GAZA — Jet-jet tempur Israel melancarkan serangkaian serangan udara masif yang menghancurkan area pemukiman di Kamp Al-Bureij (Gaza Tengah), Kamp Jabalia (Gaza Utara), serta kawasan Al-Zaytoun, Jalan Al-Jalaa di Kota Gaza, dan Kamp Al-Maghazi. Gempuran yang memicu kobaran bola api besar dan kawah-kawah dalam di tanah ini melukai puluhan warga sipil.
Koresponden Al Jazeera melaporkan bahwa rangkaian serangan tersebut merupakan gelombang gempuran terbesar dan paling meluas di Jalur Gaza sejak kesepakatan gencatan senjata mulai berlaku.
Juru Bicara Pertahanan Sipil Gaza mengonfirmasi bahwa dalam beberapa jam terakhir, otoritas pendudukan Israel kembali mengeluarkan perintah evakuasi paksa (evacuation orders) yang menyasar bangunan pemukiman di enam wilayah terpisah di enklave tersebut.
Sebaran Korban dan Lokasi Serangan
Laporan dari sejumlah rumah sakit utama di Gaza mengonfirmasi jatuhnya korban luka-luka akibat gempuran udara bertubi-tubi tersebut:
- Kawasan Al-Zaytoun (Kota Gaza): Sumber dari Rumah Hospital Al-Ahli Baptist melaporkan sejumlah warga mengalami luka-luka akibat serangan yang meratakan sebuah bangunan pemukiman di tenggara Kota Gaza.
- Jalan Al-Jalaa (Kota Gaza): Sumber medis Rumah Sakit Al-Shifa mengonfirmasi dua warga terluka setelah rumah mereka dihantam rudal jelajah dari udara.
- Kamp Al-Maghazi (Gaza Tengah): Sumber-sumber lokal melaporkan jatuhnya korban luka-luka akibat serangan udara yang menyasar markas Perhimpunan Islam (Islamic Association) di tengah pemukiman padat penduduk.
Aksi Demonstrasi: “Seribu Hari Genosida”
Di tengah membubungnya asap pengeboman, berbagai elemen kekuatan nasional dan rakyat Palestina menggelar aksi demonstrasi massal di Kota Gaza. Aksi ini menuntut penghentian total perang genosida, pembukaan blokade, serta penolakan mutlak atas seluruh skenario pengusiran paksa (forced displacement).
Mengusung tema “Seribu Hari Genosida.. Gaza Bertahan dan Berteriak Menentang Kezaliman serta Keheningan Dunia”, para peserta mengibarkan bendera Palestina dan membentangkan poster-poster yang mengutuk pembiaran internasional atas krisis kemantuan yang menghimpit Gaza.
Warga mendesak komunitas internasional untuk segera menekan Israel agar menghentikan agresi, melindungi warga sipil, serta menjamin kelancaran distribusi bantuan kemanusiaan.
Sejak 8 Oktober 2023, militer Israel melancarkan perang genosida skala penuh di Gaza yang berlangsung selama dua tahun. Perang tersebut telah merenggut lebih dari 73 ribu jiwa, melukai lebih dari 173 ribu warga, serta menghancurkan sekitar 90% infrastruktur sipil.
Meskipun kesepakatan gencatan senjata telah berlaku sejak Oktober 2025, Israel secara konsisten melanggar poin-poin kesepakatan melalui pembatasan ketat pasokan bantuan, pembatasan pergerakan warga, serta operasi militer berkala yang terus memakan korban jiwa.










