provokatif yang dikawal ketat aparat kepolisian Israel ini berlangsung serentak dengan dimulainya rangkaian perayaan Tahun Baru Ibrani (Rosh Hashanah), di tengah gelombang penangkapan dan penggerebekan yang menyasar belasan warga Palestina di Tepi Barat.
Laporan resmi Kantor Gubernur Al-Quds mencatat setidaknya 480 pemukim Yahudi melintasi Gerbang Al-Magharbah (Moroccan Gate) untuk masuk ke pelataran Al-Aqsa. Di bawah pengawalan ketat polisi, para pemukim mengelilingi area masjid sembari menggelar ritual Talmud.
Penyerbuan massal ini terjadi setelah kelompok radikal yang menamakan diri “Organisasi Kuil” (Temple Mount Organizations) melayangkan seruan terbuka kepada warga Yahudi untuk mendatangi Al-Aqsa secara masif. Mereka berupaya memaksakan ritual keagamaan baru di dalam kompleks suci umat Islam tersebut demi memperingati libur tahun baru.
Untuk memuluskan aksi pemukim, aparat keamanan Israel memperketat penjagaan di sekitar kawasan Kota Tua dan akses menuju Masjid Al-Aqsa. Pengetatan ini dibarengi pembatasan ketat atas mobilitas warga Muslim Palestina, mulai dari penutupan akses jalan hingga pemeriksaan intensif di pintu-pintu masuk.
Penggerebekan Masif di Tepi Barat: Dua Anak Kecil Turut Diciduk
Pada saat yang sama, pasukan militer Israel menggeledah sejumlah wilayah di Tepi Barat sejak Ahad dini hari. Berdasarkan laporan di lapangan, sebanyak 11 warga Palestina ditangkap dalam operasi penggerebekan tersebut, termasuk dua anak di bawah umur.
Di Wilayah Jenin, militer menyergap Kota Jenin serta sembilan desa dan belakangan sekitarnya, termasuk Deir Abu Da’if, Jalbun, Al-Hashimiya, Burqin, Rummanah, Zabuba, Silat al-Harithiya, Arraba, dan Ya’bad. Delapan warga setempat diculik setelah tentara menggeledah rumah-rumah warga dan menggelar pemeriksaan lapangan secara paksa.
Sikap represif aparat militer juga menyasar Kabupaten Bethlehem. Pasukan merangsek ke area Jalan Al-Saff dan menangkap dua anak laki-laki yang masih belia, yaitu Majid Maher Abdel Fattah (15 tahun) dan Ahmad Mahmoud Shawka (14 tahun).
Operasi serupa juga meluas ke kawasan Al-Ubeidiya, Za’atara, Al-Shawawra, dan Dar Salah, meski tidak ada laporan penangkapan tambahan di empat lokasi terakhir.
Sementara itu di Tubas, seorang warga ditangkap setelah rumahnya di daerah Tammun digeledah. Kendaraan militer Israel juga dilaporkan menerobos Kota Qalqilya melalui pintu selatan, menyisir wilayah Al-Naqar dan Kafr Saba, serta memblokir kawasan Azzun sebelum akhirnya ditarik mundur.
Pola Eskalasi Jelang Hari Besar
Maraknya aksi penyerbuan dan penangkapan ini menandai tingginya ketegangan jelang rangkaian Hari Besar Yahudi (High Holy Days). Kalender perayaan ini dimulai dari Tahun Baru Ibrani pada 12-13 September, berlanjut ke Hari Penebusan (Yom Kippur) pada 21 September, dilanjutkan Festival Tabernakel (Sukkot) pada 26 September hingga 2 Oktober, dan ditutup dengan Simchat Torah pada 3 Oktober mendatang.
Di momen-momen inilah, pengetatan ruang gerak bagi warga Palestina serta eskalasi serbuan pemukim ke situs-situs suci biasanya melonjak drastis, memicu kekhawatiran akan timbulnya gesekan yang lebih besar di Tepi Barat dan Yerusalem.









