PARIS — Harian terkemuka Prancis, Le Monde, menerbitkan tajuk rencana (editorial) tajam yang membedah kian masifnya aksi kekerasan pemukim Yahudi di Tepi Barat. Harian itu menegaskan satu kenyataan berdarah: semakin luas pemukiman ilegal didirikan, semakin deras pula api kekerasan terpecik. Tanpa adanya tekanan internasional yang konkret dan berbobot, status quo kelam ini dipastikan tak akan pernah bergeser.

Sorotan utama Le Monde bermula dari insiden berdarah pada Jumat (24/07/2026) lalu. Bentrokan yang menelan korban jiwa empat warga Palestina dan dua warga Israel tersebut dipicu oleh serbuan pemukim bersenjata ke sebuah desa Palestina di dekat Nablus.

Tajuk rencana itu mencatat bahwa serangan teror semacam ini kini tak lagi menjadi peristiwa langka, melainkan telah bergeser menjadi rutinitas harian yang menakutkan.

Aliansi Politik Kompromistis dan Pembangkangan Hukum

Le Monde menilai perkawinan politik antara kelompok sayap kanan ekstrem yang rasialis dengan Partai Likud besutan Prime Minister Benjamin Netanyahu kian tak terkendali. Demi mengamankan takhta kekuasaan, Netanyahu secara praktis menyerahkan kendali dan wewenang penuh atas wilayah Tepi Barat kepada faksi radikal tersebut.

Kongkalikong politik ini terpampang nyata pada 24 Juli lalu, ketika Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, tertangkap kamera mengunjungi seorang pemukim Yahudi di dalam tahanan. Pemukim tersebut ditangkap atas keterlibatannya dalam serangan brutal di desa Palestina pada Maret lalu dan tengah melakoni aksi mogok makan. Simpati terbuka dari pejabat tinggi militer ini mempertegas kemana arah keberpihakan pemerintah.

Sejak akhir 2022, kabinet Netanyahu terus memacu pembangunan pemukiman yang jelas-jelas tergolong ilegal menurut hukum internasional. Langkah ini mempercepat proses pengusiran paksa warga lokal Palestina dari tanah kelahiran mereka.

Militer Israel pun terbukti mandul dalam meredam aksi kelompok pemukim ekstremis ini, sebuah fenomena yang bahkan oleh sebagian warga Israel sendiri disematkan label sebagai bentuk “terorisme domestik”.

Impunitas Global dan Keberanian Palsu Eropa

Penyimpangan ini kian mulus lantaran dinikmati dalam iklim impunitas penuh di panggung internasional. Pemerintahan Presiden AS Donald Trump resmi mencabut sanksi terhadap sejumlah pemukim Yahudi paling berbahaya, sanksi yang sebelumnya disahkan secara setengah hati oleh pemerintahan Joe Biden.

Sementara itu di benua Eropa, jargon perlindungan hak asasi manusia dan penolakan atas pemukiman ilegal terbukti cuma pemanis bibir. Keberanian politik negara-negara Eropa menguap dalam retorika dan rilis pers yang tak bergigi.

Dari sekian banyak negara Eropa, hanya Spanyol dan Irlandia yang berani mengambil langkah konkret dengan melarang secara total impor produk-produk yang dihasilkan dari pemukiman ilegal Israel. Kendati demikian, Le Monde memberi catatan bahwa langkah simbolis dua negara tersebut belum cukup kuat untuk menghentikan mesin aneksasi raksasa yang terus merampas tanah Tepi Barat, wilayah yang sama sekali tak memiliki dasar klaim hukum bagi Israel.

Mesin Penggusuran yang Terus Melaju

Dua LSM terkemuka Israel, Peace Now dan Kerem Navot, secara konsisten membongkar manuver mesin pemukiman ilegal ini. Laporan mereka memaparkan bagaimana perampasan tanah Palestina, pengusiran komunitas lokal, hingga pembangunan jaringan jalan khusus pemukim Yahudi terus dipacu tanpa henti selama tiga tahun terakhir.

Le Monde menutup tajuk rencananya dengan sebuah kesimpulan pahit: tekanan internasional yang nyata dan memaksa adalah satu-satunya penawar untuk menekan laju ekspansi pemukiman serta lingkaran kekerasan di Tepi Barat.

Pasalnya, berharap pada perubahan internal politik Israel adalah hal yang sia-sia, bahkan para pesaing terkuat Netanyahu di arena pemilu mendatang sama sekali tak menunjukkan minat untuk menghentikan mesin kolonisasi tersebut.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here