WASHINGTON — Suara Pendeta Fahd Abu Akel bergetar saat berdiri di atas mimbar salah satu gereja Protestan terbesar di Amerika Serikat. Pria Palestina-Amerika yang selamat dari tragedi Nakba 1948 itu menjadi saksi mata dari apa yang ia sebut sebagai momen bersejarah: Majelis Umum Gereja Presbiterian Amerika Serikat (Presbyterian Church USA) secara resmi menetapkan serangan militer Israel di Jalur Gaza sebagai tindakan “genosida”.
Keputusan ini bukan sekadar pernyataan teologis biasa. Ini adalah manifesto politik dan moral dari sebuah lembaga keagamaan yang memiliki ratusan ribu jemaat dan pengaruh kuat dalam lanskap sosial-politik di Washington.
Pendeta Fahd, yang juga merupakan orang Arab-Palestina pertama yang pernah memimpin denominasi Protestan utama di AS ini, mengungkapkan bahwa resolusi tersebut disahkan dengan kemenangan telak. Sebanyak 97 persen anggota Majelis Umum memilih mendukung, dan hanya 14 suara yang menolak. Sebuah konsensus yang hampir mutlak di tengah polarisasi isu Timur Tengah di Amerika.
Menurut Fahd, kekuatan gereja tidak terletak pada kepemilikan senjata atau instrumen kekuasaan politik, melainkan pada “kekuatan kata-kata” untuk menyuarakan keadilan. Ia menegaskan, isu Palestina bukan sekadar persoalan umat Islam, tetapi masalah kemanusiaan universal yang juga dirasakan langsung oleh umat Kristen Palestina.
“Menjadi seorang Kristen, dalam pandangan kami, sama sekali tidak bisa berjalan beriringan dengan adopsi ideologi Zionisme. Membela hak-hak warga Palestina adalah bentuk nyata dari penerapan nilai-nilai dasar ajaran Kristiani,” tegas Pendeta Fahd.
Menembus Jantung Publik Amerika
Menganalisis dampak dari keputusan ini, Philip Farah, Ketua Dewan Direksi Aliansi Kristen-Palestina untuk Perdamaian (Palestinian Christian Alliance for Peace), menilai langkah ini sebagai sinyal penting. Ketika isu Palestina mulai merangsek masuk ke dalam mimbar-mimbar gereja arus utama, artinya isu tersebut telah menyentuh basis terdalam masyarakat Amerika. Hal ini disinyalir akan memaksa Kongres dan para pengambil kebijakan di Washington untuk mengubah cara pandang mereka.
Philip menjelaskan bahwa aliansi yang dipimpinnya telah bertahun-tahun bekerja untuk membangun kesadaran kolektif di dalam institusi keagamaan AS. Upaya tersebut sebelumnya telah berhasil mendorong beberapa gereja Protestan untuk menarik investasi (divestment) dari perusahaan-perusahaan internasional yang meraup keuntungan dari pendudukan ilegal Israel di tanah Palestina.
Dukungan tanpa syarat kepada Israel di kalangan kelompok Kristen Evangelis AS dilaporkan terus menyusut akibat tekanan publik. Fenomena ini berjalan beriringan dengan menguatnya simpati terhadap Palestina di Kongres, khususnya di faksi Partai Demokrat, bahkan mulai merembet ke beberapa figur berpengaruh di sayap kanan politik Amerika.
Boikot, Embargo Senjata, dan Tolak Antisemitisme
Resolusi yang diterbitkan oleh Gereja Presbiterian ini tidak hanya berhenti pada pelabelan “genosida”. Secara konkret, naskah resolusi tersebut juga memuat desakan keras untuk:
- Memberlakukan embargo pasokan senjata secara total ke Israel.
- Menyerukan kepada seluruh jemaat untuk memboikot produk-produk yang terafiliasi dengan pelanggaran hukum internasional di wilayah pendudukan.
- Mengutuk keras segala bentuk sentimen anti-Islam (Islamofobia) sekaligus rasisme anti-Yahudi (Antisemitisme).
Gereja menegaskan secara tertulis bahwa kritik terbuka terhadap kebijakan pemerintah Israel sama sekali tidak bisa dikategorikan sebagai tindakan antisemitisme. Di sisi lain, resolusi tersebut juga mengecam keras aksi kekerasan yang dilakukan oleh semua pihak, termasuk serangan pemukim ilegal Yahudi di Tepi Barat yang diduduki.
Langkah berani ini langsung disambut baik oleh Dewan Hubungan Amerika-Islam (Council on American-Islamic Relations/CAIR) yang menyebutnya sebagai keputusan bersejarah. Bagi para pengamat, transformasi di dalam institusi gereja ini adalah indikator valid bahwa perdebatan mengenai krisis Gaza tidak lagi terkunci di ruang sidang hak asasi manusia atau perdebatan parlemen, melainkan telah menjadi gerakan moral yang menggugah kesadaran spiritual publik Amerika.
Sumber Bahan: Al Jazeera & Pers Domestik AS










