PALESTINA — Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, memicu kecaman internasional setelah secara terbuka memamerkan kehancuran total di Jalur Gaza utara sebagai “hasil dari kebijakan yang terencana.” Di hadapan kamera, Katz tanpa ragu menyatakan bahwa menyaksikan pemandangan puing-puing bangunan dan penderitaan warga Gaza memberikan “perasaan yang baik” bagi dirinya.

Pernyataan kontroversial tersebut disampaikan Katz dalam sebuah wawancara eksklusif di sela-sela tur militernya di Jalur Gaza utara, yang disiarkan oleh stasiun televisi sayap kanan Israel, Channel 14.

Tidak hanya membual soal kehancuran fisik Gaza, Katz juga membeberkan cetak biru strategis baru pertahanan Israel: membangun kehadiran Yahudi permanen dengan mendirikan tiga pos permukiman militer baru di wilayah utara kantong yang terkepung tersebut.

Doktrin Baru: Hancurkan Rumah, Usir Warga

Saat jurnalis Channel 14 menanyakan bagaimana perasaannya melihat lanskap Gaza utara yang kini rata dengan tanah, Katz menjawab dengan dingin.

“Itu memberikan perasaan yang baik, bukan?” ujar Katz, mengklaim bahwa kehancuran masif ini bukanlah dampak ikutan perang (collateral damage), melainkan strategi sadar. “Semua ini adalah hasil dari kebijakan terencana yang bertujuan untuk melenyapkan setiap potensi ancaman.”

Katz menjelaskan adanya pergeseran doktrin militer Israel di Gaza. Jika sebelumnya militer menggunakan taktik ofensif kilat (masuk, menyerang, lalu keluar) kini strategi tersebut diubah menjadi pendudukan permanen.

“Alih-alih metode penyerangan masuk-keluar, sekarang tentara Israel berada di dalam, para perusak (pejuang Palestina) berada di luar, dan rumah-rumah mereka telah dihancurkan,” kata Katz tanpa beban.

Channel 14 melaporkan bahwa momen paling krusial dalam tur tersebut adalah ketika Katz memaparkan tujuan strategis jangka panjang Israel, yaitu menegakkan kontrol demografis dan militer mutlak di Gaza utara.

Menghidupkan Kembali Proyek Kolonialisme ‘Nahal’

Untuk merealisasikan kontrol permanen tersebut, Katz mengumumkan rencana pembentukan tiga pos terdepan kelompok Nahal di lokasi-lokasi strategis Gaza utara, wilayah yang sebenarnya telah dikosongkan dari permukiman Yahudi sejak kebijakan penarikan mundur Israel tahun 2005 silam.

Secara historis, kelompok ini memiliki peran spesifik dalam proyek pendudukan tanah Palestina:

  • Karakter Kelompok: “Nahal” adalah unit pemuda paramiliter pertahanan sipil yang menggabungkan wajib militer dengan pendirian permukiman pertanian.
  • Fungsi Taktis: Secara historis sejak era 1950-an, kelompok ini digunakan oleh Israel untuk mendirikan pos-pos militer awal di wilayah perbatasan atau tanah rampasan baru, yang lambat laun diubah statusnya menjadi pemukiman sipil permanen.
  • Dalih Keamanan: Katz mengklaim langkah kolonisasi ini krusial untuk memperkuat pertahanan dan menjamin keamanan kota-kota Israel di dekat perbatasan Gaza.

Gencatan Senjata yang Dikoyak Saban Hari

Pernyataan jemawa Katz ini bergulir di tengah fakta lapangan yang menunjukkan bahwa Israel secara konsisten terus mengoyak kesepakatan gencatan senjata yang secara resmi berlaku sejak 10 Oktober 2025.

Berdasarkan data pembaruan dari Kementerian Kesehatan Palestina, pelanggaran harian yang dilakukan militer Israel pasca-deklarasi gencatan senjata telah memakan korban yang sangat masif. Hingga pekan ini saja, tercatat:

  • 1.108 warga Palestina gugur akibat serangan udara, artileri, dan tembakan penembak runduk.
  • 3.578 warga terluka, sebagian besar adalah wanita dan anak-anak di kamp pengungsian darurat.

Pengakuan terbuka dari menteri pertahanan Israel ini kian mempertegas kecurigaan global: bahwa jeda kemanusiaan atau kesepakatan damai yang ditandatangani di atas meja diplomasi internasional hanyalah taktik ulur waktu bagi Tel Aviv, sementara di lapangan, proyek aneksasi tanah dan genosida warga Gaza terus berjalan tanpa interupsi.

(Sumber: Al Jazeera / Kantor Berita Anadolu)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here