AL-QUDS — Di permukiman Batn al-Hawa, kawasan Silwan (sebuah wilayah yang menjadi benteng penyangga kompleks Masjid Al-Aqsa) ruang gerak warga Palestina kian hari kian dipersempit. Di bawah cengkeraman pendudukan Israel, aturan ketat tidak hanya berlaku bagi orang dewasa. Anak-anak kecil pun harus berhadapan dengan moncong senjata, bahkan hanya untuk urusan sederhana, bermain.
Nasib nahas ini menimpa Muhammad. Bocah laki-laki ini mendadak disergap dan diringkus oleh pasukan keamanan Israel dari tengah lapangan saat sedang asyik bermain sepak bola bersama teman-temannya di dekat rumah. Tanpa ampun, ia langsung digiring masuk ke dalam kendaraan militer dan dibawa menuju salah satu markas interogasi di Al-Quds.
Dihujani Makian Hanya karena Bola
Dengan nada bicara yang masih terbata-bata (khas anak seusianya yang baru saja mengalami trauma hebat) Muhammad menceritakan kembali detik-detik mencekam itu kepada Al Jazeera Net.
Sebuah jip militer mendadak mengerem tepat di depannya. Sejumlah serdadu turun dan langsung mencengkeram tubuhnya. Ia ditahan di dalam mobil patroli selama sekitar satu jam yang terasa sangat menyiksa secara psikis. Alasannya sepele, bola tendangan Muhammad dan kawan-kawannya dinilai terbang terlalu dekat dan hampir mengenai mobil polisi Israel yang sedang berpatroli.
Selama berada di bawah penguasaan tentara, Muhammad mengaku terus-menerus ditekan secara verbal.
“Ada seorang tentara wanita yang sepanjang jalan terus memaki saya dengan kata-kata kotor. Saya terlalu malu untuk mengulanginya lagi,” ungkap Muhammad lirih.
Penahanan Muhammad memang tidak berlangsung sampai berhari-hari. Ia akhirnya dilepaskan dan dikembalikan ke keluarganya. Namun, kebebasan itu dibayar mahal dengan rentetan ancaman dan intimidasi psikologis yang membekas. “Mereka cuma tidak mau melihat saya bermain lagi,” cetusnya.
Anak-Anak di Garis Depan Penindasan
Apa yang dialami Muhammad bukanlah kasus tunggal, melainkan cerminan dari pola penindasan yang sistematis. Otoritas pendudukan Israel secara agresif menyasar anak-anak Arab di Al-Quds. Berbagai lembaga hak asasi manusia (HAM) Palestina mendokumentasikan taktik penindasan ini, mulai dari penangkapan acak, penahanan kilat, kekerasan fisik langsung, pemberlakuan tahanan rumah (house arrest), hingga pembiaran atas aksi kekerasan yang dilakukan oleh kelompok pemukim ilegal Yahudi, terutama di area Kota Tua Yerusalem.
Silwan sendiri merupakan target utama penggusuran. Menurut data dari peneliti urusan Al-Quds, Fakhri Abu Diab, sekitar 40% bangunan sipil di Silwan berada di bawah ancaman pembongkaran atau pengosongan paksa. Langkah ini disinyalir sebagai bagian dari rencana besar untuk mengikis identitas Arab dan Islam di wilayah yang berbatasan langsung dengan Al-Aqsa tersebut.
Data lembaga hak asasi manusia Palestina menunjukkan bahwa saat ini terdapat sekitar 9.500 tahanan politik Palestina di penjara-penjara Israel. Dari jumlah tersebut, 360 orang di antaranya merupakan anak-anak di bawah umur, yang turut menjalani penahanan di tengah meningkatnya penangkapan terhadap warga Palestina di Al-Quds dan wilayah pendudukan lainnya.
Bagi anak-anak seperti Muhammad, jalanan di depan rumah mereka kini bukan lagi tempat yang aman untuk mengejar bola. Di sana, sebuah tendangan bola yang meleset bisa berakhir dengan borgol, bentakan, dan hilangnya hak paling mendasar untuk menikmati masa kecil.









