RAMALLAH — Otoritas Penjajah Israel membebaskan seorang tahanan politik Palestina, Hassan Arar, setelah mendekam selama 22 tahun di balik jeruji besi pada Kamis (27/8). Namun, kebebasan yang dinantikan tersebut disambut kabar duka yang menyayat hati.

Lembaga Klub Tahanan Palestina (Palestinian Prisoners Club) mengonfirmasi bahwa Hassan Arar (44 tahun), warga asal Desa Qarawat Bani Zeid di barat laut Ramallah, baru mengetahui kematian kedua orang tuanya tepat setelah ia dibebaskan.

Selama bertahun-tahun di dalam penjara, ia sama sekali tidak diberi tahu tentang wafatnya sang ayah dan ibu, apalagi diberi kesempatan untuk memberikan penghormatan terakhir. Tak hanya kedua orang tuanya, Arar juga kehilangan dua orang saudaranya selama masa penahanan.

Kebijakan Isolasi dan Pemutusan Informasi

Klub Tahanan Palestina menegaskan bahwa nasib tragis yang dialami Arar mencerminkan realitas kelam yang dipikul oleh banyak tahanan Palestina lainnya. Otoritas penjara Israel secara konsisten menerapkan kebijakan pembatasan komunikasi ketat yang memutus hubungan antara tahanan dan keluarga mereka.

Kondisi ini berlangsung jauh lebih memprihatinkan bagi para tahanan asal Jalur Gaza. Sejak eskalasi militer meluas, mereka diisolasi penuh dari keluarga, sementara informasi mengenai nasib dan keberadaan banyak Tahanan Gaza masih gelap hingga kini.

Sesaat setelah diresmikan bebas, Arar langsung dilarikan ke Rumah Sakit Istishari di Kota Ramallah akibat kondisi fisiknya yang sangat lemah. Ia tampak kelelahan hebat dan bersusah payah untuk sekadar mengucap sepatah kata. Begitu menerima kabar kematian ayah dan ibunya, ia tak sanggup menahan rasa duka dan pecah dalam tangis.

Arar dibebaskan dari Penjara Gilboa dengan kondisi kesehatan yang memprihatinkan akibat penganiayaan berat yang dialaminya dari pasukan penjara pada hari-hari terakhir menjelang kebebasannya. Ayah Arar diketahui meninggal dunia pada Januari lalu, sementara ibunya telah lebih dulu berpulang pada 2024.

Selama 22 tahun masa hukuman, Arar juga berkali-kali dijebloskan ke sel isolasi mandiri (solitary confinement). Kepada pengacaranya, ia sempat mengeluhkan siksaan fisik serta penderitaan akibat dirampasnya hak-hak dasar sebagai manusia.

“Merek Menyerang Tanpa Henti”

Dalam kesaksiannya kepada Al-Jazeera usai dibebaskan, Arar menggambarkan situasi di dalam penjara sebagai bentuk penindasan yang brutal. Ia menyebut para tahanan menjadi sasaran pemukulan harian serta berbagai metode penyiksaan fisik tanpa diskriminasi.

“Mereka tidak menginginkan kami hidup. Mereka ingin kami mati dalam kelaparan,” tutur Arar.

Ia membeberkan bahwa tindak kekerasan fisik terus berlangsung sejak ia dikeluarkan dari sel tahanan sehari sebelum pembebasan, melintasi ruang medis, bus pengangkut (bosta), hingga saat dipindahkan ke Pos Pemeriksaan Jalama di utara Tepi Barat.

Krisis Kemanusiaan di Penjara Israel

Data dari lembaga-lembaga advokasi tahanan Palestina mencatat saat ini ada sekitar 9.400 warga Palestina yang mendekam di penjara-penjara Israel. Sejak konflik meluas pada Oktober 2023, seluruh Tahanan dilarang menerima kunjungan keluarga maupun perwakilan Komite Internasional Palang Merah (ICRC), di samping terus menghadapi pelanggaran hak asasi yang berat.

Sementara itu, situasi di Tepi Barat terus memburuk seiring meningkatnya penyerangan oleh militer dan kelompok pemukim. Data Klub Tahanan Palestina mencatat serangan tersebut telah mengakibatkan lebih dari 1.183 warga Palestina syahid, lebih dari 13 ribu orang luka-luka, sekitar 25 ribu jiwa ditangkap, serta menyebabkan 33 ribu warga terpaksa mengungsi dari tempat tinggal mereka.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here