DEIR AL-BALAH — Liang lahat itu sudah digali sejak sepekan lalu. Letaknya hanya berjarak sekitar 300 meter dari tempat Muhammad Abu Khammash terkapar tak bernyawa setelah diterjang peluru tentara Israel. Namun, bagi sang ayah, Auda Abu Khammash, jarak 300 meter itu terasa seperti ribuan mil yang mustahil ditempuh.
Selama sembilan hari, jenazah Muhammad dibiarkan membusuk di bawah terik matahari di wilayah timur Deir al-Balah, Jalur Gaza tengah. Area tersebut masuk dalam apa yang disebut sebagai “Zona Kuning”, sebuah wilayah mematikan yang berada di bawah kendali penuh militer Israel. Siapa pun yang mendekat, peluru tajam taruhannya.
Tragedi ini memuncak ketika sebuah kantong jenazah hitam tiba di Rumah Sakit Syuhada al-Aqsa. Bukan jasad utuh yang diterima sang ibu, melainkan sisa-sisa jenazah putranya yang telah terurai. Tangis sang ibu pecah saat ia merengkuh dan mencium kantong hitam itu, sebuah pelukan terakhir yang terlambat sembilan hari.
Bendera Putih di Jalur Maut
Sebelum evakuasi berhasil dilakukan, sang ayah sempat menuangkan keputusasaan yang mendalam melalui akun media sosialnya. Sebuah tulisan yang merangkum betapa murahnya harga nyawa warga Palestina di mata hukum pendudukan.
“Kuburan anak saya sudah digali, jasadnya tergeletak tak sampai 300 meter dari sini sejak Jumat malam lalu. Kuburan itu tetap terbuka. Mau saya beri tahu yang lebih menyakitkan? Istri saya telah mengibarkan bendera putih di gerbang Garis Kuning selama dua hari. Dia pergi subuh dan baru kembali magrib… Saya lelah dengan belas kasihan tanpa tindakan,” tulis Auda saat itu.
Auda menambahkan, Muhammad sebenarnya adalah seorang penyandang disabilitas mental. Ia tidak bersenjata dan tidak menimbulkan ancaman. Kasus seperti ini bukan yang pertama. Sebelum Muhammad, seorang warga pengidap gangguan jiwa lainnya bernama Abdullah Abu Khammash, serta seorang anak kecil bernama Abu al-Ajeen bersama ayahnya, juga tewas ditembak di barat Garis Kuning.
Sembilan hari lamanya keluarga Abu Khammash mengetuk pintu organisasi internasional dan lembaga kemanusiaan, memohon koridor aman hanya untuk mengambil jenazah. Namun, birokrasi internasional kalah cepat dengan proses pembusukan alami di medan perang.
Simbol Kekejaman yang Melampaui Kematian
Momen memilukan saat sang ibu menerima kantong hitam tersebut didokumentasikan oleh jurnalis Gaza, Osama al-Kahlout. Evakuasi baru bisa berjalan setelah adanya koordinasi rumit yang akhirnya mengizinkan sang ibu menembus jalur maut tersebut. Bagi ibu ini, Muhammad adalah anak ketiga yang harus ia antarkan ke liang lahat selama konflik teror ini.
Tayangan tersebut langsung memicu gelombang kemarahan dan simpati luas di ruang digital. Pendiri organisasi hak asasi manusia Euro-Med Monitor, Ramy Abdu, turut berkomentar keras atas peristiwa ini.
“Jika Anda punya hati, saya tantang Anda melihat ini tanpa meneteskan air mata. Ibu ini membawa sisa-sisa jasad anaknya yang hancur setelah tim penyelamat dilarang menjangkaunya. Inilah potret cinta seorang ibu di Gaza di tengah genosida yang tak tertahankan,” tegas Ramy.
Jurnalis Palestina lainnya, Muhammad Hanieh, menuliskan bahwa realitas di Gaza telah melampaui batas imajinasi penulis fiksi mana pun. “Di Gaza, kisah-kisah kami tidak akan pernah terpikirkan oleh penulis atau sutradara film mana pun. Tidak ada tragedi yang menyerupainya.”
Kematian yang Terus Berlanjut di Bawah Gencatan Senjata
Kisah memilukan Muhammad Abu Khammash adalah puncak gunung es dari ribuan jenazah warga Palestina yang tertahan di zona-zona militer Israel. Banyak keluarga yang terpaksa membiarkan orang-orang tercinta mereka membusuk di jalanan atau di bawah reruntuhan karena ambulans dan tim penyelamat ditembaki secara sistematis jika nekat mendekat.
Tragedi ini terasa semakin getir karena terjadi di tengah klaim kesepakatan gencatan senjata yang diumumkan sejak Oktober lalu. Di atas kertas, perang mungkin disebut mereda, namun di lapangan, blokade bantuan dan serangan udara berkala oleh Israel tetap berjalan.
Berdasarkan data resmi otoritas kesehatan Palestina, sejak kesepakatan gencatan senjata diumumkan, setidaknya 1.084 warga Palestina tetap tewas dan 3.491 lainnya luka-luka akibat pelanggaran konstan di lapangan. Mayoritas korban, lagi-lagi, adalah perempuan dan anak-anak yang terjebak dalam lingkaran kekerasan tanpa akhir.
Sumber Bahan: Media Massa Palestina










