GAZA — Di sudut sebuah bengkel kerja kecil di Al-Qarara, wilayah selatan Jalur Gaza, riuh kepulan debu timbal bersahutan dengan denting logam. Di sana, di antara tumpukan rongsokan dan lempengan timbal yang berserakan, Firas Battin menghabiskan hari-harinya. Pemuda berusia 28 tahun itu tengah sibuk membongkar cangkang-cangkang baterai bekas yang sudah mati.
Ia bukan pemulung biasa. Firas adalah salah satu potret dari daya tahan (resilience) warga Gaza yang menolak menyerah pada kegelapan. Di tengah blokade ketat dan krisis energi akut yang melumpuhkan wilayah kantong tersebut, lulusan Sarjana Administrasi Bisnis ini menyulap sampah baterai menjadi sumber listrik baru demi menyambung hidup warga sekitar.
Namun, ada satu hal yang membuat eksperimennya berbeda: ia melibatkan Kecerdasan Buatan (AI) sebagai “asisten” kuncinya.
AI sebagai “Konsultan Digital” di Tengah Keterbatasan
Bagaimana seorang pemuda di wilayah yang terisolasi dari rantai pasok global bisa merakit baterai dengan tingkat efisiensi tinggi? Jawabannya ada pada ponsel genggamnya.
Di luar jam kerjanya yang melelahkan di bengkel, Firas berselancar di dunia maya. Ia memanfaatkan algoritma AI dan video tutorial YouTube (terutama dari para praktisi daur ulang di India dan Pakistan) untuk membimbing setiap langkah teknisnya.
Firas mendokumentasikan setiap proses kerjanya lewat foto. Ia mengukur voltase baterai saat diisi ulang (charging) maupun saat digunakan (discharging), lalu memasukkan data-data tersebut ke aplikasi AI. Ia kerap melontarkan pertanyaan-pertanyaan spesifik:
- Mengapa terjadi penurunan voltase secara mendadak pada sel baterai?
- Berapa jumlah lempengan timbal ideal untuk kapasitas tertentu?
- Bagaimana formula kimia yang tepat untuk mengaktifkan kembali sel-sel timbal yang telah usang?
Bahkan, Firas kerap mengunggah foto lempengan timbal bagian dalam baterai agar AI bisa menganalisis tingkat kerusakan dan kelayakannya untuk digunakan kembali.
“AI bukan penentu akhir, tapi dia adalah titik awal eksperimen saya. Saya ambil teori kimianya, lalu saya uji langsung di bengkel dengan alat seadanya,” ujar Firas.
Berawal dari Kebutuhan Internet Rumah
Ide nekat ini tidak lahir dari ambisi bisnis, melainkan dari rasa frustrasi yang intim. Pemadaman listrik berkepanjangan di Gaza membuat Firas kesulitan mengakses internet di rumahnya.
Kebetulan, di lingkungan tempat tinggalnya dulu berdiri sebuah pabrik baterai lokal sebelum hancur lebur dihantam bom Israel, peristiwa tragis yang juga merenggut nyawa pemiliknya. Firas kemudian berdiskusi dengan mantan pekerja pabrik tersebut. Berbekal sisa-sisa pengetahuan mereka dan komponen dari baterai rusak, Firas berhasil merakit dua unit baterai pertamanya.
Eksperimen sederhana itu sukses besar. Mengetahui baterai baru hampir mustahil ditemukan di pasar Gaza akibat blokade total, Firas mulai berburu baterai rusak yang cangkang plastiknya pecah namun sel timbal di dalamnya masih utuh. Ia melebur timbal, mencetak jembatan logam penghubung sel, merakit kompartemen, hingga mengisi ulang cairan asam baterai secara manual.
Melihat performa baterai rakitan Firas yang tangguh, para tetangga dan kerabat mulai berdatangan untuk memesan. Dari sanalah bengkel kecilnya di Al-Qarara lahir.
Siasat Bertahan di Ruang Sempit
Jangan bayangkan bengkel Firas seperti pabrik manufaktur modern. Ruangannya sempit, tanpa lini produksi otomatis. Meja kerjanya hanya berupa drum bekas dan kursi plastik. Pekerjaan peleburan dan penyolderan dilakukan dengan alat-alat manual yang sangat sederhana.
Kesulitan terbesar yang dihadapinya bukanlah proses perakitan, melainkan kelangkaan bahan baku yang harganya meroket gila-gilaan karena blokade.
Sebagai contoh, separator (lembaran isolator khusus yang membatasi pelat positif dan negatif di dalam baterai agar tidak korsleting) sangat sulit didapat. Harga satu gulung separator yang hanya cukup untuk merakit 60 unit baterai kini menembus angka 30.000 shekel (sekitar 10.000 dolar AS atau Rp158 juta).
Selain itu, proses aktivasi sel baterai lama membutuhkan waktu pengisian daya (charging) yang sangat lambat, bisa memakan waktu hingga 12 hari untuk baterai berukuran besar agar selnya aktif kembali secara optimal. Karena listrik padam, Firas sepenuhnya bergantung pada panel surya.
“Secara teori, kami bisa merakit 3 baterai sehari. Tapi karena proses charging dan aktivasi sel yang memakan waktu berhari-hari, kami hanya bisa melepas beberapa unit saja ke pasar setiap minggunya,” keluh Firas.
Perbandingan Efisiensi dan Harga: Solusi di Tengah Cekikan Ekonomi
Meski dirakit secara manual di tengah keterbatasan ruang dan alat, baterai buatan Firas memiliki performa yang mengejutkan. Ia mengklaim efisiensi baterai buatannya mampu mencapai 75% hingga 80% dari kualitas baterai impor baru.
Bagi warga Gaza, baterai rakitan lokal ini adalah penyelamat hidup, mengingat harga pasar untuk baterai bekas impor yang masih layak pakai sudah tidak masuk akal.
Sebelum perang, baterai berkapasitas 200 Ah dalam kondisi baru atau hasil impor dijual dengan harga sekitar 300 hingga 500 dolar AS dan memiliki tingkat efisiensi 100 persen. Namun, baterai baru kini praktis tidak lagi tersedia atau sangat langka di pasar Gaza.
Sebagai alternatif, warga Gaza mengandalkan baterai impor bekas yang masih dalam kondisi baik. Meski memiliki tingkat efisiensi sekitar 90 persen, harganya melonjak drastis hingga berkisar antara 8.000 sampai 10.000 dolar AS.
Di tengah kelangkaan tersebut, sebagian warga mulai merakit baterai secara mandiri, seperti yang dilakukan Firas Battin. Baterai rakitan lokal dijual dengan harga sekitar 2.500 hingga 3.000 dolar AS dan memiliki tingkat efisiensi sekitar 75 hingga 80 persen, sehingga menjadi pilihan yang lebih terjangkau dibanding baterai impor bekas, meski performanya sedikit lebih rendah.
Meski harga baterai rakitan Firas melonjak dibanding era sebelum perang akibat meroketnya harga timbal mentah (dari $1,25 per kg menjadi $6,5 per kg), harganya masih jauh lebih terjangkau dibandingkan baterai selundupan yang tersisa di pasar.
Baterai-baterai dari bengkel Al-Qarara ini kini tidak hanya menerangi rumah-rumah tangga miskin di Gaza, tetapi juga menghidupkan kembali pompa air bersih, menyokong sistem panel surya klinik medis, hingga menjaga roda perekonomian bengkel-bengkel kecil lainnya agar tetap berputar di bawah bayang-bayang blokade.










