GAZA — Krisis kemanusiaan mendalam terus mencengkeram dunia pendidikan di Jalur Gaza menjelang dimulainya tahun ajaran baru (2026-2027). Sekitar 100 ribu siswa terancam kehilangan hak dasar mereka untuk mengenyam pendidikan yang layak setelah militer Israel menghancurkan tak kurang dari 95 persen fasilitas serta bangunan sekolah di seluruh kawasan tersebut, merujuk data Kantor Media Pemerintah di Gaza.
Dalam laporan wartawan Al Jazeera, Ghazal Al-Aloul, potret kepiluan itu tampak makin kentara di dalam tenda-tenda darurat yang difungsikan sebagai kelas pengganti. Tenda-tenda berdebu itu berdiri tanpa fasilitas paling mendasar yakni tak ada meja, bangku, perlengkapan tulis, apalagi buku pelajaran.
Ketiadaan sarana ini merupakan dampak langsung dari pembatasan ketat yang terus diterapkan otoritas pendudukan Israel terhadap masuknya barang bantuan.
Mayar, seorang murid di Gaza, menjadi salah satu wajah dari tragedi ini. Ia melangkah ke tenda belajarnya tanpa tas sekolah. Di tangannya hanya ada dua buah buku tulis tipis tanpa perlengkapan lain. Baginya, membaca dan memahami pelajaran di bawah kondisi sekadarnya seperti ini adalah perjuangan yang teramat berat.
Ibu guru Shaimaa memberikan peringatan serupa. Ketiadaan alat tulis dan buku membuat metode pembelajaran (khususnya bagi anak-anak di tingkat dasar) berubah drastis menjadi sekadar “dikte lisan”. Tanpa praktik menulis dan mengenalkan huruf secara visual, tumbuh kembang akademis anak-anak Gaza berada dalam ancaman serius.
Ketua Serikat Guru Palestina, Khairi Atallah, menyoroti betapa terpukulnya dunia pendidikan di sana. Tanpa adanya ruang kelas yang memadai dan sarana pendukung, sekitar 100 ribu pelajar di Gaza benar-benar terampas hak alaminya untuk menuntut ilmu secara wajar.
Tiga Tahun Terjebak ‘Skeptisisme Pendidikan’
Dunia pendidikan di Gaza kini berada dalam status darurat yang telah berlangsung selama lebih dari tiga tahun. Kata “sekolah” yang identik dengan ruang kelas beratap solid dan berfasilitas lengkap, kini berganti menjadi tenda kain seadanya tanpa meja maupun kursi.
Namun di tengah serba keterbatasan itu, anak-anak Gaza memilih pantang menyerah dan terus menggantungkan asa pada lembar-lembar pelajaran yang tersisa.
Pada Februari lalu, Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) melaporkan sekitar 90 persen gedung sekolah di Gaza rusak berat atau hancur total akibat gempuran militer Israel. Sekolah-sekolah milik UNRWA yang bangunan fisiknya masih berdiri tegak pun tak lagi berfungsi sebagai tempat belajar, melainkan beralih fungsi menjadi kamp pengungsian bagi ribuan warga yang kehilangan tempat tinggal.
Laporan komprehensif dari Universitas Cambridge, Inggris, bahkan menyebut fenomena runtuhnya dunia pendidikan di Gaza ini sebagai tindakan “scholasticide” atau pembunuhan sistematis terhadap akses pendidikan. Penghancuran total maupun sebagian atas mayoritas sekolah telah melumpuhkan seluruh sistem pendidikan dari hulu ke hilir.
Studi Cambridge tersebut juga mendokumentasikan gugurnya ribuan pelajar serta ratusan guru dan akademisi, sebuah kehilangan besar yang mengikis keberadaan generasi terpelajar di Gaza. Ditambah lagi, trauma psikologis berkepanjangan akibat perang diprediksi bakal mengganggu kemampuan belajar anak-anak hingga bertahun-tahun ke depan, terlebih di tengah ketiadaan lingkungan yang aman dan dukungan psikososial yang memadai.










