GAZA — Kehidupan warga sipil di Jalur Gaza kini terjebak dalam pusaran yang tak kunjung usai: ancaman bahaya dan gempuran militer Israel yang memaksa mereka terus berpindah. Gelombang pengungsian seolah tak memiliki titik akhir, seiring langkah tentara pendudukan yang tak henti memburu keberadaan mereka dari satu titik ke titik lainnya.
Laporan koresponden Al Jazeera di Gaza, Ghazi Al-Aloul, menggambarkan betapa tipisnya harapan warga untuk sekadar meraskan rasa aman. Baru saja tiba di tempat pengungsian yang baru, perintah evakuasi dari militer Israel sudah kembali memutus asa. Warga Gaza benar-benar kehilangan hak paling mendasar untuk mendapatkan stabilitas hidup.
Seorang warga sipil menuturkan, ia baru saja menerima perintah evakuasi untuk yang keempat kalinya. Padahal, ia baru saja membuka kedai kecil di balik reruntuhan bangunan hancur demi menyambung hidup keluarga. Proses berpindah tempat ini menyisakan beban berat; jarak yang jauh harus ditempuh di tengah himpitan jutaan manusia yang berdesakan di ruang yang kian menyempit.
Militer Israel terus memperketat cengkeramannya, mengurung sekitar dua juta warga Palestina ke dalam wilayah yang tak lebih dari 30 persen dari total luas Jalur Gaza. Kondisi ini membuat tekanan di kamp-kamp penampungan berada di titik nadir.
Abu Mutlaq Muhaisen, seorang pengelola kamp pengungsian, mengungkapkan bahwa kamp-kamp yang ada sudah tak lagi sanggup menampung gelombang manusia yang datang. Tenda-tenda bantuan telah habis. Akibatnya, tak sedikit keluarga yang terpaksa tidur beratap langit terbuka tanpa perlindungan apa pun.
Skenario Sistematis Buat Gaza Tak Layak Huni
Penderitaan yang kian dalam ini dinilai bukan sekadar dampak sampingan dari operasi militer biasa. Pengamat politik Ahmed Al-Tanani menilai, langkah ini merupakan bagian dari skenario strategis Israel untuk mengubah Gaza menjadi kawasan yang hancur total, tak lagi dapat dihuni, dan terkubur di bawah puing-puing demi memperparah krisis kemanusiaan.
Dampak dari gempuran beruntun ini begitu masif. Data Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mencatat, sekitar 92 persen pemukiman warga di Jalur Gaza telah rusak, baik secara parsial maupun hancur lebur.
Kebijakan yang mengarah pada perubahan demografi dan geografi ini membuat Gaza kian sesak bagi penduduknya sendiri. Mereka terperangkap di antara reruntuhan bangunan, terisolasi dari akses kebutuhan dasar paling minimal untuk bertahan hidup.
Awal tahun ini, Direktur Eksekutif Kantor Layanan Proyek PBB (UNOPS), Jorge Moreira da Silva, mengungkapkan bahwa volume puing reruntuhan akibat serangan Israel di Gaza telah menembus angka 60 juta ton. Ia memperkirakan, proses pembersihan puing-puing mendasar itu saja bisa memakan waktu hingga lebih dari tujuh tahun.
Di lapangan, eskalasi serangan terhadap warga sipil justru kian intens. Jet-jet tempur melancarkan serangkaian serangan udara yang menghancurkan rumah-rumah warga di Kamp Al-Bureij (Gaza tengah), Kamp Jabalia (Gaza utara), serta kawasan pemukiman Al-Zaytoun, Al-Jalaa, dan Kamp Al-Maghazi. Serangan-serangan baru ini kembali menambah daftar panjang korban luka di pihak warga sipil.










