KHAN YOUNIS — Di tengah kegelapan total akibat krisis listrik yang melumpuhkan Jalur Gaza, terik matahari kini menjadi satu-satunya tumpuan harapan. Di kamp-kamp pengungsian kawasan Al-Mawasi, Khan Younis, warga yang terisolasi terus memutar otak untuk bertahan hidup lewat inisiatif mandiri: mengolah energi surya untuk mengisi daya ponsel dan baterai.
Di tengah larangan ketat militer Israel atas masuknya peralatan energi terbarukan ke Gaza, penyediaan jasa isi ulang daya ini bertransformasi dari sekadar bantuan darurat menjadi satu-satunya sumber penghasilan bagi sebagian warga pengungsi.
Salah seorang pengungsi menuturkan kepada Al Jazeera, ia sengaja memboyong panel surya miliknya sejak pertama kali terusir dari Kota Rafah. Panel tersebut terus ia bawa ke mana pun melangkah dari satu lokasi pengungsian ke lokasi lainnya, sebab benda itu kini menjadi ‘urat nadi’ perekonomian keluarganya.
Ia lantas membuka lapak pengisian daya ponsel sederhana berbekal satu panel surya di Al-Mawasi. Kendati hasilnya jauh dari kata cukup, usaha minim modal ini menjadi satu-satunya cara untuk menyambung hidup anak dan istrinya.
“Saya mengenakan tarif satu syekel (sekitar Rp4.500) untuk satu kali pengisian ponsel. Namun, pendapatan harian saya paling banyak hanya mencapai 20 syekel (sekitar 6,5 dolar AS). Angka ini tentu tak sebanding dengan melambungnya harga bahan pokok di pasar,” tuturnya.
Hasil yang tak seberapa itu kerap habis hanya untuk membeli sedikit makanan bagi anak-anaknya. “Apakah uang seabsurd ini cukup untuk membeli makanan atau memenuhi kebutuhan rumah tangga di tengah kehancuran ekonomi Gaza?” keluhnya.
Bertaruh Risiko di Bawah Terik Tenda
Usaha ini nyatanya tak cuma menghadirkan pendapatan yang sangat pas-pasan, tetapi juga beban dan risiko besar. Pengelola lapak harus bertanggung jawab penuh jika terjadi kerusakan pada ponsel atau perangkat pengisi daya milik pelanggan.
Di tengah harga pengisi daya (charger) yang melonjak drastis dan nilai ponsel pelanggan yang mencapai ribuan syekel, risiko mengganti kerusakan menjadi ancaman nyata yang berada di luar batas kemampuannya.
“Saya harus mengawasi ponsel-ponsel ini tanpa henti. Saya takut terjadi overcharging atau perangkat meledak karena suhu udara yang sangat panas di dalam tenda,” jelasnya. Tanpa adanya kipas angin dan listrik pendukung, ia harus berdiri berjam-jam di samping perangkat untuk memantau arus listrik secara manual.
Kendati demikian, kebutuhan warga pengungsi akan daya listrik tetap sangat tinggi. Ponsel menjadi satu-satunya jendela informasi bagi mereka untuk memantau kabar berita serta berkomunikasi dengan sanak saudara yang terpisah. Bagi warga yang kehabisan uang, satu kali pengisian daya harus cukup dihemat untuk penggunaan seharian penuh.
Krisis Likuiditas dan Piutang Pengungsi
Sengkarut ekonomi kian parah akibat krisis uang tunai (likuiditas) yang melanda Gaza. Tak jarang pelanggan terpaksa berutang atau hanya membayar separuh dari tarif yang ditentukan.
“Banyak yang meminta dicatat sebagai utang sampai mereka memegang uang tunai. Saya sering kali mengalah dan membiarkan mereka bayar nanti atau bayar seadanya. Kami semua sama-sama menderita di kamp ini,” katanya.
Bagi sang pemilik panel surya, menghindari perselisihan dengan sesama pengungsi jauh lebih penting ketimbang mengejar untung. Di tengah krisis energi yang sengaja diciptakan di Gaza selatan, pendar sinyal ponsel dari sekeping panel surya ini bukan sekadar urusan bisnis, melainkan simbol perlawanan kecil untuk bertahan hidup di tanah pengungsian.










